"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"
Rebo Kasan
undefined
undefined
By: Gerry N.
Kupat-kupat segitiga berkoalisi dengan kupat-kupat segi empat, kerupuk-kerupuk aneka warna pelangi me-ji-ku-hi-bi-u pun tak lupa ikut hadir, tebar bintik wijen yang berpuluh… beratus atau ber-entahlah anggun bercengkrama dibulatnya tubuh onde, bersikat-sikat kuning hijau pisang aneka ras berjelaga ditengah acara, berupa-rupa kreativitas serba gorengan mulai dari goreng tahu, goreng tempe, goreng pisang, dan bala tentara goreng-goreng yang lain ikut bercengkrama, kue cokelat, kue bolu dan saudar-saudara kue lainnya juga ikut mejeng, permen mulai dari yang rasa manis, asin, pedas, asam, dingin, hingga tak berasa sekalipun tersaji, ciki-ciki dari yang harga seratus sampe harga seribupun ada.
Kenapa aku mengabsen kehadiran berbagai macam makanan ringan ini? karena hari ini di masjid kampungku ada acara rebo kasan, suatu acara pengajian, syukuran, ataupun apalah namanya yang dilaksanakan setiap hari rabu terakhir di bulan Syafar, kata pak kyai, Allah menurunkan 40.000 jenis penyakit ke bumi pada hari selasa terakhir dari bulan Syafar pukul dua belas malam, sehingga acara rebo kasan ini adalah salah satu bentuk permohonan pada Allah supaya dilindungi dari 40.000 macam penyakit itu.
Jarum jam paling pendek sudah berpijak di pertengahan angka enam dan tujuh, sedangkan jarum paling panjangnya sudah beristirahat di angka enam, jemaat yang hadir didominasi oleh anak-anak kecil yang memakai seragam berwarna putih merah (mereka hendak berangkat kesekolah), anak-anak itu mulai sedikit gelisah, karena mama kyai belum juga menyelesaikan doanya, padahal tepat pukul tujuh mereka sudah harus duduk rapi di kursi dalam kelas masing-masing.
“Bibarokati Al-fatihah…”
Mama kyai mengakhiri do’anya dengan surat Al-Fatihah, selesai itu keadaan hening, anak-anak itu hampir semua menatap pada mama kyai, mama kyaipun tersenyum dan mengganggukan kepala pada mereka dan satu… dua… tiga… tidak sampai dihitungan keempat, anak-anak itu sudah ribut berebut semua makanan yang diletakkan ditengah mesjid, keadaan benar-benar tak terkendali, ribut, ricuh, berisik, ah… pokoknya berbagai situasi dan kondisi benar-benar kacau balau, ada yang mengambil makanan-makanan itu sembali cekikikan tertawa puas, ada yang menangis makanannya direbut yang lain, pokoknya benar-benar meriah.
Aku menghela napas panjang, melihat mereka begitu ceria dengan dalam acara tahunan ini, aku teringat pada masa-masa kecilku dulu dimana aku menjadi salah satu dari teman-temanku melakukan apa yang sekarang ini aku saksikan dari anak-anak dikampungku.
Garoet 25 02 09 06 30 (mohon maaf untuk makanan-makanan yang tidak terabsen diatas, bukan bermaksud melecehkan apalagi melupakan dengan tidak mencantumkan semua makanan yang hadir di tengah-tengah pengajian rebo kasan, itu tidak lain karena jumlah dan jenis kalian terlalu banyak, sehingga menulitkan untuk menyebutnya satu-persatu sekali lagi mohon maaf, harap maklum).
Kenapa aku mengabsen kehadiran berbagai macam makanan ringan ini? karena hari ini di masjid kampungku ada acara rebo kasan, suatu acara pengajian, syukuran, ataupun apalah namanya yang dilaksanakan setiap hari rabu terakhir di bulan Syafar, kata pak kyai, Allah menurunkan 40.000 jenis penyakit ke bumi pada hari selasa terakhir dari bulan Syafar pukul dua belas malam, sehingga acara rebo kasan ini adalah salah satu bentuk permohonan pada Allah supaya dilindungi dari 40.000 macam penyakit itu.
Jarum jam paling pendek sudah berpijak di pertengahan angka enam dan tujuh, sedangkan jarum paling panjangnya sudah beristirahat di angka enam, jemaat yang hadir didominasi oleh anak-anak kecil yang memakai seragam berwarna putih merah (mereka hendak berangkat kesekolah), anak-anak itu mulai sedikit gelisah, karena mama kyai belum juga menyelesaikan doanya, padahal tepat pukul tujuh mereka sudah harus duduk rapi di kursi dalam kelas masing-masing.
“Bibarokati Al-fatihah…”
Mama kyai mengakhiri do’anya dengan surat Al-Fatihah, selesai itu keadaan hening, anak-anak itu hampir semua menatap pada mama kyai, mama kyaipun tersenyum dan mengganggukan kepala pada mereka dan satu… dua… tiga… tidak sampai dihitungan keempat, anak-anak itu sudah ribut berebut semua makanan yang diletakkan ditengah mesjid, keadaan benar-benar tak terkendali, ribut, ricuh, berisik, ah… pokoknya berbagai situasi dan kondisi benar-benar kacau balau, ada yang mengambil makanan-makanan itu sembali cekikikan tertawa puas, ada yang menangis makanannya direbut yang lain, pokoknya benar-benar meriah.
Aku menghela napas panjang, melihat mereka begitu ceria dengan dalam acara tahunan ini, aku teringat pada masa-masa kecilku dulu dimana aku menjadi salah satu dari teman-temanku melakukan apa yang sekarang ini aku saksikan dari anak-anak dikampungku.
Garoet 25 02 09 06 30 (mohon maaf untuk makanan-makanan yang tidak terabsen diatas, bukan bermaksud melecehkan apalagi melupakan dengan tidak mencantumkan semua makanan yang hadir di tengah-tengah pengajian rebo kasan, itu tidak lain karena jumlah dan jenis kalian terlalu banyak, sehingga menulitkan untuk menyebutnya satu-persatu sekali lagi mohon maaf, harap maklum).
09.19 | Labels: 2. Cerpen, Pena Kun-Geia |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
- Menjadi seperti anak kecil
- Dahsyatnya Bershalawat
- Raja Diraja
- Melihat Rasulullah dalam Tidur
- Selamat Ulang Tahun, Wahai kasihku Rasulullah….
- 70 Malaikat perlu 1000 hari untuk menulis pahala amalan ini
- Diberikan kunci Surga dan diharamkan dari api neraka, mau?
- Ketaqwaan yang Aku Cari, Bukan Kata Kata Basi
- Kata Maestro Sastra Indonesia; Ini BENCANA Besar!
- Wahai Kekasihku
- Proses Kreatif Pembuatan THE LOST JAVA
- Lomba Renensi THE LOST JAVA
- The Lost Java - Kun Geia
- THE LOST JAVA - Testimoni Rini Selly
- THE LOST JAVA - testimoni Dila Saktika Negara
- 1. Puisi (89)
- 12 rabiul awal (1)
- 2. Cerpen (61)
- 3. Artikel (30)
- 4. Pena Laboratory (4)
- 5. Resensi (7)
- 6. Download (2)
- Dzikir (1)
- Fiksi (2)
- Indonesia Bershalawat (5)
- lomba (2)
- muaulid (1)
- Muhammad (1)
- Novel (2)
- Pena Chiaki (1)
- Pena Choop (4)
- Pena Depiyh (15)
- PENA Kahlil Gibran (3)
- Pena Kun Geia (1)
- Pena Kun-Geia (153)
- Pena Langit Senja (7)
- Pena Lies (5)
- Pena Mei (7)
- Pena Sashca (5)
- PENA Tere-Liye (4)
- Rasulullah (1)
- The Lost Java (1)
Arsip
- November 2020 (4)
- Oktober 2020 (1)
- Agustus 2019 (2)
- Februari 2015 (1)
- Mei 2013 (1)
- Agustus 2012 (1)
- Juli 2012 (2)
- Juni 2012 (1)
- April 2012 (2)
- Desember 2010 (1)
- Agustus 2010 (2)
- Juli 2010 (7)
- Juni 2010 (1)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (2)
- Maret 2010 (5)
- Februari 2010 (6)
- Januari 2010 (1)
- Oktober 2009 (3)
- September 2009 (6)
- Agustus 2009 (16)
- Juli 2009 (15)
- Juni 2009 (8)
- Mei 2009 (7)
- April 2009 (26)
- Maret 2009 (15)
- Februari 2009 (34)
- Januari 2009 (22)
- Desember 2008 (1)
- November 2008 (6)
- Oktober 2008 (19)
0 comments:
Posting Komentar