"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"

Ketaqwaan yang Aku Cari, Bukan Kata Kata Basi

Flash cerpen ini adalah kisah fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh, karakter, atau alur, itu semata hanya KESENGAJAAN belaka agar pembacanya sadar.

(♂): "Kau lah belahan hatiku..."
(♀): "maaf, aku bukan tukang jagal pasar yang suka belah-belah organ dalam."
(♂): "Kaulah tulang rusukku yang hilang"
(♀): "nuduh ya? maaf, aku bukanlah pencuri karena tidak pernah merasa mengambil tulang rusuk punya orang."
(♂): "Kaulah hidup dan matiku"
(♀): "Hus...!!! aku bukanlah Tuhan yang memiliki kekuasaan menghidupkan dan mematikan."
(♂): "Kaulah separuh napasku"
(♀): "Enak aja... aku bukan tabung oksigen."
(♂): "Kaulah bidadariku"
(♀): "Whew... emang pernah liat bidadari? maaf aku ini manusia, bukan mahluk gaib."
(♂): "Kau lah..."
(♀): "sudah cukup... tak usah banyak kata, jika agamamu baik, kenapa pula kau datangi aku dengan kalimat-kalimat itu, bukannya kau datangi orang tuaku, maaf... kata-katamu takkan mempu membuka gerbang hatiku, ketakwaan yang aku cari bukan kata-kata basi..."
(♂): hiks... hiks... T_T


by: Kun Geia

NB: catatan lamaku yang dipindahkan dari dari blog terdahulu yang sudah terhapus: maribershalawat.multiply.com

Read More...

Kata Maestro Sastra Indonesia; Ini BENCANA Besar!


Izinkan aku untuk berbagi, karena saat itu tidak semua orang bisa hadir bersama kami, termasuk Anda juga.

Ini bukan mengenai sesuatu yang tabu atau apapun yang akan dianggap tidak perlu, ini tentang pertemuan kami dengan pejuang pena yang telah mengharumkan nama bangsa ke seantro dunia. Ini mengenai curahan hati seorang maestro sastra Indonesia, tentang kasih sayang seorang kakek untuk cucu-cucu zaman, tentang guru terbaik yang dibagikan kepada kami melalui penggalan-penggalan PENGALAMANnya.

Tiga hari sebelum tulisan ini dibidani dari rahim inspirasi, terdengar kabar sang maestro akan mengisi sebuah acara di salah satu universitas negeri yang ada di Yogyakarta. Saudara-saudara dari Forum Lingkar Pena Yogyakarta langsung menghubungi panitia, melobi mereka untuk meminta sedikit waktu agar bisa bersua dengan sang bintang tamu.

Hari pertama kedatangan beliau ke kota budaya ini, kami gagal bertemu. Setali tiga uang di hari kedua. Dan… esoknya, pagi-pagi di hari dimana beliau akan meninggalkan Yogyakarta, kami berkenan untuk dipertemukan dengan beliau.

Perbincangan itu dimulai.

“Malas membaca!” di awal ucapan, beliau langsung menghentak alam sadar kami dengan nada tinggi, tidak menyerupai bentakan, namun lebih seperti memperingatkan. “Itu penyakit Bangsa yang belum juga dapat diatasi sampai hari ini. Kurikulum sekolah, kebijakan pemerintah, fasilitas penunjang, bahkan sampai lingkungan sekitar pun ikut-ikutan menjadi penyebab utama tidak majunya kecintaan masyarakat kita pada dunia membaca.”

Beliau menurunkan tekanan suara, dari wajah yang tadi kentara memperlihatkan keprihatinan, sedikit-demi sedikit luntur tersapu senyum khasnya. Dan… satu cambukan kembali mendarat di alam sadar kami, “Membaca saja begitu, jangan tanyakan untuk semangat menulis.”

Kami semua mengangguk, dan memang tidak ada keraguan untuk mengamini arti kebenaran dari ucapan beliau.

“Anda semua pasti sudah sangat paham bahwa modal pertama untuk mengarang adalah dimulai dari membaca.” Kembali senyum khas menghiasi untaian kalimat yang dirangkainya. Sejujurnya, aku sudah menyadari bahwa diri ini… terhipnotis kharismanya.

“Yang dibaca adalah apa saja yang dilihat, baca semua itu dengan benar. Yang dibaca adalah pengalaman hidup yang sudah dituliskan orang. Yang dibaca adalah kabar dari zaman untuk generasi Anda dan setelah Anda.”

Baik, sebelum dilanjutkan, aku ingin mengingatkan kembali bahwa tulisan ini tentang proses, ini tentang transfer pengalaman, ini tentang upaya menyambung generasi, ini tentang pertautan hati untuk keberlagsungan perjuangan di beda zaman. Ini untuk kami, Anda, dan Indonesia, bahkan dunia. Pahami ini ketimbang menyesal kemudian karena tidak dapat isi yang sesuai tatkala menyelesaikan bacaan. Pilihannya dua, lanjutkan membaca atau tinggalkan sama sekali mulai dari paragraf ini.

“Modal kedua adalah latihan menulis, terus dan terus. Dan, pelajaran menulis yang paling vital harusnya terjadi di sekolah.” Beliau menghela napas panjang. “Lantas apa yang terjadi sekarang? Sebelum ke sana, saya akan bercerita dulu tentang masa lalu.”

Beliau memperbaiki posisi duduk, bisa jadi ingin mempersiapkan diri untuk suatu kabar besar yang akan dihantarkan ke gendang-gendang telinga kami.

“Pemerintah kolonial menyediakan sekolah-sekolah untuk anak jajahan. Bayangkan, ini dilakukan oleh penjajah untuk orang-orang yang sedang dirampoknya.” Gir dan pengungkit di dalam otakku langsung begerak, mencoba mencerna kekuatan kata, menyediakan sekolah untuk anak jajahan, sekali lagi mekanisme mesin dalam otakku berputar untuk empat kata, sekolah untuk anak jajahan. Diksi yang istimewa.

“Di sekolah-sekolah itu, kewajiban membaca buku dalam waktu tiga tahun adalah dua puluh lima judul buku. Sembilan buku di tahun pertama, delapan di tahun kedua, dan delapan di tahun ketiga. Anda semua tau kesemuanya ditulis dalam berapa bahasa? Kedua puluh lima judul buku itu tertulis dalam tiga bahasa, Belanda, Inggris, dan Prancis atau Jerman. Tidak ada karya sastra berbahasa Indonesia yang diajarkan saat itu.”

Aku menerka bahwa beliau akan menanyakan, berapa buku wajib baca yang diterapkan sekolah-seolah kami dulu sewaktu SMA? Terkaanku benar, dan keprihatinanku berwujud nyata, bahwa dari kami semua yang berbicara, jawabannya sama, NOL.

“Di sekolah-sekolah kolonial itu, para murid wajib menulis satu tulisan setiap minggu, sekitar dua halaman. Mereka akan menulis di rumah, besoknya disetorkan pada guru, dinilai dan dikomentari, kemudian dikembalikan pada murid.” Ekspresi beliau mulai terbaca akan kembali menggebu. “Kita hitung, dalam satu semester akan terlahir delapan belas tulisan. Dalam setahun tiga puluh enam tulisan. Dalam tiga tahun, sudah terkumpul seratus delapan belas tulisan.”

Benar dugaanku, ekspresi beliau menggebu, tekanan nada suaranya lebih kentara. Aku dipaksa untuk tidak berkedip, bahkan sekedar menarik napas pun dirasa sayang karena konsentrasi akan terbagi untuk beberapa kegiatan yang dilakukan bersamaan. Sayang jika detik-detik mahal ini terlewati tanpa arti. Saudara-saudaraku yang hadir? Aku kira apa yang kurasakan mereka pun turun terlibat di batin masing-masing.

Dan, kulihat beliau menarik napas dalam, lengkingan menyusul kemudian, “Apa yang terjadi sekarang? NOL! NOL!”

Bulu kuduk berdiri, serempak memberi hormat. Suara selanjutnya yang keluar memang tidak lagi melengking, tapi tekanan nada kata-katanya, menggetarkan isi dada ini, “Dari sistem itulah lahir generasi emas! Seokarno! Hatta! Agus Salim! Mohammad Natsir! Dan masih banyak lagi mansia-manusia brilian yang hadir di tanah bangsa dari sebuah kecintaan terhadap buku dan tulisan.”

Ketika menatap beliau berbicara, ketika telinga mendengar kata-demi kata keluar dari ucapannya, hati berkata, apakah beliau sedang berbicara biasa, atau sedang membaca puisi?

Alangkah indahnya lantunan yang kami dengarkan. Betapa padatnya makna yang kami dapatkan di setiap ucapan, dan ekspresi khas beliau tidak tersembunyikan untuk kami petik makna demi makna yang disampaikannya.

“Para pembesar bangsa ini, semua menulis buku. Semua memulai dari kecintaan pada membaca. Sekarang?” Baru  sekali ini beliau menyuguhi kami senyuman kecil, tapi cita rasanya… sinis. “Para pemimpin bangsa kita juga melahirkan buku, tapi dia cukup ngomong pada wartawan, dan wartawan yang menjadikannya sebagai tulisan kemudian terlahir menjadi buku.”

Aku pun ingin menarik beberapa senti bibir kananku saja, untuk berpartisipasi men-sinis-kan kelakukan mereka, tapi kharismatik beliau, mencegahku untuk melakukannya.

“Dahulu, kewajiban dua puluh lima buku yang dibaca itu dicantumkan dalam kurikulum. Terus, ketika guru  mengatakan baca buku ini! Baca buku itu! Maka para murid tinggal pergi ke perpustakaan sekolah, bukunya sudah tersedia di sana, satu orang dapat satu buku. Kemudian anak itu harus membacanya, lalu ditulis rangkumannya atau resensinya, kemudian dinilai oleh guru.”

Kuterka beliau akan kembali menggebu-gebu.

“Sekarang, kewajiban membaca buku? Nol! Kewajiban menelaah buku? Nol! Fasilitas penunjang itu semua? Nol! Anda adalah generasi nol! Saya adalah generasi nol! Bencananya adalah, kemunduran ini sudah berlangsung selama enam puluh delapan tahun!”

Benar, ekspresinya menampakkan diri, keluar bersama keprihatinan seorang kakek untuk generasi cucu-cucunya. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena tempat kami berbincang adalah sebuah lobi hotel, yang di sana tidak hanya kami saja yang berada, dan beliau menyadari itu.

“Dalam penelitian saya, rata-rata hanya sekali dalam setahun anak didik disuruh membuat tulisan, dan judulnya hampir sama semua; CITA-CITAKU, yang kedua; BERLIBUR DI RUMAH NENEK.” Kami semua tertawa, menertawakan bahwa kami merasa pernah mengalami membuat cerita dari kedua tema yang beliau sebutkan itu. “Yang kita alami selama enam puluh delapan tahun ini adalah bencana besar. Tahukah, kegemilangan generasi enam puluh delapan tahun yang lalu dengan kewajiban membaca dua puluh lima buku dan menulis seratus delapan belas tulisan, sama kemajuannya dengan Eropa dan Amerika saat ini.”

Beliau memperbaiki kembali posisi duduknya, dan mungkin ini saatnya beliau melunak dari ekspresi yang selama hampir satu jam ini beliau keluarkan.

“Tahun empat puluh sembilan, ketika Indonesia benar-benar merdeka, berkumpulah para pengajar untuk merumuskan ke mana pendidikan bangsa akan dibawa. Akhirnya diputuskan, karena kita sudah tertinggal akibat jajahan selama ratusan tahun, maka yang harus dibangun adalah jalan-jalan yang menghubungkan berbagai kota, membangun banyak rumah sakit, perkebunan, sehingga sekolah-sekolah nantinya akan dibentuk untuk menghasilkan sarjana-sarjana teknik, kedokteran, ekonomi. Sementara untuk program membaca dua puluh lima buku dalam dalam tiga tahun, dikatakan; ‘Ini akan menghabiskan banyak waktu!’ program ini, DICORET!”

Ternyata terkaanku kali ini salah, beliau membetulkan posisi duduk bukan untuk melunak. Tekanan suara beliau mendadak tinggi.

“Program menulis seratus delapan belas tulisan dalam tiga tahun, dikatakan; ‘Ini akan menghabiskan banyak waktu!’ program ini, DICORET!”

Tekanan suaranya semakin meninggi.

“Yang diagung-agungkan adalah ilmu alam, ilmu pasti, kedokteran, sementara bahasa dan sasrta… DICORET! Guru-guru yang dibentuk adalah untuk menjuruskan anak-anak didiknya pada teknik, kesehatan, ekonomi. Sedangkan guru-guru bahasa diarahkan hanya pada estetika tulisan saja! Dari SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi, yang dipelajari adalah awalan, akhiran, imbuhan… awalan, akhiran, imbuhan. Itu itu saja! Jadi tidak heran jika kecintaan membaca dan menulis buku sungguh sangat memprihatinkan.”

Beliau membuang napas panjang. Keheningan menggelayut beberapa saat.

“Kami sudah berhenti protes pada pemerintah, puluhan tahun protes, puluhan tahun menggugat, hasilnya nihil! Selama tujuh belas tahun belakangan, kami sudah berhenti protes dan membangkang pada pemerintah. Kami sudah capek, usaha puluhan tahun kami tidak pernah di dengar. Akhirnya kami melakukannya sendiri untuk memajukan minat baca, tulis, dan kecintaan pada sastra. Kami telah memberikan pelatihan pada dua ribu guru SMA dari seluruh Indonesia. Jadi, sasaran yang harus pertama dibenahi adalah para pengajar, karena selama ini guru-guru tidak dilatih untuk cinta membaca dan menulis, apalagi sastra. Jumlah SKS baca, tulis, dan sastra saja di kuliah mereka hanya dua puluh persen.”

Tensi pembicaraan sudah menurun, sudah lebih santai.

“Selain pelatihan untuk para pengajar, kami mengadakan sebuah program yang bernama, Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB). Jumlah sekolah di Negara kita lebih dari dua puluh ribu, dan kami baru mampu mendatangi tiga ratus  sekolah. Selama ini para seniman datang ke sekolah-sekolah, ada yang membacakan puisi, cerpen, naskah drama, dan berbagai bidang sastra lainnya. Para siswa benar-benar antusias, mereka bisa bertemu dan belajar langsung dari Rendra, Ahmad Tohari, Nano Riantiarno, Sutarji C. Bachri, dan yang lainnya. Anak-anak diminta menyimak dan menuliskan apa yang didapatnya.”

Terkesima, inilah langkah yang lebih nyata ketimbang banyak berdebat mengenai angka anggaran pendidikan Negara yang realitanya jauh dari nyata. Terkesima, merekalah teladan sastra sesungguhnya.

“Kami juga membentuk sanggar sastra di beberapa sekolah, kegiatannya setiap sabtu dan minggu jadi tidak mengganggu sekolah, tujuannya supaya murid berminat membaca dan menulis. Di sanggar itu, wajib ada minimalnya seratus judul buku, satu komputer, satu printer, dan satu scanner. Sanggar sastra ini haruslah diasuh oleh guru-guru yang telah lulus mengikuti pelatihan yang dua ribu guru tadi. Dan tujuh belas tahun ini, kami baru mampu membentuk sanggar sastra di tiga puluh sekolah dari dua puluh ribu sekolah yang ada.”

Kembali aku terkesima, saudara-saudaraku yang lain pun kupikir tidak jauh beda. Dapat kubaca dari air muka mereka.

Beliau melihat jam di tangan kirinya, aku merasakan waktu telah mendekat untuk merenggut beberapa menit emas di depan, sepertinya kebersamaan kami akan segera diceraikan keadaan.

“Masalah kita adalah memajukan sastra di Indonesia. Dan sumber utamanya adalah minat membaca dan menulis yang telah tertinggal selama enam puluh delapan tahun. Kami sudah berhenti protes pada pemerintah. Selama tujuh belas tahun ini kami bergerak sendiri untuk pekerjaan nyata. Dan saya gembira betul dengan lahirnya FLP, ini hebat. Masya Allah, Anggotanya ribuan, hingga ke mancanegara. Saya senang dan bangga dengan Anda, dahulu bersama kawan-kawan, kami tidak mampu untuk membentuk sebuah organisasi besar yang bergerak di dunia literasi. Tapi Anda bisa. Dan FLP telah menjadi salah satu elemen roda penggerak kemajuan baca tulis bangsa, demi bangsa yang maju dan berkarakter. Kita berdoa dengan betul-betul khusyuk, semoga Allah akan senantiasa memberi jalan perjuangan ini.”

Beliau kembali tersenyum, dan matanya menyapa mata-mata kami dengan keteduhan pandangan seorang kakek untuk cucu-cucunya.

“Anda masih muda-mudi, cita-cita jadi pengarang itu dalam hidup jadikanlah nomor tiga. Yang pertama lulus kuliah dulu, senangkan hati orang tua, ridha Allah ada pada mereka. Yang kedua, bolehlah lirik kiri kanan, yang jelas doanya harus lurus, yaitu mendapatkan jodoh terbaik. Baru yang ketiga adalah menjadi pengarang atau sastrawan.”

Beliau menghela napas pendek.

“Untuk membentuk karakter penulis, yang terpenting adalah ridha Allah, kemudian jalan yang menuju ke sana pastilah harus jalan yang lurus, nanti dalam perjalannya akan datang jalan-jalan lain untuk semua yang kita butuhkan sampai menjadi seorang penulis. Dan yang tidak kalah penting, Anda harus punya perpustakaan sendiri, karena dari sanalah kecintaan terhadap buku bisa senantiasa bersatu bersama Anda.”

Aku merasakan waktu perpisahan sudah semakin mendekat.

“Tidak akan ada penulis yang hebat tanpa dia membaca banyak buku. Jadi syarat utama menjadi penulis tentu saja dia harus terlebih dahulu menjadi pembaca.”

Inikah ucapan pamungkas beliau? Hatiku tidak enak, sepertinya tebakanku akan kembali berwujud nyata. Dan, Kun! Fayakun… beliau memohon banyak maaf, karena bukan tidak ingin lebih lama bersama, namun masih banyak hak orang lain yang perlu beliau tunaikan di tanah istimewa ini sebelum kembali ke ibu kota.

Dan, di sepanjang menit dari pukul sembilan kurang lima belas sampai pukul sepuluh lebih tiga puluh, beliau telah banyak berbagi, khususnya tentang kegundahan hati mengenai minat baca, minat tulis, minat sastra, yang berefek pada melemahnya karakter bangsa yang justru tidak diberhasil dibangun oleh kurikulum-kurikulum pemerintah di sekolah-sekolah dengan selogan ‘pendidikan berkarakter’.

Di menit-menit akhir pertemuan kami, ada kenang-kenangan dari (mungkin satu-satunya) komikus FLP jogja untuk beliau, pun dari saya dengan memberikan sebuah buku bersampul biru. Dan, putaran waktu emas bersama beliau menjadi lebih sempurna tatkala terucap dari lisannya, “Tolong saya minta bukunya dibubuhi tanda tangan, nama penulis, dan nomor telpon.”

SELESAI.


Kawan, kita menulis bukan untuk dikenal, bukan untuk dikenang, pun bukan untuk yang lain. Menulis adalah peperangan, syahid menanti di ujung goresan terakhir pena kita. Karena, kita menulis untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan para pendahulu, bersama bercita-cita memperbaiki negeri melalui tinta-tinta emas anak bangsa.

Ini tidak menyerupai bahasa ratapan hati, tetapi ajakan untuk bergerak dan beraksi, bukan berteori apalagi beradu argumentasi.

Mari, angkat pena… perbaiki negeri.


Yogyakarta 30 April 2013.


Catatan: Anda tentu sudah tahu, siapa ‘beliau’ yang saya maksud dalam tulisan ini. Jika belum bisa menebaknya, mungkin bait yang dinyayikan oleh almarhum Chriyse berikut, yang menemani sepanjang diri ini menulis dan membidani tulisan ini, akan membuat ada mengerti, siapa beliau sang maestro itu. Beliaulah yang melahirkan bait-bait ini;

Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi
Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita

Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita, kemana saja ia melangkahnya

Tidak tahu kita, bila harinya tanggung jawab tiba
Mohon karunia, kepada kami hamba-Mu yang hina

Rabbana, tangan kami, kaki kami, mulut kami
Luruskanlah, kukuhkanlah, di jalan cahaya sempurna



Read More...

Wahai Kekasihku

dalam 3 jam kedepan engkau kan melangkah
pergi menjauhiku yang masih disini
menyuguhkan kesepian
menyisakan kesendirian

maka berkabunglah hati karenanya
datanglah kesedihan bersama perpisahan
duhai kekasih yang belum bisa sempurna kubahagiakan
duhai cinta yang hanya sekejapan dalam kebersamaan

akankah kita dipertemukan kembali
bersatu dalam keceriaan dan keberkahan
mengulang ketaatan dalam indahnya malam-malam
mengukir kesabaran dalam untai terangnya siang

kehangatan kita masih terasa dalam dekapan
keintiman kita masih terbayang dalam ingatan
namun engkau sudah sempurna berkemas 
siap melangkah tuk pergi dari sisiku

sesaklah dada ini
beratlah beban ini
tapi engkau tak bisa dihentikan
keputusan tak bisa dibantahkan

sungguh aku akan merindukanmu
selalu menunggumu kembali kesisiku
wahai kekasih
wahai tercinta

andaikata Tuhan bersedia mengabulkan
kan kuminta Dia menjadikan seluruh bulan
digantikan oleh dirimu
wahai penghulu seluruh bulan

selamat jalan untukmu penyandang kesucian
selamat jalan bagimu pembawa keagungan
selamat jalan padamu penebar keberkahan
selamat jalan ya ramadhan

terima kasih untuk semua keceriaan
terima kasih untuk semua kehangatan
terima kasih untuk semua kebersamaan
terima kasih untuk semua yang telah kita jalani bersama

wahai kekasihku wahai ramadhanku
janganlah jemu menyebut-nyebut namaku di langit sana
ceritakanlah apa-apa yang telah kita kerjakan bersama
kepada seluruh penduduk alam atas dan alam bawah
serta kepada Raja Yang Bersemayam di Arsy-Nya

kuucapkan salam perpisahan untukmu
dengan alunan tertulus yang bisa kuciptakan
"Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
"laa ilaa ha illallahu wa Allahu Akbar..."
"Allahu Akbar wa lillahilham..."


Garut, menjelang kepergian Ramadhan dan kedatangan 1 Syawal

Read More...

Proses Kreatif Pembuatan THE LOST JAVA

Saat itu, tanpa angin atau hujan, terlebih terik, ada comment di blog pribadiku; komunitaspenaripena.blogspot.com, isinya berupa iklan lomba novel tingkat Nasional di Yogyakarta, kejadiannya di bulan Januari 2010. Aku tak begitu menghiraukannya, hanya membaca sekilas, tapi ternyata setelah melihat nominal hadiah dari lomba itu, bibirku tersenyum. Batinku mulai berbisik, aku harus juara.

Dead line penutupan lomba tinggal 1 bulan. “Bukan masalah,” cuapku dengan arogan.

Kubeli kertas karton putih, kemudian kutorehkan tulisan besar dan tebal di karton itu: MENGHAJIKAN ORANG TUA. Setelahnya, kutempel karton itu di dinding kamar yang tepat menghadap tempat tidur, sehingga setiap kali terbangun, aku akan menemui tulisan itu sebagai charger semangat.

Maka, mulailah scouting ide.
Nggak ketemu.
Membaca-baca buku berharap dapat inpirasi.
Nihil.

Kau tak boleh menjadi follower, ciptakan tulisanmu sendiri yang berbeda dengan novelis-novelis yang sudah ada di Indonesia. Begitu ucap batin di sela kekosongan ide.

Suatu ketika, tatkala mengikuti perkuliahan kimia lingkungan di Pascasarjana Kimia UGM, Prof. Eko Sugiharto membahas tentang global warming.
Deal.
Ideku untuk novel yang akan ditulis adalah: GLOBAL WARMING.

Indah nian sketsa alur yang disiapkan Tuhan.

Kusebar SMS ke rekan-rekan di KOMUNITAS PENARI PENA (KPP): Tolong carikan berbagai data mengenai pemanasan global.
Sent to 7 people.

Aku pun mulai membuka laptop dan menulis “ala orang kesetanan”. Maksudnya begini, metodeku menulis adalah dengan menutupkan separuh layar laptop setelah kujalankan microsoft word yang siap ketik, dengan begitu aku tak bisa melihat apa yang kuketik. Sehingga, para hakim, juri, editor, dan komentator di dalam kepalaku, tak bisa menghambat kreativitas aliran tulisanku.

Selanjutnya, kupakai keyboard eksternal untuk mengetik. Gerakan jari-jemari pada ketikanku dibuat secepat mungkin, tanpa ada jeda untuk beristirahat sampai semua yang ingin dituliskan—yang mengendap di dalam isi tempurung kepala—benar-benar kering. Habis. Satu jam, dapat satu bab.

Istirahat.
Mengetik lagi.
Hingga akhirnya, dengan metode itu, kuhabiskan seminggu dan menghasilkan 7 bab.
Pernah suatu hari, selama 24 jam full, tanpa rehat kecuali untuk makan, shalat, dan kebutuhan primer, kerjaanku hanya menulis di dalam kamar. Autis. Tanpa tidur pula. Alhasil dalam 24 jam itu lahirlah hingga 5 bab bagian dari novel THE LOST JAVA.

Setiap kali semangatku mulai menurun, maka segera kulihat tulisan MENGHAJIKAN ORANG TUA di dinding kamar, seketika itu juga aku terlahir kembali dengan semangat menggebu.

Sebelum 3 minggu habis, telah rampung 20 bab.

Selanjutnya, sudah menanti sebuah pekerjaan yang akan lebih menguras otak. Pesanan data-data yang diminta pada KPP sudah berdesakkan di email.
Dibuka.
Dibaca.
Ditelaah satu persatu.
Kemudian, data-data yang kuanggap penting dan akan berpotensi memperseksi novel ini, mulai kucoba untuk diharmonisasikan dengan naskah yang sudah ada menjadi satu kesatuan tubuh cerita yang utuh.

Di minggu ketiga, selesailah pekerjaan menulis naskah novel.

Setelahnya, tibalah waktuku tidur. Adrenalin habis karena dipakai untuk kerja paksa dalam 3 minggu demi 3 kata: MENGHAJIKAN ORANG TUA. Dua hari terlewati tanpa kegiatan kepenulisan.

Kun Geia benar-benar TEPAR.

Kemudian, pekerjaan editing/revisi mulai dilaksanakan. Dalam 5 hari. Naskah sebanyak 200 halaman A4 itu selesai direvisi dari halaman pertama hingga titik terakhir sebanyak 5 kali.

CUKUP! Ucapku waktu itu.

Kukirimkan novelnya pada panitia lomba yang saat itu hanya menyisakan satu hari waktu sebelum penutupan. Naskah THE LOST JAVA dilombakan bersama 2 naskah novelku yang sebelumnya sudah jadi duluan, sekitar 1 tahun lalu: HITAM PUTIH PENANTIAN dan RARA PENGIKHLAS.

Waktu bergulir, penjurian berlangsung.
Dari sekian ratus naskah yang masuk panitia lomba, THE LOST JAVA  dan PARA PENGIKHLAS ternyata lolos seleksi hingga 30 besar.

Waktu berlalu, penjurian kembali berlangsung.
Akhirnya, meski tak juara di akhir lomba, tanggal 30 november 2010, THE LOST JAVA menduduki peringkat ke-4. Sayang, hadiah cuma sampai di peringkat ke-3. Dan peringkat ke-4 hanya dapat piagam dan JANJI akan diterbitkan.

Sementara, selesai sampai di situ.

Enam bulan berlalu dari janji penerbitan tanpa ada hasil konkrit. Naskah itu kucabut dari penerbit yang sudah mengiyakan untuk diterbitan.

Novel itu kuikutkan lagi lomba menulis tingkat Nasional di Solo Raya. Tak juara sih, tapi dapat menghargaan sebagai novel dengan ide terbaik dari sekian ratus naskah yang masuk ke panitia lomba. Itu terjadi 24 januari 2011.

Ada lagi lomba tingkat Nasional di Yogyakarta.
Kuikutkan lagi.
Di sini, THE LOST JAVA yang sudah berkali-kali mengalami revisi, ternyata menjadi juaranya.

Alhamdulillah. Diterbitkan.

Bulan bergulir. Aku baru tahu kalau buku itu ternyata diterbitkan indie dan dijual hanya on line saja.
Mengelus dada dan menghela napas panjang....

Kubiarkan THE LOST JAVA mengandap di penerbit itu. Hingga setahun, ya... hasilnya gitu-gitu aja. Tidak banyak orang yang menikmati isinya, tidak banyak orang yang membelinya, atau lebih tepatnya mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa buku itu ada di muka bumi. Tapi, beberapa progres cukup lumayan. Buku ini masuk ke dalam catalogue national library of Australia, display di Amazon.com dan beberapa international online reseller serta nangkring di google book. Beberapa ada yang mengulas di media nasional secara on line. Harian lokal dari Sumatera pun meresensi, hingga tak ketinggalan dikomentari pada blog-blog pribadi.

Dalam kurun 2010 hingga 2012, dengan serius kusempurnakan THE LOST JAVA. Riset yang dilakukan mengenai hal prihal ilmiah yang ditanamkan dalam novel itu menjadi prioritas. Beberapa orang yang (kuanggap) ahli di bidang keilmuan geofisika, komputer, dan statistik, berhasil kugandeng. Bahkan hingga dosen skripsi S1 dulu, turut  dimintai bantuan menganai hal ikhwal berbau kimia melalui wawancara.

Dalam kurun waktu itu, kuhitung telah mengkhatamkan novel THE LOST JAVA dalam proses revisi hingga 20 kali. Halamannya pun bertambah dari yang tadinya 200 A4 menjadi 300 A4. Sebanyak kurang lebih 20 penikmat sastra kuberikan naskah itu untuk dikomentari. Termasuk penulis Hafalan Shalat Delisa (meski beliau membacanya, tapi ternyata  belum berkenan memberi endorsement karena alasan genre tulisan kita yang berbeda). Alhasil, berdatanganlah saran-saran untuk penguatan di detail setting, karakter tokoh, dan penyempurnaan logika cerita.

Untuk alur dan konflik sudah ok.

Hingga akhirnya aku dipertemukan (dengan orang-orang hebat) dengan IG Press. Mereka menjanjikan untuk membumingkan buku THE LOST JAVA. Setelah mempelajari strategi marketing mereka, hak penerbitan buku ini berpindah tangan.

Indah nian sketsa alur yang disiapkan Tuhan.

Dan, jadilah THE LOST JAVA yang sekarang ada di tangan para pembaca. Tersebar hingga di seluruh toko buku di Indonesia yang terjangkau distribusi IG Press.

Seminggu setelah selesai cetak, buku ini telah terjual hingga 150 eksemplar, padahal ia belum display di toko buku, baru penjualan gerilya. Dan setelah dua hari display,  ada satu dua toko buku yang langsung kehabisan stock hingga di gudangnya. Sold out.

Acara-acara bedah buku mulai di gelar. Lombok, Solo Raya, dan menyusul Yogyakarta serta Purwokerto.
Kota-kota lain di Indonesia, tunggu giliran selanjutnya.

Great marketing dari IG Press.

Ada 5 hal yang kugaransikan pada para pembaca dari novel THE LOST JAVA: Alur cepat (menguras adrenalin dengan adegang-adegan penuh ketegangan), Konflik Bertubi-Tubi (mengaduk-aduk emosi), Detail Setting (membawa nyatanya tempat ke kepala pembaca), Sains (menawarkan banyak ilmu pengetahuan), dan tentu saja Romantika Cinta (melengkapi harmonisasi cerita).

THE LOST JAVA dipersiapkan dengan sangat matang, sebagai persembahan dan seorang anak negeri bagi para pemburu novel science fiction dan thriller.


Minggu, 8 Juli 2012
Kun Geia

Read More...

Lomba Renensi THE LOST JAVA


Hai, kawan-kawan pecinta novel, apa kabar? Semoga kabar baik semuanya. Oiya, sudah baca belum novel The Lost Java karya Kun Geia? Ayo segera miliki novelnya dan tulis resensinya, karena kami Penerbit IG Press akan mengadakan lomba resensi dengan total hadiah sebesar Rp 3.000.000.

Syarat dan Ketentuan:
  1. Lomba ini terbuka bagi setiap WNI dan peserta tidak dipungut biaya alias gratis.
  2. Panjang resensi 5.000-15.000 karakter (termasuk spasi) atau 4-8 halaman.
  3. Ukuran kertas A4, jenis huruf yang dipakai Times New Roman 12 pt, 1,5 spasi.
  4. Resensi harus asli karya sendiri.
  5. Resensi dikirim ke:  improvegrowth@gmail.com.
  6. Karya resensi boleh di-posting di website pribadi, blog, jejaring sosial facebook, dan sejenisnya.
  7. Lomba ini dibuka mulai tanggal 20 Juli sampai 15 September 2012.
  8. Resensi diterima paling lambat tanggal  15 September 2012.
  9. Keputusan juri bersifat mutlak.
  10. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 Oktober 2012 di website: www.ig-press.com, fb: ig press, dan twitter: @ig press.
  11. Info lebih lanjut silahkan hubungi IG Press di 0274 262 8550 (Salman).

Hadiah Lomba:
Pemenang pertama   : uang tunai sebesar Rp 1.500.000 plus sertifikat.
Pemenang kedua       : uang tunai sebesar Rp 1.000.000 plus sertifikat.
Pemenang ketiga       : uang tunai sebesar Rp 500.000 plus sertifikat.

Ayo, tunggu apa lagi! Segera baca novelnya, bikin resensinya dan ikutkan dalam lomba ini! Siapa tau keberuntungan jatuh di tanganmu! Selamat menulis resensi, Kawan!

Read More...

The Lost Java - Kun Geia


“Kehancuran dunia kian dekat, namun kematian sudah mengintai jauh lebih dekat lagi!”

Bencana mengincar setiap nyawa. Iklim sempurna tak lagi bersinergi dengan bumi. Banjir-banjir mulai berubah status menjadi permanen. Ratusan pulau perlahan tenggelam ditelan luapan air laut. Puluhan juta manusia digiring paksa oleh bencana untuk mengungsi. Terlampau menyeramkan saat menunggu detik-detik mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan yang notabene sebagai penyimpan 90% cadangan air di bumi ini. Apakah dunia sudah mengetahui kengerian yang akan terjadi setelahnya?

Puncak bencana akan terjadi ketika panasnya suhu bumi menyebabkan gas metana beku terlepas dari kedalaman es dan laut, padahal ia memiliki kekuatan efek rumah kaca 25 kali lebih hebat dari karbon dioksida. inilah ancaman utama yang akan menghancurkan! Bencana Paleocene Eocene Thermal Maximum yang terjadi 55 juta tahun yang lalu akan terulang kembali. Bencana apakah itu? Itulah saat dimana seluruh permukaan bumi membeku tertutup lapisan es tebal dan setelahnya hanya akan tersisa dua kata saja dari sejarah keberadaan manusia: KEPUNAHAN MASAL.

Sekelompok ilmuwan terbaik dari seluruh dunia berkumpul untuk mencari solusi dari semua kekacauan, di dalam sebuah lab rahasia mereka meneliti nuklir, atmosfer dan es untuk menyelamatkan bumi dari cengkraman awal kehancuran. Setelah 35 tahun melakukan penelitian, Garuda Putih Laboratory akhirnya dapat menyelesaikan formula yang akan dibawa dalam misi WAR (Warriors of Antartic). Lima ilmuwan terbaik dari Indonesia, India, Iran, dan Amerika berangkat menuju atap tertinggi Kutub Selatan, puncak Gunung Vinson Massif. Tujuan mereka satu, menyelamatkan umat manusia dari kepunahan massal.

Selama ekspedisi, badai es beberapa kali mengamuk, oksigen minim pada ketinggian, dan suhu -45° C menyengat dengan dinginnya. Longsor es mengincar setiap saat, tebing-tebing tinggi sulit untuk dilewati, hingga jurang curam menganga untuk disebrangi. Namun, dari semua itu, ada hal lain yang jauh lebih mengancam keselamatan tim WAR. Di belakang mereka, sebuah organisasi bawah tanah kliber internasional yang terkenal kejam dan brutal menaiki Gunung Vinson Massif dari jalur daki yang lain. Tujuan mereka satu, merampas formula dari tim WAR dan menggunakannya untuk menguasai dunia demi satu pemerintahan, The New World Order.

Petualangan novel bergenre science-thriller fiction ini menyajikan tiga komponen yang digarap dengan serius berupa “sisi keilmuan” yang dipadukan dengan adegan-adegan “pemicu adrenalin” yang menyedot habis “rasa penasaran” pembaca di setiap akhir babnya. Dan tentu saja disempurnakan dengan “romantika cinta” yang dibingkai apik dalam konflik yang bertubi-tubi. The Lost Java lebih dari sekedar novel Sci-Fi. Ceritanya dipersiapkan dengan matang. Jadilah alur dalam buku ini penuh dengan jalinan yang syarat ketegangan, menyuguhkan kepuasan tersendiri bagi para pemburu bacaan thriller.
[Kun Geia]

Read More...

THE LOST JAVA - Testimoni Rini Selly

Kata yg sudah membaca The Lost Java (edisi lama):

"Novel yang rumit, berat dan memusingkan!” Bisa jadi itulah yang akan dirasakan para pembaca yang terbiasa mengkonsumsi novel-novel romantis setelah membaca isi novel ini, The Lost Java bukan novel picisan yang melulu isinya cinta, cinta, dan cinta. Kun Geia membidik isu global warming sebagai sasaran puncak konflik. Bersama style genre thrillernya, dengan berani ia mencoba mendobrak alur pemikiran para penulis novel tanah air untuk tidak hanya melahirkan karya yang berkutat di sekitar masalah percintaan saja. I called this one with smart, cool and suspenseful novel. Apakah The Lost Java merupakan karya terbesarnya Kun Geia? read it! and just let your imaginations flow. ( Rini Selly, Medan)

Itu baru yang edisi lama, bagaimana dengan yang edisi revisi?

Read More...

THE LOST JAVA - testimoni Dila Saktika Negara

Ini pendapat yang sudah membaca The Lost Java (edisi lama):
 
"Luar biasa! Novel yang sangat pantas untuk diapresiasi. Keindahan ilmu pengetahuan, ketegangan dalam petualangan serta ketulusan dari sebuah rasa cinta menjadi kekuatan menakjubkan dari novel The Lost Java. Kun Geia dengan lugasnya menyusun komponen-komponen itu hingga menjadi sebuah formula yang mampu membuat siapapun yang membacanya untuk penasaran dan ingin segera menyelesaikan hingga lembar terakhirnya. Rasakanlah sendiri saat membacanya, kejutan-kejutan dalam cerita akan membuat jantungmu berdebar lebih kencang dan dadamu bergemuruh penuh haru."
 
Dila Saktika Negara, Lampung (Penulis Beberapa Buku Antologi Populer)

itu yang edisi lama, bagaimana dengan The Lost Java edisi revisi?

Read More...

LOMBA CERPEN 2011




Bismillahirrahmaannirrahiim…
"Sujud syukur kami padamu-Mu ya Rabbi, shalawat dan salam terbaik kami untukmu wahai baginda penghulu para Nabi, serta Do’a terindah kami bagi anda para pencinta Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam."

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh…

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
”Tidaklah beriman seseorang sehingga ia mencintaiku lebih dari keluarganya, hartanya dan siapapun juga.” Dalam riwayat lain: “lebih dari anaknya, orangtuanya dan siapapun juga”.
(HR. Muslim)

Indah sekali bunyinya, agung sekali kandungannya, dan teramat besarlah pahala bagi mereka yang merenungi dan mengamalkannya dengan istiqamah, Subhanallah...
Tergetarkah dasar jantung anda?
Tersentuhkah langit hati anda?

Demi Allah, tidaklah diperdengarkan namamu ya rasul pada orang-orang yang mencintaimu kecuali mereka tersentak gembira dan hilanglah segala kesedihan. Maka bergetarlah ruh-ruh mereka merindukan pertemuan dengan Nabinya, sebagaimana para sahabat merindukannya. Begitulah keadaan para kekasih Allah swt yang selalu dalam naungan kelembutan Nya, Yang dari Nya dan Milik Nya segala kelembutan.

12 rabiul awal… benar-benar hari yang istimewa, hari dimana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam terlahir dimuka bumi, begitu besarnya rasa bahagia kami dikarenakan kelahiran beliau, maka sebagai bentuk syukur, kami bermaksud mengadakan syukuran kecil-kecilan berupa Lomba Cipta Cerpen Bermakna, bertemakan “Antara Aku, Rasulullah, Cinta dan Kerinduan Diantara Kita”, maka hanya pahala dari Allah lah yang kami harapkan serta manfaat dan keberkahanlah yang kami inginkan dari syukuran kecil ini.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.Ibrahim: 7)

Kami mengajak anda untuk meluangkan waktu dalam merenungkan dan memikirkan karunia yang telah diberikan kepada kita, dimana terlahirnya rasulullah saw ke dunia ini adalah salah satu karunia besar yang kita prioritaskan untuk disyukuri. Bentuk rasa syukur itu akan menjadi abadi tatkala dibagi dengan sesama lewat sebuah karya yang tergores tinta, maka dari itulah lomba ini kami hadirkan.

Anda memiliki cerita yang berhubungan dengan Rasulullah yang begitu berkesan bagi anda?
Atau anda pernah mendengar cerita dari teman-teman anda mengenai Rasulullah yang memberikan anda motivasi, inspirasi atau hikmah-hikmah baru?
Atau anda pernah membaca kisah-kisah cinta dan kerinduan menakjubkan para sahabat pada Rasulullah?

Jika ada, abadikanlah dalam tulisan dengan gaya tinta anda sendiri, kirimkanlah dalam Lomba Cipta Cerpen Bermakna, Adapun berbagai ketentuannya adalah sebagai berikut.

1.Tahapan lomba
- Batas terakhir Pengiriman Karya: 12 Rabiul Awal 1432 H
- Pengumuman nominator 30 besar: 30 Rabiul Awal 1432 H
- Pengumuman Cerpen 3 terbaik: 12 Rabiul Akhir 1432 H

2.Penghargaan lomba
- karya terbaik nomor 1: Uang tunai Rp. 500.000
- karya terbaik nomor 2: Uang tunai Rp. 400.000
- karya terbaik nomor 3: Uang tunai Rp. 300.000

3.Ketentuan lomba
- Cerpen tidak melanggar syariat Islam, bermuatan pornografi dan SARA.
- Cerpen harus karya asli penulis/pengarang; bukan terjemahan atau saduran.
- Ide/inspirasi cerita boleh diambil dari pengalaman sendiri (lebih diutamakan) atau pengalaman orang lain yang diceritakan dengan bahasa penulis sendiri, atau pengalaman para sahabat Nabi dengan sanad yang terpercaya.
- Cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa, dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain.
- Cerpen diketik dengan komputer dalam kertas A4 spasi 1,5 Times New Roman 12 point. Panjang maksimal 10 halaman;, dan diberi nomor halaman.
- Peserta boleh mengirimkan karya terbaiknya maksimal 3 karya.
- Peserta lomba TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN
- Karya di kirim ke email maribershalawat@yahoo.com
- Info terbaru/up date lomba dan daftar peserta yang masuk bisa dilihat di (http://maribershalawat.multiply.com)

4.Kriteria penilaian
Karya minimalnya memenuhi sekurang-kurangny satu dari kriteria berikut:
1.Kesesuaian isi cerita dengan tema
2.Kekuatan dalam memberi pesan/makna
3.Kekuatan dalam Menggugah/menyentuh
4.kekuatan dalam Menginspirasi/Memotivasi
5.Kekuatan dalam menyajikan alur dan penokohan
6.Keindahan tata bahasa dan daya tarik cerita

5. Juri
1. http://flpyogya.multiply.com : Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Yogyakarta periode 2008-2010
2. http://halamaharis.multiply.com : Koordinator Kaderisasi Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Yogyakarta periode 2008-2010
3. http://tazkiatunnafs.multiply.com : Penikmat sastra dan Alumnus UIN Jakarta
4. http://maribershalawat.multiply.com : Penikmat sastra dan pengasuh “rumahku shalawatku”
5. http://penaripena.multiply.com : Trainer lembaga pelatihan kepenulisan PENARI PENA WRITING LABORATORY

Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun.

Demikian pemberitahuan lomba ini kami sampaikan. Betapa bahagianya kami jika anda berkenan memberitahukan/mengajak kepada saudara-saudari yang lain untuk ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Silahkan “copas” pengumuman lomba ini untuk dipostingan di halaman web/site/blog anda.
Jazakumullah khairan katsiran

Wahai pemilik Muhammad Rasulullah saw, Wahai pemilik Ummat Muhammad saw, Wahai pemilik kelembutan Muhammad saw, Wahai pemilik seruan Muhammad saw, Jadikanlah site kami ini:

“RUMAHKU SAHALAWATKU”
http://maribershalawat.multiply.com

sebagai sarana yang menghiasi hati kami, rumah kami, keluarga kami, sahabat-sahabat kami, Dan jadikanlah kami orang-orang yang benar-benar menjawab seruan Muhammad Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(Q.S. Al-Ahzab:56)

Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Mari Berinvestasi Akhirat dengan Mencintai Nabi


Penyelenggara
http://maribershalawat.multiply.com


sumber: http://maribershalawat.multiply.com

Read More...

Semakin

semakin sering teringat
semakin terasa adanya keanehan dalam hati
semakin banyak kenangan masa lampau yang terbayang
semakin resah
semakin sedih
semakin bertanya-tanya dalam kepala
semakin sukar dimengerti
semakin banyak kata "semakin" yang merisaukan isi dada
semakin rapuhlah ia
semakin!!!

Read More...

dengan janji-janji indahnya

mengenangmu...
lagi-lagi melahirkan kengiluan
di bilik-bilik urat nadi yang hampir berhenti,
dan menyebut namamu...
menghujamkan berbagai kepenatan
dari setiap lisan yang mendaratkan suara di gendang telinga,
memikirkanmu...
memberangus impian masa depan
yang terbangun dari kekosongan topeng balut pakaian,
berkata dalam hentakan perasaan
menunjukkan besarnya penyesalan setelah pertemuan
bernyanyi di keramaian orang
menutupi keberkabungan tercampakkan wangi tutur kata
yang membuat cedera
terasa sekali cengkraman sepi
mengoyak isi kepala yang sedang berdendang ceria
menyuguhkan malapetaka bak prahara durja
dikeganasan berita hempaskan sisa-sisa usia

TERIMAKASIH!


yogyakarta, (kutulis ini untuk membelenggu nafsu yang tak jemu menghantuiku dengan janji-janji indahnya YANG SEMU DAN PALSU di 9 hari sebelum datangnya bulan suci, mari mempersiapkan diri...)

Read More...

kekasihku...

kekasihku adalah buku yang takkan muak denganku
meski harta menjadi sedikit dan ketampanan mulai susut
buku sang pujaan hatiku, di kala tak ada tambatan kalbu
kan kurayu jikalau dia memahami rayuan kalbu
buku... teman setiaku kala duduk, yang takkan merasa jemu
penjelas kebenaran yang tak membuatku jemu
buku... lautan yang takkan menarik pemberiannya
membanjiriku dengan harta, meski harta menahannya
buku... petunjuk terbaik untuk meraih asaku
darinya selalu ada pengalaman baru dan penerang langkahku

Sya'ir ini karya Ibnul A'rabi (penulis Al-Gharib)

Read More...

kadang laki-laki juga membutuhkan kecengengan

aku kembali berdiskusi dengan hangatnya malam, dan mereka tau disini aku kedinginan.
mencoba bercengkrama bersama ributnya suara, dan mereka tau disini hening dan diam.
berpesta ria dalam gempita ramainya manusia, dan mereka tau disini tak ada siapa-siapa.
aku merindu riang canda tawa mereka.
utuh dikesatuan keluarga.
dalam dekap hangat kebersamaan.
Ibu.
Bapak.
Gara.
Gia.
tersenyumlah.
dalam dua purnama kusongsong kalian disana.
dengan izin Allah tentunya.
siapapun yang membaca suaraku ini.
janganlah beritahu mereka.
kerena tak mau kerinduan tak tertahankan juga melanda keluarga.
karena kau pun tentu tahu.
bahwa kadang laki-laki juga membutuhkan kecengengan.

Read More...

Search

Memuat...