"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"
Tips Mencuri Hati Penerbit
undefined
undefined
Mencari penerbit untuk menerbitkan naskah yang kita tulis ibarat mencari pacar. Sehingga langkah-langkah yang perlu dipraktikkan pun hampir serupa dengan langkah-langkah untuk menggaet pacar.
Yang pertama, tentu kita harus menentukan si target dulu. Pastikan akan ke penerbit mana Anda mengirimkan karya. Seorang (calon) penulis harus mengirimkan karyanya ke penerbit yang tepat. Jangan, misalnya, mengirim naskah Beternak Kambing Jantan ke GagasMedia. Sebab GagasMedia kan bukan buku pertanian atau peternakan. Tahukah Anda, mengirimkan naskah ke penerbit yang tepat sudah memudahkan seperempat dari langkah Anda.
Tinggal gali informasi sebanyak-banyaknya tentang si dia (penerbit). Saat ingin melakukan PDKT terhadap seseorang, kita bakal mencari tahu apa-apa tentang dia, bukan? Nah, hukum ini juga berlaku di dunia penerbitan. Begitu informasi yang terkumpul dirasa cukup, rancang jurus jitu buat PDKT. Pertimbangkan langkah-langkah di bawah ini untuk menarik perhatian si target:
1. Siapkan naskah sebaik mungkin. Ketik rapi. Hindari menulis tangan. Jangan mengirimkan naskah yang sepotong-sepotong atau yang belum selesai. Penuhi spesifikasi naskah yang mereka minta. Dengan memenuhi syarat pengiriman naskah, paling tidak naskah Anda sudah bisa lolos ke tahap seleksi berikutnya.
2. Kemas dengan menarik. Jilid yang rapi, agar si editor mudah membacanya. Kalau perlu beri sampul yang lucu dan menarik sehingga naskah itu tampak menonjol di antara ratusan naskah yang masuk lainnya.
3. Sertakan sinopsis karya Anda. Beritahu mereka apa yang menjadi keunggulan naskah itu sehingga layak diterbitkan. Tidak ada salahnya juga Anda memberikan presentasi cara mempromosikan buku tersebut kelak.
4. Jangan lupa, sertakan data diri agar bisa dihubungi kapan pun oleh penerbit. Jika memungkinkan, lengkapi juga dengan alamat email, rumah, dan nomor telepon alternatif. Ingat, tidak perlu mencantumkan nomor rekening bank.
5. Judul itu penting banget! Editor suka ilfeel begitu melihat naskah yang tak berjudul.
6. Bila perlu, presentasikan langsung naskah Anda ke penerbit. Datangilah kantor redaksinya dan minta bertemu dengan editornya. Tapi jangan terkesan memaksa. Bagaimanapun, pekerjaan sehari-hari Editor cukup banyak. Menghadapi penulis yang terlalu memaksa dan terlalu pede kadang bikin dia ilfeel. Jadi, kunjungilah Editor pada jam yang pas.
Sesudah semua langkah itu, tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain menunggu jawaban. Tentu saja si dia tidak dapat langsung menjawab saat itu juga. You should give him/her a time. Oleh karena itu, setelah memasukkan naskah, tanyakan saja kapan Anda bisa memperoleh iya-tidaknya.
Tunggulah jawaban dari penerbit dengan sabar. Jangan terlalu sering merongrong. Bayangkan saja dalam dunia perpacaran: Apa yang terjadi kalau Anda terlalu ngebet minta jawaban? Sang gebetan bisa-bisa malah ngacir. Jadi, tagihlah jawaban sesuai dengan waktu yang dijanjikan.
Andai jawaban itu pada akhirnya ialah tidak, jangan patah semangat. Ditolak memang tidak enak rasanya. Tapi, Anda memang tak boleh lantas patah semangat. Tanyakan kepada penerbit alasan penolakan tersebut. Adalah hak kita kok untuk mengetahuinya. Minta mereka menjelaskan. Kalau revisi dimungkinkan, cobalah lakukan.
Yang penting, teruslah belajar. Biasanya Editor jadi hapal dengan penulis yang terus-menerus mengirimkan naskah, meski ditolak. Ini justru akan membuat editor itu mengamati perkembangan kemampuan menulis Anda.
Selamat mencoba!
Oleh: Windy Ariestanty (Pimred GagasMedia)
Yang pertama, tentu kita harus menentukan si target dulu. Pastikan akan ke penerbit mana Anda mengirimkan karya. Seorang (calon) penulis harus mengirimkan karyanya ke penerbit yang tepat. Jangan, misalnya, mengirim naskah Beternak Kambing Jantan ke GagasMedia. Sebab GagasMedia kan bukan buku pertanian atau peternakan. Tahukah Anda, mengirimkan naskah ke penerbit yang tepat sudah memudahkan seperempat dari langkah Anda.
Tinggal gali informasi sebanyak-banyaknya tentang si dia (penerbit). Saat ingin melakukan PDKT terhadap seseorang, kita bakal mencari tahu apa-apa tentang dia, bukan? Nah, hukum ini juga berlaku di dunia penerbitan. Begitu informasi yang terkumpul dirasa cukup, rancang jurus jitu buat PDKT. Pertimbangkan langkah-langkah di bawah ini untuk menarik perhatian si target:
1. Siapkan naskah sebaik mungkin. Ketik rapi. Hindari menulis tangan. Jangan mengirimkan naskah yang sepotong-sepotong atau yang belum selesai. Penuhi spesifikasi naskah yang mereka minta. Dengan memenuhi syarat pengiriman naskah, paling tidak naskah Anda sudah bisa lolos ke tahap seleksi berikutnya.
2. Kemas dengan menarik. Jilid yang rapi, agar si editor mudah membacanya. Kalau perlu beri sampul yang lucu dan menarik sehingga naskah itu tampak menonjol di antara ratusan naskah yang masuk lainnya.
3. Sertakan sinopsis karya Anda. Beritahu mereka apa yang menjadi keunggulan naskah itu sehingga layak diterbitkan. Tidak ada salahnya juga Anda memberikan presentasi cara mempromosikan buku tersebut kelak.
4. Jangan lupa, sertakan data diri agar bisa dihubungi kapan pun oleh penerbit. Jika memungkinkan, lengkapi juga dengan alamat email, rumah, dan nomor telepon alternatif. Ingat, tidak perlu mencantumkan nomor rekening bank.
5. Judul itu penting banget! Editor suka ilfeel begitu melihat naskah yang tak berjudul.
6. Bila perlu, presentasikan langsung naskah Anda ke penerbit. Datangilah kantor redaksinya dan minta bertemu dengan editornya. Tapi jangan terkesan memaksa. Bagaimanapun, pekerjaan sehari-hari Editor cukup banyak. Menghadapi penulis yang terlalu memaksa dan terlalu pede kadang bikin dia ilfeel. Jadi, kunjungilah Editor pada jam yang pas.
Sesudah semua langkah itu, tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain menunggu jawaban. Tentu saja si dia tidak dapat langsung menjawab saat itu juga. You should give him/her a time. Oleh karena itu, setelah memasukkan naskah, tanyakan saja kapan Anda bisa memperoleh iya-tidaknya.
Tunggulah jawaban dari penerbit dengan sabar. Jangan terlalu sering merongrong. Bayangkan saja dalam dunia perpacaran: Apa yang terjadi kalau Anda terlalu ngebet minta jawaban? Sang gebetan bisa-bisa malah ngacir. Jadi, tagihlah jawaban sesuai dengan waktu yang dijanjikan.
Andai jawaban itu pada akhirnya ialah tidak, jangan patah semangat. Ditolak memang tidak enak rasanya. Tapi, Anda memang tak boleh lantas patah semangat. Tanyakan kepada penerbit alasan penolakan tersebut. Adalah hak kita kok untuk mengetahuinya. Minta mereka menjelaskan. Kalau revisi dimungkinkan, cobalah lakukan.
Yang penting, teruslah belajar. Biasanya Editor jadi hapal dengan penulis yang terus-menerus mengirimkan naskah, meski ditolak. Ini justru akan membuat editor itu mengamati perkembangan kemampuan menulis Anda.
Selamat mencoba!
Oleh: Windy Ariestanty (Pimred GagasMedia)
12.45 | Labels: 3. Artikel, Pena Kun-Geia |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
- Menjadi seperti anak kecil
- Dahsyatnya Bershalawat
- Raja Diraja
- Melihat Rasulullah dalam Tidur
- Selamat Ulang Tahun, Wahai kasihku Rasulullah….
- 70 Malaikat perlu 1000 hari untuk menulis pahala amalan ini
- Diberikan kunci Surga dan diharamkan dari api neraka, mau?
- Ketaqwaan yang Aku Cari, Bukan Kata Kata Basi
- Kata Maestro Sastra Indonesia; Ini BENCANA Besar!
- Wahai Kekasihku
- Proses Kreatif Pembuatan THE LOST JAVA
- Lomba Renensi THE LOST JAVA
- The Lost Java - Kun Geia
- THE LOST JAVA - Testimoni Rini Selly
- THE LOST JAVA - testimoni Dila Saktika Negara
- 1. Puisi (89)
- 12 rabiul awal (1)
- 2. Cerpen (61)
- 3. Artikel (30)
- 4. Pena Laboratory (4)
- 5. Resensi (7)
- 6. Download (2)
- Dzikir (1)
- Fiksi (2)
- Indonesia Bershalawat (5)
- lomba (2)
- muaulid (1)
- Muhammad (1)
- Novel (2)
- Pena Chiaki (1)
- Pena Choop (4)
- Pena Depiyh (15)
- PENA Kahlil Gibran (3)
- Pena Kun Geia (1)
- Pena Kun-Geia (153)
- Pena Langit Senja (7)
- Pena Lies (5)
- Pena Mei (7)
- Pena Sashca (5)
- PENA Tere-Liye (4)
- Rasulullah (1)
- The Lost Java (1)
Arsip
- November 2020 (4)
- Oktober 2020 (1)
- Agustus 2019 (2)
- Februari 2015 (1)
- Mei 2013 (1)
- Agustus 2012 (1)
- Juli 2012 (2)
- Juni 2012 (1)
- April 2012 (2)
- Desember 2010 (1)
- Agustus 2010 (2)
- Juli 2010 (7)
- Juni 2010 (1)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (2)
- Maret 2010 (5)
- Februari 2010 (6)
- Januari 2010 (1)
- Oktober 2009 (3)
- September 2009 (6)
- Agustus 2009 (16)
- Juli 2009 (15)
- Juni 2009 (8)
- Mei 2009 (7)
- April 2009 (26)
- Maret 2009 (15)
- Februari 2009 (34)
- Januari 2009 (22)
- Desember 2008 (1)
- November 2008 (6)
- Oktober 2008 (19)
0 comments:
Posting Komentar