"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"

Tampilkan postingan dengan label 2. Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Cerpen. Tampilkan semua postingan

Ketaqwaan yang Aku Cari, Bukan Kata Kata Basi

Flash cerpen ini adalah kisah fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh, karakter, atau alur, itu semata hanya KESENGAJAAN belaka agar pembacanya sadar.

(♂): "Kau lah belahan hatiku..."
(♀): "maaf, aku bukan tukang jagal pasar yang suka belah-belah organ dalam."
(♂): "Kaulah tulang rusukku yang hilang"
(♀): "nuduh ya? maaf, aku bukanlah pencuri karena tidak pernah merasa mengambil tulang rusuk punya orang."
(♂): "Kaulah hidup dan matiku"
(♀): "Hus...!!! aku bukanlah Tuhan yang memiliki kekuasaan menghidupkan dan mematikan."
(♂): "Kaulah separuh napasku"
(♀): "Enak aja... aku bukan tabung oksigen."
(♂): "Kaulah bidadariku"
(♀): "Whew... emang pernah liat bidadari? maaf aku ini manusia, bukan mahluk gaib."
(♂): "Kau lah..."
(♀): "sudah cukup... tak usah banyak kata, jika agamamu baik, kenapa pula kau datangi aku dengan kalimat-kalimat itu, bukannya kau datangi orang tuaku, maaf... kata-katamu takkan mempu membuka gerbang hatiku, ketakwaan yang aku cari bukan kata-kata basi..."
(♂): hiks... hiks... T_T


by: Kun Geia

NB: catatan lamaku yang dipindahkan dari dari blog terdahulu yang sudah terhapus: maribershalawat.multiply.com

Read More...

LOMBA CERPEN 2011




Bismillahirrahmaannirrahiim…
"Sujud syukur kami padamu-Mu ya Rabbi, shalawat dan salam terbaik kami untukmu wahai baginda penghulu para Nabi, serta Do’a terindah kami bagi anda para pencinta Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam."

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh…

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
”Tidaklah beriman seseorang sehingga ia mencintaiku lebih dari keluarganya, hartanya dan siapapun juga.” Dalam riwayat lain: “lebih dari anaknya, orangtuanya dan siapapun juga”.
(HR. Muslim)

Indah sekali bunyinya, agung sekali kandungannya, dan teramat besarlah pahala bagi mereka yang merenungi dan mengamalkannya dengan istiqamah, Subhanallah...
Tergetarkah dasar jantung anda?
Tersentuhkah langit hati anda?

Demi Allah, tidaklah diperdengarkan namamu ya rasul pada orang-orang yang mencintaimu kecuali mereka tersentak gembira dan hilanglah segala kesedihan. Maka bergetarlah ruh-ruh mereka merindukan pertemuan dengan Nabinya, sebagaimana para sahabat merindukannya. Begitulah keadaan para kekasih Allah swt yang selalu dalam naungan kelembutan Nya, Yang dari Nya dan Milik Nya segala kelembutan.

12 rabiul awal… benar-benar hari yang istimewa, hari dimana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam terlahir dimuka bumi, begitu besarnya rasa bahagia kami dikarenakan kelahiran beliau, maka sebagai bentuk syukur, kami bermaksud mengadakan syukuran kecil-kecilan berupa Lomba Cipta Cerpen Bermakna, bertemakan “Antara Aku, Rasulullah, Cinta dan Kerinduan Diantara Kita”, maka hanya pahala dari Allah lah yang kami harapkan serta manfaat dan keberkahanlah yang kami inginkan dari syukuran kecil ini.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.Ibrahim: 7)

Kami mengajak anda untuk meluangkan waktu dalam merenungkan dan memikirkan karunia yang telah diberikan kepada kita, dimana terlahirnya rasulullah saw ke dunia ini adalah salah satu karunia besar yang kita prioritaskan untuk disyukuri. Bentuk rasa syukur itu akan menjadi abadi tatkala dibagi dengan sesama lewat sebuah karya yang tergores tinta, maka dari itulah lomba ini kami hadirkan.

Anda memiliki cerita yang berhubungan dengan Rasulullah yang begitu berkesan bagi anda?
Atau anda pernah mendengar cerita dari teman-teman anda mengenai Rasulullah yang memberikan anda motivasi, inspirasi atau hikmah-hikmah baru?
Atau anda pernah membaca kisah-kisah cinta dan kerinduan menakjubkan para sahabat pada Rasulullah?

Jika ada, abadikanlah dalam tulisan dengan gaya tinta anda sendiri, kirimkanlah dalam Lomba Cipta Cerpen Bermakna, Adapun berbagai ketentuannya adalah sebagai berikut.

1.Tahapan lomba
- Batas terakhir Pengiriman Karya: 12 Rabiul Awal 1432 H
- Pengumuman nominator 30 besar: 30 Rabiul Awal 1432 H
- Pengumuman Cerpen 3 terbaik: 12 Rabiul Akhir 1432 H

2.Penghargaan lomba
- karya terbaik nomor 1: Uang tunai Rp. 500.000
- karya terbaik nomor 2: Uang tunai Rp. 400.000
- karya terbaik nomor 3: Uang tunai Rp. 300.000

3.Ketentuan lomba
- Cerpen tidak melanggar syariat Islam, bermuatan pornografi dan SARA.
- Cerpen harus karya asli penulis/pengarang; bukan terjemahan atau saduran.
- Ide/inspirasi cerita boleh diambil dari pengalaman sendiri (lebih diutamakan) atau pengalaman orang lain yang diceritakan dengan bahasa penulis sendiri, atau pengalaman para sahabat Nabi dengan sanad yang terpercaya.
- Cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa, dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain.
- Cerpen diketik dengan komputer dalam kertas A4 spasi 1,5 Times New Roman 12 point. Panjang maksimal 10 halaman;, dan diberi nomor halaman.
- Peserta boleh mengirimkan karya terbaiknya maksimal 3 karya.
- Peserta lomba TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN
- Karya di kirim ke email maribershalawat@yahoo.com
- Info terbaru/up date lomba dan daftar peserta yang masuk bisa dilihat di (http://maribershalawat.multiply.com)

4.Kriteria penilaian
Karya minimalnya memenuhi sekurang-kurangny satu dari kriteria berikut:
1.Kesesuaian isi cerita dengan tema
2.Kekuatan dalam memberi pesan/makna
3.Kekuatan dalam Menggugah/menyentuh
4.kekuatan dalam Menginspirasi/Memotivasi
5.Kekuatan dalam menyajikan alur dan penokohan
6.Keindahan tata bahasa dan daya tarik cerita

5. Juri
1. http://flpyogya.multiply.com : Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Yogyakarta periode 2008-2010
2. http://halamaharis.multiply.com : Koordinator Kaderisasi Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Yogyakarta periode 2008-2010
3. http://tazkiatunnafs.multiply.com : Penikmat sastra dan Alumnus UIN Jakarta
4. http://maribershalawat.multiply.com : Penikmat sastra dan pengasuh “rumahku shalawatku”
5. http://penaripena.multiply.com : Trainer lembaga pelatihan kepenulisan PENARI PENA WRITING LABORATORY

Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun.

Demikian pemberitahuan lomba ini kami sampaikan. Betapa bahagianya kami jika anda berkenan memberitahukan/mengajak kepada saudara-saudari yang lain untuk ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Silahkan “copas” pengumuman lomba ini untuk dipostingan di halaman web/site/blog anda.
Jazakumullah khairan katsiran

Wahai pemilik Muhammad Rasulullah saw, Wahai pemilik Ummat Muhammad saw, Wahai pemilik kelembutan Muhammad saw, Wahai pemilik seruan Muhammad saw, Jadikanlah site kami ini:

“RUMAHKU SAHALAWATKU”
http://maribershalawat.multiply.com

sebagai sarana yang menghiasi hati kami, rumah kami, keluarga kami, sahabat-sahabat kami, Dan jadikanlah kami orang-orang yang benar-benar menjawab seruan Muhammad Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(Q.S. Al-Ahzab:56)

Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Mari Berinvestasi Akhirat dengan Mencintai Nabi


Penyelenggara
http://maribershalawat.multiply.com


sumber: http://maribershalawat.multiply.com

Read More...

terluka dan terobati

benci, kecewa, marah dan terluka... mendengar sebuah kabar yang amat kunantikan tetapi tak ku inginkan. kabar itu datang bersama badai yang amat menghancurkan hatiku. haruskah aku terpuruk lagi untuk kesekian kalinya???? mengapa harus aku yang dia hancurkan????
dia datang dan pergi sesuka hatinya tanpa pedulikan perasaanku. mengertikah dia kalau aku terluka dengan semua yang dia lakukan padaku???? mengertikah dia betapa aku amat mengharapkan kehadiran nya didalam kesendirianku???
aku memang tak berhak memaksanya kembali kesisiku karena aku bukan siapa - siapa. dimatanya dan orang tuanya aku hanyalah seorang perempuan bodoh yang tak pantas berdampingan dengannya. memangnya siapa yang berhak menentukan pantas dan tak pantas? bukankah diamata Allah semua manusia sama derajatnya?
aku ingin kembali bersama dia, aku ingin menjadi pantas untuknya, aku ingin diterima oleh keluarganya, aku ingin...aku ingin... tapi itu dulu...
kini aku mengerti dan bisa menerima, karena seseorang telah membangunkan aku dari lamunan panjang tentang nya. aku mengerti kalau mencintai bukan berarti memiliki. mengerti kalau Allah pasti punya rencana indah untuk ku. yah, memang hanya Allah yang pasti mencintai umat-Nya tanpa pernah meninggalkannya.
kini aku dapat dengan tegas mengatakan 'selamat tinggal' pada bayangnya, dan aku ikhlaskan hatiku untk menunggu seseorang yang dikirimkan Allah untuk ku.
ya Allah... aku serahkan semua rencana hidup dan matiku pada kuasa-Mu...

Read More...

Kado Kecil Untuk (Calon) Mempelai Wanita

Wahai cucu kesayangan Hawa! Aku tahu engkau merindu, aku bisa merasa apa yang engkau rasa, dan memang tidaklah ringan untuk belajar menahan gejolak hati yang tak henti genit menggoda mesra, tapi tahukah bahwa menunggu adakalanya terasa begitu mengasyikan? dan rindu yang terpelihara, itulah pertanda bahwa engkau jatuh pada cinta yang suci terjaga!

Ujung cerita penantian ini memang belum dibukakan secara keseluruhan, sebab Dia masih asyik berpuisi dalam diam-Nya, oleh karena itu janganlah berhenti merangkai pinta dalam alunan orkestra doa-doa, karena penantian ini pasti akan segera bertemu akhirnya ketika sulaman rapi kesabaran kita sudah diizinkan menemui ujung benangnya.

Wahai pengagum Khodijah, Aisyah dan Fatimah, bagaimana nanti engkau akan bisa mendampingi perjuanganku andai saat ini kesabaranmu kalah oleh denting waktu, bagaimana engkau bisa kuat menopang pundakku jika saat ini jiwamu melemah hanya karena belum kunjung datangnya waktu pertemuan yang mempersatukan, maka kuatkanlah dirimu dan Tersenyumkah! insya Allah ikrar untuk janji yang kuat itu takkan lama kusimpan untuk terucapkan.

Dan hari ini… dengarlah! dengarlah! Putik-putik kembang merdu berdendang, lihatlah! lihatlah! Kaki-kaki angsa indah berdansa, mereka semua kuminta datang menghadapmu untuk mempersembahkan salamku atas kedatangan usiamu yang menapak di dua puluh kali revolusi bumi.


Yogyakarta, 10 10 09
(10/10/09 telah menggenapkan usia nafasmu menjadi 240 bulan, selamat berulang hari kelahiran! dan 10/10/10 sudah semakin mendekat, Isya Allah…)

Read More...

Cinta Mentari

“Bunda..apa cinta itu bisa dilihat?”
Bunda tersenyum menatapku. Di elusnya rambutku yang lurus. “Cinta tidak bisa dilihat sayang. Dia hanya bisa dirasakan. Seperti hembusan angin. Kau hanya bisa merasakan kesejukannya, tak bisa melihat wujudnya seperti apa. Tapi, kenapa tiba-tiba kau menanyakannya?”
Aku tersenyum. “Tidak mengapa bunda. Aku hanya ingin tau saja”
“Apa kau sedang jatuh cinta?”, Bunda menatap penuh rasa penasaran.
“Entahlah Bunda, Aku sendiri tidak tau. Aku tak tau apa yang kurasa ini memang cinta atau bukan.”
“Apa Bunda mengenalnya?”
Aku menganggukkan kepala.
“Apa kau ingin selalu berada dekat dengannya?”
Sekali lagi aku menganggukkan kepala.
“Apa ia selalu ada dalam do’a-do’amu?”
Lalu, aku mengangguk yakin.
“Syukurlah…”, kata bunda. “Lalu apa yang akan kau lakukan, anakku? Bukankah kau ingin selalu dekat dengannya?”
“Ya Bunda. Aku memang ingin selalu dekat dengannya. Tapi sebelum aku mendekat dengannya, aku lebih dulu harus mendekatkan diriku pada Dzat yang nantinya akan mendekatkanku padanya. Hingga saat tiba waktunya nanti, kedekatanku padanya bisa lebih mendekatkanku lagi pada-NYA.”
“Bagaimana dengan do’a-do’amu? Apa kau selalu mendo’akannya?”
“Do’aku tetap untukmu yang terutama, Bunda. Do’aku untuknya pun kan tetap ada. Aku ingin ia selalu dalam kebaikan. Selalu dalam lindungan-NYA.”
“Itulah cinta anakku. Sesuatu dimana kau ingin selalu dekat dengannya. Sesuatu dimana kau tak pernah lupa untuk mendo’akannya. Seperti cintaku padamu. Cinta seorang Ibu kepada anaknya. Cinta, dimana ia tak ingin jauh dari anaknya. Cinta, dimana ia kan selalu mendo’akan anaknya. Begitu juga Cinta Tuhan kepada hamba-NYA. DIA ingin kita selalu dekat dengan-NYA.”
Aku tersenyum. Dalam pangkuan bunda, kutidurkan kepalaku dengan manja diatasnya. “Apa Tuhan mencintaiku, Bunda?”
“Tentu sayang. Kau pun juga harus mencintai-NYA.”
“Dengan cara?”
“Mematuhi perintah-NYA dan menjauhi apa yang dilarang-NYA.”
“Hanya itu?”
“Ya. Hanya itu. Niscaya, ketika Tuhan mencintai hamba-NYA maka DIA akan perintahkan malaikat untuk memberi kabar pada seluruh dunia dan isinya, bahwa DIA sangat mencintai hamba-NYA itu. Dan memerintahkan semua makhluk ciptaan-NYA untuk juga mencintai hamba-NYA yang IA cintai itu.”
“Kalau begitu, aku akan merebut cinta-NYA”.
“Rebutlah cinta-NYA, anakku. Cinta yang paling hakiki”.
“Cinta yang akan mengumpulkan kita di Syurga-NYA kelak”.
“Bunda yang akan menjemputmu di pintu Syurga nanti. Bunda janji”, Bunda mengelus pipiku. Aku terlelap dalam pangkuannya.

***

“Mentari…Bangun nak, sudah pagi. Masak kalah sama matahari, yang sedari tadi sudah mengintip lewat celah jendera kamarmu”, Suara Ayah membangunkanku dari pangkuan bunda.
“Ayah.…tadi Mentari mimpi Bunda.”

Read More...

fatwa hati

"APAKAH SEMUA HANYA MAIN-MAIN
DAN SENDA GURAU BELAKA?"


kuminta fatwa pada hati untuk sebuah kebingungan akan suatu urusan yang meragukanku.

"Kun-Geia... Apakah saat ini engkau masih bernafas? apakah jantungmu masih berdetak?"

hatiku malah balik bertanya, dan pertanyaan itu adalah pertanyaan yang tak perlu ku jawab karena dia sendiri tahu jawabannya.

"itu pula yang aingin aku katakan padamu Kun! kamu memberiku pertanyaan yang tak perlu ku jawab karena kau sendiri tahu apa jawabannya!"

masya Allah, orang lg bingung malah ditambah kebingungannya dengan metafora yang tak biasa.

"baiklah kalau kau pura-pura tak mengerti, singkatnya, ketika Nuh as menyeru umatnya untuk bergegas menaiki perahunya, hanya sebagian kecil yang mengamininya, dan beliau Nuh as. tidak memaksa mereka yang tidak mendengar ataupun masa bodoh dengan seruannya padahal seruan itu untuk kebaikan mereka bukan untuk kepentingan Nuh as. walaupun Nuh as. sedih, walaupun beliau prihatin (karena isteri dan anak-anaknya memilih keinginannya sendiri-sendiri), tapi tetap saja beliau sadar bahwa kuasanya hanya terbatas pada usaha, sedangkan keputusannya adalah milik Allah Yang Maha Kuasa Membolak-Balikan Hati. renungkanlah... Rasulullah sendiri tak kuasa untuk mengislamkan pamannya Abu Thalib walaupun beliau saw telah berusaha sekuat beliau bisa, tetap saja keputusan Dialah yang menentukan semuanya, nah... sekarang, ketika engkau telah menyeru, biarkanlah putusan-Nya yang berlaku atas mereka yang kau seru, jika sebagian dari mereka mendengar dan taat, peliharalah dia, namun jika sebagian atau bahkan semuanya membangkang atau memusuhi, itu bukan urusanmu lagi! masih banyak orang yang bisa kau seru dan mendengarkan seruanmu, berpalinglah pada mereka yang tidak menganggap seruanmu sebagai main-main atau senda gurau belaka, OK kun!!!"

"Ok!!! gairahku telah kembali!"

Garut 23 09 09 08 42 (utk adikku di bawah indahnya langit senja, thanks a lot, you was charge my power)

Read More...

10 Hari Bertamasya (GRATIS), mau???

Assalamu’alaikum.
Ada kabar baik untuk para pengunjung setia penaripena.blogspot.com, kami segenap jajaran direksi penari pena writing laboratory akan mengajak anda untuk bertamasya selama sepuluh hari (gratis), kita akan jalan-jalan bersama menjelajahi dunia yang terlupakan, anda tertarik?

Inilah rencana tamasya yang akan kami adakan bersama anda yang berminat.
Hari pertama tamasya, kita akan pergi ke berbagai kolong jembatan di negara-negara miskin dan berkembang, disana kita akan melihat kehidupan para manusia yang ditakdirkan selalu kepanasan ketika siang dan kedinginan ketika malam, terusir atas nama ketertiban dan keindahan, tersisihkan bersama penderitaan atas nama ketololan dalam kemasa bodohan pemerintahan.

Hari kedua, kita akan bertamasya ke negara-negara miskin di afrika, kita disana akan menyaksikan bagaimana orang bererbut air kencing dari sapi-sapi kurus untuk sekedar menghilangkan haus di tenggorokan dan tentunya supaya mereka tetap bisa hidup di musim kemarau yang panjang di negaranya, kita akan melihat banyak lalat-lalat berterbangan di sekitar mayat-mayat yang bergelimpangan dengan perut membuncit dalam busung lapar dan mulut terbika dalam lapar dan kehausan.

Hari ketiga, tamasya kita direncanakan ke rumah sakit-rumah sakit persalinan, disana kita kan banyak menemui bayi yang terlahir tanpa tangan, atau tanpa kaki, atau tanpa batok kepala, atau berbibir sumbing, atau bermata buta, atau berdempet kembar siam hanya dengan satu jantung untuk dua tubuh. Setelahnya kita akan melanjutkan ke rumah sakit jantung, paru-paru, kankerdan rumah sakit umum yang berisi berbagai orang yang sedang berterung melawan cakar kuku-kuku izroil dalam penyakit mereka.

Hari keempat, kita akan bertamasya ke negara-negara yang terdzalimi di tumur tengah, palestine, irak, afghanistan, libanon dan negara-negara lain dengan nasib serupa, disana kita akan mendengar jeritan, tangisan, rintihan, ledakkan, tembakkan, penganiayaan, kekerasan dan berbagai bentuk penindasan tidak berprikemanusiaan, tiada kemananan, tiada ketentraman, tiada kedamaian.

Hari kelima, kita akan pergi ke rumah sakit-rumah sakit jiwa, bercengkrama dengan mereka yang frustasi, depresi, sterss berat, mereka yang kencing dan berak di ditempat mereka berada, mereka yang sesaat menangis sesaat kemudian tertawa, mereka yang dicabut akalnya hingga tak ubah seperti gumpalan daging yang masih bisa bergerak tapi tak punya fungsi dari kenapa dirinya masih ada dan untuk apa dia hidup.

Hari keenam, kita akan masuk ke dalam hutan belantara, dimana disana tidak ada penghuni selain hewan buas dan pepohonan tua, tidak ada sinar matahai, tidak ada peradaban, gelap, sepi, hening, mencekam.

Hari ketujuh, kita akan pergi ke antartika, teramat dingin, terpencil, tidak ada tumbuhan, hewanpun hanya pinguin dan hiu putih, siang 23 jam 45 menit dan malam 15 menit di musim panas, siang 15 menit dan malam 23 jam 45 menit di musim dingin, suhu rata-rata minus 35 derajat celsius, tidak ada hujan, hanya hembusan angin dingin di selingi longsor es.

Hari kedelapan, kita akan pergi ke gurun pasir, panas, dehidrasi, hamparan pasir tak berujung, sengatan panas matahari.

Hari kesembilan, kita akan pergi ke planet mars, tak beroksigen, tak berair, tak berpenghuni, begitu panas, begitu dekatnya dengan matahari, tidak ada kehidupan sama sekali.

Setelah serangkaian tamasya itu kita lewati, maka di hari kesepuluh kita akan kembali ke tempat masing-masing dimana anda sekarang hidup, anda sekarang berada, anda sekarang diberi karunia, anda sekarang bercengkrama dengan keluarga.
Jika anda berminat dengan rencana tamasya kami, segera daftarkan diri anda dengan mengirimkan surat permohonan partisipasi tamasya diri. Tujukan ke alamat sonopakis lor no 362 Yogyakarta, di pojok kanan amplop tulis keterangan “kami orang-orang yang tidak bisa/susah bersyukur kepada-Nya”

Yogyakarta, 05 09 09 21 33 (untuk adikku yang katanya sedang “futur”, Maka nikmat Tuhan “kamu yang manakah yang kamu dustakan?”)

Read More...

Mari kita buat cerita bersama

Assalamu'alaikum wr. wb.
di comment postingan "mari kita buat cerita bersama" ini, saya telah memulai sebuah cerita, untuk semua anak Komunitas Penari Pena atau pengunjung lain, silahkan anda semua sambung cerita itu menurut versi atau kehendak anda masing-masing, terserah cerita ini mau dibawa kemana arahnya, anda mau menambahkan tokoh lain, berpindah alur atau tempat, mematikan nyawa tokoh-tokoh yang sudah adapun tak apa, disini tak ada salah dan benar dan tak ada bagus atau jelek, prinsipnya hanya satu: sambung saja cerita itu dengan tidak membuat Tuhan-mu dan Tuhan-ku marah.

silahkan sambung dengan mempostingkan cerita anda di comment, dan kita akan terkejut ketika semua cerita telah dikumpulkan bersama menjadi "cerita yang telah kita buat bersama".

Read More...

Lastri

"Mas, Lastri pamit mas...." terakhir kali istriku bilang begitu disela tidurku, paginya ia sudah jauh entah kemana.

Tidak. Aku tak menyesal. Ini lebih baik buatnya. Lebih baik istriku minggat. Biar ia melacur, biar ia pulang ke rumah orang tuanya, atau bahkan ia menjemput kematian di rel kereta api. Itu sudah jadi keputusannya. Aku takkan menjemputnya, kalau ia ingin pulang, pasti dia pulang dan aku harap itu tak terjadi. Kami sudah hidup bersama lebih dari dua puluh tahun, tanpa anak. Kami sudah tahu bagaimana karakter masing-masing.
Hidup bersamaku mungkin jadi pilihan berat buat Lastri. Ah...istriku yang satu itu sudah terlalu banyak berbuat baik buatku dan dia penurut sekali. Umur kami beda tiga belas tahun, tapi dia tetap memanggil suaminya ini dengan panggilan 'mas', padahal aku lebih cocok jadi pamannya. Terus terang, aku yang melarikan dia dari rumahnya. Bukan, lebih tepatnya memaksa ia tinggal jauh dari orang tuanya, karena aku tak tahan dengan perilaku ibunya yang suka menghinaku, mentang-mentang aku jadi pekerja pabrik bergaji kecil waktu itu.
Setelah pergi dari rumah orang tua Lastri. Kami membangun kehidupan baru, sepuluh tahun kami bahagia meski tanpa anak, aku mandul kawan dan dari awal Lastri sudah tahu itu. Di tahun kesebelas, musibah menimpaku, kecelakaan kerja membuat kedua kakiku terpaksa diamputasi. Sungguh, waktu itu aku menangis keras sekali di pelukan Lastri. Bukan karena aku menyesal tak bisa berjalan lagi, tapi karena aku belum bisa membahagiakan Lastri. Aku kalut, waktu itu dalam pikiranku cuma ada kalut dan menyesal, bagaimana aku bisa begitu ceroboh hingga bisa celaka. Bagaimana aku mencari nafkah nanti, Lastri belum sempat punya banyak baju baru, aku belum belikan dia perhiasan-perhiasan yang ia sukai, aku belum belikan makanan-makanan yang belum sempat ia cicipi. Akh!!!

Sore sebelum Lastri pergi, kami bertengkar. Sudah sembilan tahun ia berpuas diri bekerja serabutan demi menghidupi kami berdua dan aku muak. Aku muak dengan diriku. Malam itu aku ingin menyuruhnya pergi dan aku menyulut kemarahannya, kubuat ia marah sebisaku. Aku katakan hal-hal sadis padanya, kukatai ia sekenaku hingga aku iangin menangis saking sakitnya hatiku, tapi ia bergeming seolah ia tak mendengar apapun. selesai aku bersumpah serapah, ia menyiapkan makan malam seadanya dan membaringkanku di lincak bambu. Aku masih memasang wajah masam agar ia tahu aku seruis marah padanya. Malamnya ia pergi,entah karena kesal atau entah ia tahu bahwa aku berpura-pura.
Aku bersyukur ia benar-benar pergi, biarlah laki-laki tua ini membusuk sendirian. Aku ingin kamu bahagia, cuma itu Lastri, karena denganku, kamu cuma bisa memakan penderitaan sepanjang hidupmu.

Lamunanku terhenti, hari sudah siang, senyap sekali karena tak ada Lastri dirumah ini. Aku berguling ke lantai, menarik tubuhku ke dapur, aku haus. Sampai di ambang pintu kulihat pintu ruang tamu terbuka dan kulihat sosok Lastri yang menangis. Serta merta ia jatuhkan bawaannya lalu ia berlari memburuku dan memelukku yang masih terduduk di lantai dengan erat. Entah di sebelah mana dari hatiku tiba-tiba terasa lega, lega karena melihatnya. Aku menangis, terakhir kali aku menangis adalah saat kecelakaan itu terjadi, dan kini aku menangis lagi. Nuraniku menjerit, ternyata sedetikpun aku tak ingin ia tinggalkan, sekejappun tak ingin aku tak merasakan kehadirannya. Sudah berapa lama aku tak merasakan perasaan yang meluap-luap begini.
Kelu kugerakkan bibirku, "Lastri..." aku berdebar-debar sementara istriku terus menangis memelukku, "Maaf...".
Bola mata Lastri yang berkaca-kaca sekonyong-konyong menatapku, "Mas..." dia memanggil namaku lirih, air matanya makin deras mengalir. "Seburuk apapun kamu, kamu suamiku mas..." napasnya tersengal. "Jangan suruh aku pergi dengan cara seperti itu lagi mas...", Lasri mengencangkan pelukannya, "Lastri nggak bisa pergi mas...Lastri..." suaranya sudah tak keluar, tangisnya makin keras, badannya berguncang keras. "Tampar aku Las...", aku berbisik ditelinganya. Lastri menggeleng kencang. "Sadarkan aku Las...aku sudah berbuat bodoh...", aku membujuknya. Lastri menggeleng, "Kau bunuh aku pun, aku takkan dendam mas...". "Lastri...Lastri...Lastri...Lastri...." kupeluk ia. Kusebut namanya puluhan kali. Biar ia tahu aku menyesal, biar ia tahu betapa aku mencintainya. Aku mencintai istriku. Aku mencintai Lastri.

Read More...

Surga Menjerit-Jerit Karena tak Kuasa Menahan Rindu

Ketika aku membuka mushaf, kutemukan sebuah buku kecil bertuliskan “buku prestasi santri dan kredit dirosah” milik adikku dulu sekali ketika dia masih duduk di bangku TK (2001), apa yang menarik dari buku ini, di bagian belakangnya terdapat IKRAR SANTRI, berikut saya lampirkan untuk anda.
Ikrar Santri,
Kami antriawan santriawati TK Al-Qur’an Indonesia.
Demi baktiku kepada Ilahi dan cintaku kepada Al-Qur’an suci,
Aku berjanji:
1. Rajin sholat sepanjang hayat
2. Tak lupa mengaji setiap hari
3. Berbakti kepada ayah ibu
4. Taat dan hormat kepada guru
5. Menuntut ilmu tiada jemu
6. Setia kawan dan saling memaafkan.
Subhanallah… ikrar anak-anak yang masih sangt kecil dalam usia sungguhlah mulia, jadi teringat pesan kyai kami setelah selesai shalat tarawih tadi malam yang salah satu poinyya ada dalam ikrar santri itu.
“Ger… surga itu kena pelet oleh sebagian orang hingga saking rindunya pada mereka yang telah memelet, surga itu menjerit-jerit minta pada Allah supaya segera memasukkan golongan orang-orang itu kedalamnya (ke dalam surga), kau tahu siapa saja orang yang termasuk kedalam kriteria manusia mulia yang diharapkan serta dirindukan oleh surga itu:
Pertama adalah orang yang banyak membaca Al-Qur’an di bulan ramadhan
Kedua adalah orang yang memberi makan orang yang lapar
Ketiga adalah orang yang menjaga lisannya
Dan terakhir adalah orang yang puasa di bulan ramadhan.”

Garut 24 Agustus 09 (wahai saudara-saudaraku, mari kita berlomba-lomba me-melet surga dengan Al-Qur’an, lisan, makanan dan puasa kita, kita buat surga tak berdaya karena gelora asmaranya yang merindu kita yang termasuk ke dalam kriteria).

Read More...

Laskar Keriput, Laskar Batuk-Batuk dan Laskar Bungkuk

Kubuka notebook mungilku, kutekan tombol power, setelah windows menampakkan diri, kuhantam icon microsoft word dengan kursorku hingga dua kali.
Apa yang ingin ku tulis ya? Hmm… apa aja lah yang penting nulis.
Tapi…
Setelah dipikir-pikir…
Meski menulis sekedarnya, aku tetap tak boleh melahirkan tulisan dengan kaliber sampah!
Tulisanku akan dibaca banyak orang, dan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya suatu saat kelak.
Ok!
Begini saja…
Karena hari ini kebetulan hari pertama puasa ramadhan, akupun akan menulis sesuatu tentangnya, dan juga kebetulan saat ini aku sedang berada di serambi Mesjid Agung Garut, mesjid yang terlalu sering menemaniku menarikan pena di kala senja mulai menjelma (biasanya sekitar pukul setengah lima sorean).
Disini begitu ramai (terlebih sekarang hari pertama puasa). Orang-orang berkumpul di lapangan halaman mesjid yang teramat luas dengan berbagai kegiatan masing-masing, ngabuburit! Itulah istilah kami menyebutnya untuk menunggu datangnya waktu buka puasa. Tapi bukan hal ini yang ingin kubicarakan, ini hanyalah muqadimah (untuk memanaskan mesin diesel di tangan, otak dan hati sehingga tulisanku bisa langsung panas).
Begini… setiap tahun, dari pertama kali aku mengenal rumah ibadah yang bernama mesjid, setiap hari pertama puasa (biasanya sampai hari ke 10 atau lebih sedikit), mesjid benar-benar sesak dipenuhi jemaah.
Laki, perempuan, (bahkan beberapa orang yang setengah pria setengah wanitapun ada), tua renta, pertengahan, muda, belia hingga anak-anak ada disana, beberapa bahkan harus pulang kerumah karena tak kebagian ruang untuk melaksanakan shalat tarawih, inilah fenomena yang ingin kubicarakan disini.
Langsung ke pokok permasalahan yang tak sabar ingin aku muntahkan!
Kenapa sampai beredar pelecehan nabi dalam bentuk karikatur?
Kenapa sampai terjadi pembantaian-pembantaian umat muslim di berbagai belahan penjuru dunia?
Kenapa kita hanya seringnya berteriak dalam harap bahwa kejayaan islam akan kembali ke tangan kita tapi kita tak pernah bisa memastikan atau bahkan memulai pengambil alihan kejayaan itu dari tangan-tangan mereka yang harusnya segera binasa?
Hmm… aku punya sedikit argumen (jika salah tolong diingatkan dan jangan pernah diikuti, jika benar tolong jangan dipuji cukuplah disampaikan pada orang lain di sekelilingmu wahai pembacaku yang budiman dan semoga selalu diridhoi Tuhanku jika kita memang memeluk agama yang sama, jika tidak minta saja sendiri pada tuhanmu, jangan pada Tuhanku)
“Itu semua terjadi karena loyalitas (kesetiaan) serta cinta sebagian umat islam tidaklah kuat pada Tuhannya yaitu Allah Azza wa Jalla”
Silahkan protes dengan argumen itu, tapi tolong selesaikan dulu membaca tulisan ini.
Saksikan saja, maghrib mungkin masih memegang rekor sebagai shalat favorit umat ini, jamaah di mesjid masih yang terbanyak dihadiri.
Sekarang beranjak ke isya, tentunya lebih sedikit dari maghrib.
Subuh? Nanti… jangan bahas yang ini dulu!
Dzuhur? Waktunya makan siang atau berada di dalam perusahaan atau sekolah atau kampus atau pasar atau pertokoan dan atau-atau-atau lainnya.

Ashar, waktu terenak merebahkan tulang punggung setelah melaksanakan aktivitas seharian.
Subuh?...
“Kebanyakan yang mendominasi mesjid adalah mereka para laskar keriput, laskar batuk-batuk dan laskar bungkuk”
Woi… dimanakah kalian wahai para generasi mudaaa…
Iron stock penerus generasi agama dan bangsaaa…
Jawabannya kalau bukan masih tertidur pastilah masih terlelap, kalau bukan masih ngorok pastilah masih ngiler, kalau bukan sedang bermimpi pastilah sedang mengigau, kalau bukan sedang dipeluk selimut pastilah mata dan telinganya sedang dikencingi setan hingga ‘assholatu khairum minannaum’ yang saling bersautan dari satu mesjid ke mesjid lainnya tak mampu menembus gendang telinga atau sekedar sedikit membukakan mata.
Jikalau zionis atau ASU (artikan dalam bahasa jawa tapi membacanya dibalik dari U diakhiri dengan A) menggempur Indonesia dalam serangan fajar, yang akan paling depan melawan tentunya laskar-laskar yang kusebutkan tadi, sedangkan kaum mudanya… prediksiku mereka banyak yang mati konyol tertimpa bom atau reruntuhan ketika sedang terlelap dalam tidurnya.
Pantaslah islam seperti ini dan masih seperti ini dan entah sampai kapan terus seperti ini.
Sekarang dimanakah kejayaan itu?
Mari kita coba dari sekarang…
Sedikit berandai tak apalah…
“Andai saja jemaah sholat wajib di masjid terutama subuh bisa sepadat, sepenuh, sebanyak, sesesak, dan se-se-se lain seperti jemaah shalat tarawih di hari pertama bulan ramadhan”
Kejayaan akan datang bersujud dengan sendirinya di kaki islam, karena ketika hamba mendekati Allah Azza wa Jalla dengan berjalan, Allah mendekatiknya dengan berlari, hamba-Nya mendekati-Nya sejengkal, Allah mendekatinya sehasta, hamba-Nya mencintai-Nya sebesar biji zarrah, Allah mencintainya sebesar alam semesta, tidak percaya?
Coba saja dekati Dia,
Coba saja cintai Dia,
Dan kau akan tahu jawaban dari apa yang masih menggema sebagai tanya dikepala.
Trust me, it works!
Lihatlah… Tuhan sedang tersenyum menyaksikanmu, Dia rindu kau dekati, Dia rindu kau cintai, maka apalagi yang kau tunggu, kejar Dia, berhkhalwatlah segera bersama-Nya.
Selamat berdua-duaan!

Garut 22 agustus 09/1 ramadhan 1430 H, pukul 05.26 (hmm… napasku mulai bunyi ngik…ngik…ngik… lagi nih, ashma tampaknya bereuni ingin ikut berbuka puasa, padahal maghrib masih setengah jam lagi)

Read More...

Salah Satu Maha Guru Tarian Penaku

“Dibakar… Teramat Panas… Sempurna Lebur… Terlahir Kembali”

Aku tak mau menulis banyak terlebih bertele-tele, aku hanya ingin menuliskan paragraf ini:

Hari ini 13 Agustus 09 pukul 19.30-20.30 di acara “mengenal lebih dekat” yang tayang di TV one, beliau benar-benar membakar habis writing skill-ku yang masih diibaratkan bongkahan tembaga, beliau membakar bongkahan tembaga itu sampai tertempa di ribuan derajat Celcius hingga bongkahan tembaga itu mulai mencair dan siap dibentuk menjadi barang yang jauh lebih bermanfaat, berharga dan bernilai. Tunggu sebentar lagi bang… Insya Allah saya menyusul masterpiece tetralogi-mu.


Garut 13 08 09 20 40 (beliau adalah salah satu maha guru tarian penaku setelah Gibran, Tere-Liye dan kang Abik, beliau adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dari tanah Edensor… Andrea Hirata).

Read More...

Mencoba Mengerti Arti Sendiri

Gelap masih kurasa,padahal sang mentari sudah diatas kepala.Dingin,sunyi dan senyap tak pernah sudi meninggalkanku.Sepi menjadi raja dihati dan pikiranku.Kenapa?

Merenung,mencoba mengerti arti kesepian diri.Menggali makna dalam kegelapan hati.Kembali mencari setetes air untuk jiwa yg haus akan kepercayaan diri.

Setelah lelah ku selami hati yg paling dalam,kini aku mengerti.Hanya kebodohan yg kudapati dari arti kesepian ini.Mengapa ku selalu merasa sendiri,padahal ada TUHAN yg tak pernah pergi.ALLAH yg selalu ada,bahkan sampai dunia musnahpun.

Tuhanku,Allahurobbi..
Ampuni aku yg selalu merasa sendiri..

Read More...

the biggest book fair 2009

Untuk menghilangkan sedikit atau sekedar mengurangi keberkabungan hati ini atas kepergian sang maha guru (WS. Rendra), aku memutuskan untuk mencari obat, dan tentu saja obatnya adalah... buku!!!

Ba’da maghrib, motor kupacu berlari membelah ramainya jalanan Jogja di malam hari menuju jalan Janti untuk mendatangi suatu tempat yang bernama JEC (Jogja Expo Centre), kebetulan ditempat itu sedang ada the biggest book fair 2009.

Disana perasaanku beradu,
Aku BENCIII!!!
Tapi…
Aku BAHAGIAAA!!!
Benci karena uang yang berada di dompet terkuras dan hanya menyisakkan 3000 perak saja,
Bahagia karena kudapatkan 4 nutrisi psikotropika (sejenis opium atau CTM atau Morphin atau apalah) di book fair itu, ingin tahu apa saja jenis ke-4 psikotropika itu.
Ini dia:
1.VCD Juz ‘Amma Anak (Ahmad Saud & Al-Azzazzee), subhanallah… meskipun mereka masih anak-anak, suaranya benar-benar jernih berpadu dengan indahnya lagam qari yang dibawakan, anda harus memilikinya.

2.CD Perpustakaan digital, berisi lebih dari 4000 judul buku dalam bentuk e-book: Al-Qur’an dalam 8 bahasa (Arab, inggris, indonesia, Malaysia, Rusia, Jerman, Bosnia, Persia), ESQ, Hadits (sahih Bukhari, Muslim, Arbain) Sirah Nabawiyah, kumpulan e-book motivasi, bisnis, infestasi, cerpen-cerpen Republika, cerpen-cerpen Kompas, kisah teladan, dll (kalau disebutin semuanya kebanyakan… lebih dari 4000, bayangin aja! Dari subuh sampe subuh lagi cuma bayangin aja ga bakalan cukup waktunya).

3.Masterpiece of Erbe Sentanu dalam bukunya The Science & Miracle of Zona Ikhlas. Buku ini melengkapi buku pertama yang sudah 2 kali kuhatamkan (Quantum Ikhlas, teknologi aktivasi kekuatan hati), buku ini subhanallah banget deh! Rugi kalau anda tidak memiliki. (Sebenernya aku beli buku The Science & Miracle of Zona Ikhlas ini tidak sengaja atau lebih tepatnya terpaksa, pengen tau kenapa? Begini ceritanya… buku ini terletak di rak paling tinggi di stand Elex Media Komputindo, setelah sedikit kubaca ulasan di belakangnya, akupun mengembalikan buku itu ketempatnya semula, tapi tiba-tiba… tragedi itupun terjadi juga, buku yang kusimpan dalam posisi berdiri itu terhuyung kebelakang dan mendorong buku lain yang berdiri di belakangnya, akhirnya terjadilah apa yang disebut efek domino, kesemua buku yang berdiri di rak itu jatuh. Malu! Malu! Malu-maluin! Orang-orang pada ngeliat, ada yang tertawa, ada yang tersenyum ada juga yang cemberut dan beliau tentu saja sang penjaga stand itu, jadinya… beli deh!)

4.Dan akhitnya… Ini dia yang paling membuatku bahagia tiada tara, hingga tujuanku datang ke book fair untuk sedikit menghapus belasungkawa atas kepergian maha guru pun terlaksana, itu tidak lain karena kutemukan buku yang subhanallah nya sampai 100X, judulnya “Metode Bertemu Nabi SAW”, hmm… aku tak bisa mengulasnya untuk anda karena terlalu hebatnya buku ini, cari saja sendiri, pengarangnya Syaikh Yusuf Bin Isma’il Al-Nabhani, penerbit Darul Hikmah. Buku ini menyempurnakan buku terdahulu yang telah terbukti (Doa-Doa Mimpi Bertemu Nabi SAW, karangan Husain Muhammad Syaddad ba ‘Umar, Penerbit Pustaka Hidayah.

Thanks Rabb, Engkau adalah sebaik-baiknya penyembuh hati yang sedih.


Yogyakarta 08 08 09 00 15 (Tidur dulu… kemarin baru sampai dari touring bersama my Black N Blue Vespa ke tanah kelahiran… Garut, mungkin untuk 3 minggu ini saya bakalan jarang menengok penaripena.blogspot.com, bahkan mungkin takkan menulis apapun, selain karena di kampungku indosat hanya dapet sinyal gprs bukan HSDPA/3,5 G, disini juga akan sangat disibukkan untuk memberikan training di 2 tempat (Garut) dan 2 tempat lagi (Tasikmalaya) dalam rangkaian tour pelatihan kepenulisan PENARI PENA WRITING LABORATORY, sampai jumpa jika ada umur!)

Read More...

Innalillahi... WS. Rendra Meniggal Dunia!!!

“Innalillahi… WS. Rendra meninggal dunia. Lht tv one”
Tepat pukul 22.58 WIB di hari kamis tangggal 06 agustus 09, short massage service datang dari sahabatku (sekaligus guru teaterku) Beni Benfany masuk ke dalam inbox hp bututku.

Demi Allah…
Aku terguncang…
Aku terpukul…
Aku…
Ahh…

Aku tak menemukan kata-kata, kehilangan suara, dan sejenak dihantam mati rasa, namun kupaksakan tangan ini untuk terus menulis, menggurat apa yang bisa kukenangkan dari almarhum, almarhum yang telah tulus menjadi guru (bersama KH. Mustofa Bisri) di seluruh perjalanan hidup dalam berpuisi, dalam bersastra dan dalam berseni.

Aku tak tahu apa yang harus kutiliskan disini, kehebatan almarhum telah membungkam egoku untuk berkata-kata, kesederhanaan almarhum telah merajam ambisiku untuk mengenangkan beliau dalam tulisanku, aura kebesaran almarhum telah mengecilkan kemampuanku merangkai kata, aku tak tahu apa yang sedang terjadi dengan diri ini.

Tidak kutemukan orang (Indonesia) sebelum dan setelah beliau (bersama KH Mustofa Bisri) yang lebih hebat dalam berpuisi, berteater dan berjuta karya lain yang mengubah wajah kaum tirani, menyentuh hati rakyat jelata, dan mendobrak paradigma yang didogma lacurnya zaman.

Ya Allah… Ampuni segala dosa almarhum… terima iman dan islamnya… berikan almarhum kemampuan untuk menjawab semua pertanyaan dari para malaikatmu di dalam kubur, berikanlah beliau kedudukan mulia di sisi-Mu.

Maaf… aku sudah tak bisa berkata-kata.

1935-2009


Yogyakarta, 07 08 09 07 12 (teruntuk sang guru… WS. Rendra yang menutup usia kamis malam tanggal 06 agustus 09. Sesungguhnya tidak ada seorangpun mampu memperlambat sepersekian detik datangnya kematian, telebih mempercepatnya. Engkau Maha Kuasa, sedangkan kami bukanlah siapa-siapa)

Read More...

Rihlah One to Parangtritis Beach is Complete

02 Agustus ’09 pukul 09. 50 WIB aku berangkat dengan Black ‘N Blue Vespaku menuju tempat rihlahku yang pertama di minggu ini, 10.41 WIB kami sampai juga di Parangtritis Beach, subhanallah… Engkau memang tiada duanya Rabb… aku sering melihat pantai dengan mata kepala sendiri, tapi setiap kali aku melihat laut-Mu lagi, setiap itu juga isi dadaku bergetar karena kekuasaan-Mu yang berlingkup dalam keserba kekuranganku.

Setelah memarkir my Black ‘N Blue, kaki ini melangkah sendiri tanpa kuperintahi, ia kemudian... bergerak menuju buih yang terus membusa diterkam ombak,
Hmm… basah deh!

Hatiku berbisik “Hai Kun-Geia… celupkanlah jemarimu!”
Aku pun mencelupkan telunjukku ke dalam air laut, kemudian mengangkatnya.
“Lihatlah seberapa banyak air yang menempel di ujung telunjukmu!”
Hatiku kembali berbisik.
“Sekarang pandanglah lautan itu, luasnya sebesar 374.805.110 km2, palung terdalamnya sejauh 1325 kaki, dan bayangkanlah betapa besarnya volume air yang tertampung di dalamnya, sekarang bandingkanlah dengan air yang menempel di telunjukmu… itulah perbandingan dunia yang sebesar air di telunjukmu dengan akhirat yang sebesar (bahkan jauh lebih besar lagi) air yang ada di lautan/samudera.”

Dadaku kembali bergetar memikirkannya.
“Merugilah jika aku lebih menyibukkan diri dengan dunia dan melupakkan akhirat!”
Teriakku ke arah laut Parangtritis Yogyakarta.

Yogyakarta 02 08 09 18 00 (Rabb… engkau kuasa dengan aku tak punya daya dan upaya, Engkau perkasa sedang aku lemah, Engkau segalanya sedang aku bukanlah apa-apa.


Black 'N Blue


View Parangtriris Beach


Right Parangtritis


Left Parangtritis


The Freedom


Zzz... Zzz...


It's True

Read More...

Wake Up Man!!! They Need Your Help!!!

Tadi pagi pukul 01.34 WIB dinihari, selepas menjemput adikku di stasiun lempuyangan Jogja, kami memutuskan untuk sekedar memberi makan para penghuni perut (usus, ginjal, cacing, dll) dengan makanan seadanya di samping stasiun tugu Jogja, makanannya cukup enak, tapi bukan itu yang ingin aku perlihatkan disini.

Ketika kami sedang makan sembari bercengkrama, sorang anak kecil berusia sekitar 6-7 tahunan datang menghampiri, ia menengadahkan tangan kanannya ke arah kami, adikku pun mengeluarkan sedikit yang ia punya untuk diberikan padanya, gadis kecil itu tersenyum, mengucapkan terimakasih dan... lari dengan wajah berseri. (Lihatlah ya Allah… hamba kecilmu itu begitu senangnya memegang uang seribu dari adikku.)

Ketika kami sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, di perempatan lampu merah jalan KH. Ahmad Dahlan (sekitar satu kilo dari Malioboro), satu lagi anak kecil berusia tak jauh beda dengan yang pertama, datang menghampiri motor kami yang terhadang lampu merah, ia menengadahkan tangannya, adikkupun kembali memberikan sedikit yang ia punya, gadis kecil itupun tersenyum dan berlari setelah mengucapkan terimakasih. (Lihatlah ya Allah… ini jam berapa? Ini sudah jam 2 pagi, dan bidadari-bidadari kecilmu masih berkeliaran di jalanan untuk mengais kehidupan.)

Dimana bapak mereka? Atau mungkin mereka tak berbapa (secara hukum negara)
Dimana ibu mereka? (aku yakin mereka pasti beribu)
Ini jam 2 pagi ya Allah… waktu bagi mereka untuk istirahat (atau mungkin bersimpu dalam shalat malam) untuk mempersiapkan sekolah mereka nanti pagi pukul 7 (atau mereka memang sudah putus dengan kosakata “sekolah”).

Dimanakah pemerintah? Kenapa yang terlihat diurusi tektek bengek pemilu melulu, teroris melulu, rebutan kursi melulu? lihatlah… jam sepagi ini anak-anak itu masih terjaga demi beberapa rupiah di kantong mereka. Dimanakah engkau wahai para pemimpinku? Tak takutkah engkau dimintai pertanggung jawaban di pengadilan akherat nanti atas kondisi rakyat jelatamu?

Dimanakah islam? Kenapa yang terdengar hanya seruan boycot produk mahluk-mahluk terkutuk itu, kenapa yang (lebih banyak) disantuni hanya saudaranya di negeri orang yang sedang dijahati perang, lihatlah… di udara sedingin ini, mereka tak berselimut, berjaket, atau sekedar beralas kaki, perut mereka kosong, kulit mereka kotor dengan debu jalanan, dimanakah engkau wahai kaumku yang berpanjikan keagungan islam?

Dimanakah keluarga mereka? Ah… aku malas membicarakannya (sudah jelas anak-anak itu ditelantarkannya, diperah keringatnya, dan tak dipikirkan masa depannya)
Dan…
Dimanakah aku?
Yang ada dibenakmu cuma nulis novel… novel… dan novel! Ngejar gelar M.Sc! nyari penghasilan sana sini untuk segera menaikki pelaminan! Tidak malukah kau dengan anak itu? Miriskah hati kau dengan keadaan mereka?
HAI… KUN-GEIA!!!
Bangunlah kau!
Pikirkan mereka, urusi mereka, lihatlah… masuklah… dan kenali kehidupan mereka, dan kau akan dipikirkan, diurusi, dilihat, dimasukki dan dikenali oleh Dzat yang telah menciptakan anak-anak itu dengan garis kehidupannya masing-masing.
Wake up man!!!
They can’t waiting again for takes what can your hand give to them.


Yogyakarta, 02 08 09 08 05 (Aku malu, maafkan aku wahai adik-adik kecilku, ketahuilah bahwa kami semua takkan pernah meninggalkanmu apalagi sampai melupakanmu, my Allah allways be with you)

Read More...

Roman Wanita dan Laki-Laki itu

“Wanita seperti apa yang engkau inginkan suatu saat nanti mendampingimu menghabiskan sisa umur yang telah dijatahkan dalam detik usiamu?”

Wanita berkerudung panjang bergamis biru tua itu berkata sembari menatap lamat kedalam mata laki-laki itu. Mendengar rangkaian kata-katanya… jantung laki-laki itu seolah menyedot seluruh darah ke pusara dada hingga wajahnya pun memucat dibuatnya.
“Wanita sepertimu!”

Laki-laki itu menjawab dengan nada bergetar yang mengabarkan ketakutan yang tak mampu terbahasakan bahasa sastra tertinggi negara manapun. Wanita itu kemudian mengangkat kedua tangannya, memenjamkan mata dan…

“Ya Allah… aku meminta kepada-Mu dengan segala kemurahan-Mu, dalam segenap cinta dan kasih-Mu pada kekasih terbaik-Mu Rasulullah Muhammad saw, sesungguhnya Engkau tidak akan merasa kesulitan untuk memberikan pada kasihku ini wanita yang jauh lebih baik segalanya dari semua kebaikan yang saat ini ada padaku, oleh karena itu aku pun memohon dengan permohonan terbaik yang bisa kuucapkan dalam lisan dan kuyakini dalam hati…”

Satu bulir air keluar dari kelopak mata wanita itu yang sedang terpejam dalam khusuknya, ia jatuh menyusuri pipi putihnya yang meronakan cahaya memerah.

“…Berikanlah wanita itu padanya ketika waktunya tiba nanti, wanita yang selalu siap menguatkan perjuangannya dalam agama yang membuat Engkau rindha padanya, wanita yang akan selalu ada untuk meneduhkan semua gundah dan gelisahnya, wanita yang akan menjadikkan dia laki-laki paling beruntung karena telah memilikinya, wanita yang menjadi perhiasan dunia terbaik di mata suami dan agamanya, wanita yang akan memberikan keturunan mulia yang akan meneruskan perjuangan orang tuanya untuk selalu memberatkan bumi ini dengan kalimat laa ilaha ilallah muhammad rasulullah dimanapun ia berpijak di bumi-Mu, sungguh semua itu adalah mudah dan murah untuk-Mu berikan pada kekasihku ini. Amin…”

Wanita itu terdiam sejenak, kemudian membuka kedua matanya yang terpejam, seketika tumpahlah seluruh air yang tertahan oleh pejaman matanya.

“Aku mencintaimu!”
Ucap wanita itu.
Diam…
Ia Diam…
Aku Diam…

Angin seolah berhenti menghelakan napasnya…
Bumi seperti berhenti memutarkan tubuhnya…
Matahari tampak enggan untuk pergi…
Langit pun terlihat tak sudi untuk sekedar berkedip…
Mereka takut kehilangan tontonan disaat cinta, kasih dan airmata dipertunjukkan bersama dalam sebuah drama dua anak manusia yang akan segera diamuk prahara luar biasa yang memporak-porandakan rasa siapapun yang mengetahui cerita mereka.

“Selamat tinggal kasihku, semoga kau memperoleh kebahagiaan yang hakiki, sekali lagi aku takkan pernah berhenti menyayangi dan mencintai kasihku meski ia tak lagi disampingku, mungkin orang tuaku bisa membuat tubuh ini menjadi milik calon suamiku, namun siapapun tak bisa membuat hati ini menjadi milik calon suamiku, karena ia sudah ada yang memiliki, orang itu sedang berdiri meneteskan air mata dihadapanku, saat ini… sekarang ini. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Itulah ucapan terakhir yang didengar laki-laki itu dari lisan wanita itu.

Napas laki-laki itu sesak dibuatnya,
Telinga laki-laki itu terbakar mendengarnya,
Jantung laki-laki itu berdegup kencang tak sabaran memompakkan darah ke seluruh sel dalam tubuhnya,
Disaat ketulusan wanita itu menjelma dalam kata,
Disaat kasih wanita itu terpahat di dalam inti dada,
Disaat cinta wanita itu memuncak dalam do’a,
Saat itulah…
Saat terakhir laki-laki itu…
Dengan wanita itu.


Yogyakarta, 01 08 09 14 00. (Dan laki-laki itupun bersumpah bahwa wanita itu adalah wanita solehah, teramat solehah, yang tak ditemukan tandingannya meski usia laki-laki itu sudah semakin merapat ke seperempat abad.)

Read More...

the best people is the most contributing for the other people

“Tahukah engkau bahwa mereka begitu sering membincangkan kebaikan-kebaikanmu di luar pengetahuanmu?”
“Mereka diam-diam mengagumi pribadimu dibelakangmu?”
“Mereka meniru apa pun yang mereka lihat darimu?”
“Mereka menjalankan setiap nasihat yang kau berikan?”
“Mereka mengangkatmu menjadi imam mesjid dalam setiap shalat wajib, bahkan salah satu dari mereka menawarkan putrinya untukmu?”
“Adakah hal yang lebih mengejutkan dari sebuah keadaan yang tiba-tiba memberitahukan bahwa engkau telah dicintai orang-orang sekitar?”

Hmm… jawaban mayoritas berkata TIDAK, hal-hal itu terlalu mengejutkan, hampir setiap kepala akan berfikir demikian, dan kepala yang lain mengatakan “mustahil!!! bagaimana semua itu bisa terjadi padaku yang bla… bla… bla…”

Hmm… BISA kawan!
Sudah ada pendahulu yang membuktikan hal itu bisa menjelma dengan nyata. Tidak perlu menunggu menjadi kyai dulu, tidak perlu menunggu untuk menjadi haji dulu, bahkan tidak perlu untuk menjadi manusia berumur dulu, lakukan apapun hal terbaik yang bisa kau lakukan sedari sekarang, mulai hal-hal itu dari dalam dirimu, apapun yang menurutmu paling mudah tapi memberi manfaat pada sekitarmu, dan ketetapan Tuhan akan berlaku padamu, bahwa siapapun yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan pula.

Umat ini butuh teladan, berhentilah sejenak untuk berteriak-teriak lakukan perbaikan… lakukan perbaikan! Bukalah cermin dan pandangilah wajah kita, teladan dengan perbuatan berlipat-lipat memberikan pengaruh yang lebih hebat ketimbang hanya dengan ucapan.

Ataukah selama ini malah kita tidak sadari bahwa mereka…
“Begitu sering membincangkan kejelekan-kejelekanmu?”
“Mereka diam-diam membenci pribadimu dibelakangmu?”
“Mereka memalingkan muka dari apa pun yang mereka lihat darimu?”
“Mereka mengingkari setiap nasihat yang kau berikan?”
“Adakah hal yang lebih mengejutkan dari sebuah keadaan yang tiba-tiba memberitahukan bahwa engkau telah dibenci orang-orang sekitar?”

Ingatlah selalu kata bijak ini: the best people is the most contributing for the other people.
Dan aku berharap orang itu adalah kamu yang membaca tulisanku.


Yogyakarta, 18 juli 09. 2045. (mesjid Sonopakis lor sesaat setelah berjamaah isya aku berucap…Thank you Allah!)

Read More...

RED DEVIL sebenarnya telah datang ke Indonesia

RED DEVIL tak jadi datang ke negara kita yang tengah dirundung duka?”
Aku tak SETUJU dengan pernyataan itu…
Sadarlah…
SETAN MERAH sudah datang dan memperlihatkan kekuatannya di tanah REPUBLIK yang kembali dicabik,
saksikanlah…
Berbagai tayangan berita semua tv swasta…
Lihatlah…
Hampir semua halaman depan media cetak nasional…
Dengarlah…
Setiap siaran radio-radio lokal…
Semua memberitakan hal yang sama.
SETAN MERAH benar-benar telah datang ke indonesia.
Sesungguhnya…
SETAN-SETAN itu telah mencoreng muka ibu pertiwi kita di mata dunia
Dengan rapor MERAH yang sulit untuk bisa diubah
SETAN-SETAN itu telah meledakkan orang-orang tak berdosa
Dan MERAH darah telah bersimbah
Membuat kehidupan mereka berubah status menjadi jenazah.

Yogyakarta, 18 Juli 09 pukul 06.40 (Aku mengutuk kedatanganmu SETAN MERAH! kelakuan SETANmu takkan pernah bisa ditukar dengan setetespun DARAH mereka yang telah kau paksa untuk ditumpahkan di JW Marriot dan Ritz Carlton)

Read More...