"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"

Tampilkan postingan dengan label Pena Kun-Geia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pena Kun-Geia. Tampilkan semua postingan

Kata Maestro Sastra Indonesia; Ini BENCANA Besar!


Izinkan aku untuk berbagi, karena saat itu tidak semua orang bisa hadir bersama kami, termasuk Anda juga.

Ini bukan mengenai sesuatu yang tabu atau apapun yang akan dianggap tidak perlu, ini tentang pertemuan kami dengan pejuang pena yang telah mengharumkan nama bangsa ke seantro dunia. Ini mengenai curahan hati seorang maestro sastra Indonesia, tentang kasih sayang seorang kakek untuk cucu-cucu zaman, tentang guru terbaik yang dibagikan kepada kami melalui penggalan-penggalan PENGALAMANnya.

Tiga hari sebelum tulisan ini dibidani dari rahim inspirasi, terdengar kabar sang maestro akan mengisi sebuah acara di salah satu universitas negeri yang ada di Yogyakarta. Saudara-saudara dari Forum Lingkar Pena Yogyakarta langsung menghubungi panitia, melobi mereka untuk meminta sedikit waktu agar bisa bersua dengan sang bintang tamu.

Hari pertama kedatangan beliau ke kota budaya ini, kami gagal bertemu. Setali tiga uang di hari kedua. Dan… esoknya, pagi-pagi di hari dimana beliau akan meninggalkan Yogyakarta, kami berkenan untuk dipertemukan dengan beliau.

Perbincangan itu dimulai.

“Malas membaca!” di awal ucapan, beliau langsung menghentak alam sadar kami dengan nada tinggi, tidak menyerupai bentakan, namun lebih seperti memperingatkan. “Itu penyakit Bangsa yang belum juga dapat diatasi sampai hari ini. Kurikulum sekolah, kebijakan pemerintah, fasilitas penunjang, bahkan sampai lingkungan sekitar pun ikut-ikutan menjadi penyebab utama tidak majunya kecintaan masyarakat kita pada dunia membaca.”

Beliau menurunkan tekanan suara, dari wajah yang tadi kentara memperlihatkan keprihatinan, sedikit-demi sedikit luntur tersapu senyum khasnya. Dan… satu cambukan kembali mendarat di alam sadar kami, “Membaca saja begitu, jangan tanyakan untuk semangat menulis.”

Kami semua mengangguk, dan memang tidak ada keraguan untuk mengamini arti kebenaran dari ucapan beliau.

“Anda semua pasti sudah sangat paham bahwa modal pertama untuk mengarang adalah dimulai dari membaca.” Kembali senyum khas menghiasi untaian kalimat yang dirangkainya. Sejujurnya, aku sudah menyadari bahwa diri ini… terhipnotis kharismanya.

“Yang dibaca adalah apa saja yang dilihat, baca semua itu dengan benar. Yang dibaca adalah pengalaman hidup yang sudah dituliskan orang. Yang dibaca adalah kabar dari zaman untuk generasi Anda dan setelah Anda.”

Baik, sebelum dilanjutkan, aku ingin mengingatkan kembali bahwa tulisan ini tentang proses, ini tentang transfer pengalaman, ini tentang upaya menyambung generasi, ini tentang pertautan hati untuk keberlagsungan perjuangan di beda zaman. Ini untuk kami, Anda, dan Indonesia, bahkan dunia. Pahami ini ketimbang menyesal kemudian karena tidak dapat isi yang sesuai tatkala menyelesaikan bacaan. Pilihannya dua, lanjutkan membaca atau tinggalkan sama sekali mulai dari paragraf ini.

“Modal kedua adalah latihan menulis, terus dan terus. Dan, pelajaran menulis yang paling vital harusnya terjadi di sekolah.” Beliau menghela napas panjang. “Lantas apa yang terjadi sekarang? Sebelum ke sana, saya akan bercerita dulu tentang masa lalu.”

Beliau memperbaiki posisi duduk, bisa jadi ingin mempersiapkan diri untuk suatu kabar besar yang akan dihantarkan ke gendang-gendang telinga kami.

“Pemerintah kolonial menyediakan sekolah-sekolah untuk anak jajahan. Bayangkan, ini dilakukan oleh penjajah untuk orang-orang yang sedang dirampoknya.” Gir dan pengungkit di dalam otakku langsung begerak, mencoba mencerna kekuatan kata, menyediakan sekolah untuk anak jajahan, sekali lagi mekanisme mesin dalam otakku berputar untuk empat kata, sekolah untuk anak jajahan. Diksi yang istimewa.

“Di sekolah-sekolah itu, kewajiban membaca buku dalam waktu tiga tahun adalah dua puluh lima judul buku. Sembilan buku di tahun pertama, delapan di tahun kedua, dan delapan di tahun ketiga. Anda semua tau kesemuanya ditulis dalam berapa bahasa? Kedua puluh lima judul buku itu tertulis dalam tiga bahasa, Belanda, Inggris, dan Prancis atau Jerman. Tidak ada karya sastra berbahasa Indonesia yang diajarkan saat itu.”

Aku menerka bahwa beliau akan menanyakan, berapa buku wajib baca yang diterapkan sekolah-seolah kami dulu sewaktu SMA? Terkaanku benar, dan keprihatinanku berwujud nyata, bahwa dari kami semua yang berbicara, jawabannya sama, NOL.

“Di sekolah-sekolah kolonial itu, para murid wajib menulis satu tulisan setiap minggu, sekitar dua halaman. Mereka akan menulis di rumah, besoknya disetorkan pada guru, dinilai dan dikomentari, kemudian dikembalikan pada murid.” Ekspresi beliau mulai terbaca akan kembali menggebu. “Kita hitung, dalam satu semester akan terlahir delapan belas tulisan. Dalam setahun tiga puluh enam tulisan. Dalam tiga tahun, sudah terkumpul seratus delapan belas tulisan.”

Benar dugaanku, ekspresi beliau menggebu, tekanan nada suaranya lebih kentara. Aku dipaksa untuk tidak berkedip, bahkan sekedar menarik napas pun dirasa sayang karena konsentrasi akan terbagi untuk beberapa kegiatan yang dilakukan bersamaan. Sayang jika detik-detik mahal ini terlewati tanpa arti. Saudara-saudaraku yang hadir? Aku kira apa yang kurasakan mereka pun turun terlibat di batin masing-masing.

Dan, kulihat beliau menarik napas dalam, lengkingan menyusul kemudian, “Apa yang terjadi sekarang? NOL! NOL!”

Bulu kuduk berdiri, serempak memberi hormat. Suara selanjutnya yang keluar memang tidak lagi melengking, tapi tekanan nada kata-katanya, menggetarkan isi dada ini, “Dari sistem itulah lahir generasi emas! Seokarno! Hatta! Agus Salim! Mohammad Natsir! Dan masih banyak lagi mansia-manusia brilian yang hadir di tanah bangsa dari sebuah kecintaan terhadap buku dan tulisan.”

Ketika menatap beliau berbicara, ketika telinga mendengar kata-demi kata keluar dari ucapannya, hati berkata, apakah beliau sedang berbicara biasa, atau sedang membaca puisi?

Alangkah indahnya lantunan yang kami dengarkan. Betapa padatnya makna yang kami dapatkan di setiap ucapan, dan ekspresi khas beliau tidak tersembunyikan untuk kami petik makna demi makna yang disampaikannya.

“Para pembesar bangsa ini, semua menulis buku. Semua memulai dari kecintaan pada membaca. Sekarang?” Baru  sekali ini beliau menyuguhi kami senyuman kecil, tapi cita rasanya… sinis. “Para pemimpin bangsa kita juga melahirkan buku, tapi dia cukup ngomong pada wartawan, dan wartawan yang menjadikannya sebagai tulisan kemudian terlahir menjadi buku.”

Aku pun ingin menarik beberapa senti bibir kananku saja, untuk berpartisipasi men-sinis-kan kelakukan mereka, tapi kharismatik beliau, mencegahku untuk melakukannya.

“Dahulu, kewajiban dua puluh lima buku yang dibaca itu dicantumkan dalam kurikulum. Terus, ketika guru  mengatakan baca buku ini! Baca buku itu! Maka para murid tinggal pergi ke perpustakaan sekolah, bukunya sudah tersedia di sana, satu orang dapat satu buku. Kemudian anak itu harus membacanya, lalu ditulis rangkumannya atau resensinya, kemudian dinilai oleh guru.”

Kuterka beliau akan kembali menggebu-gebu.

“Sekarang, kewajiban membaca buku? Nol! Kewajiban menelaah buku? Nol! Fasilitas penunjang itu semua? Nol! Anda adalah generasi nol! Saya adalah generasi nol! Bencananya adalah, kemunduran ini sudah berlangsung selama enam puluh delapan tahun!”

Benar, ekspresinya menampakkan diri, keluar bersama keprihatinan seorang kakek untuk generasi cucu-cucunya. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena tempat kami berbincang adalah sebuah lobi hotel, yang di sana tidak hanya kami saja yang berada, dan beliau menyadari itu.

“Dalam penelitian saya, rata-rata hanya sekali dalam setahun anak didik disuruh membuat tulisan, dan judulnya hampir sama semua; CITA-CITAKU, yang kedua; BERLIBUR DI RUMAH NENEK.” Kami semua tertawa, menertawakan bahwa kami merasa pernah mengalami membuat cerita dari kedua tema yang beliau sebutkan itu. “Yang kita alami selama enam puluh delapan tahun ini adalah bencana besar. Tahukah, kegemilangan generasi enam puluh delapan tahun yang lalu dengan kewajiban membaca dua puluh lima buku dan menulis seratus delapan belas tulisan, sama kemajuannya dengan Eropa dan Amerika saat ini.”

Beliau memperbaiki kembali posisi duduknya, dan mungkin ini saatnya beliau melunak dari ekspresi yang selama hampir satu jam ini beliau keluarkan.

“Tahun empat puluh sembilan, ketika Indonesia benar-benar merdeka, berkumpulah para pengajar untuk merumuskan ke mana pendidikan bangsa akan dibawa. Akhirnya diputuskan, karena kita sudah tertinggal akibat jajahan selama ratusan tahun, maka yang harus dibangun adalah jalan-jalan yang menghubungkan berbagai kota, membangun banyak rumah sakit, perkebunan, sehingga sekolah-sekolah nantinya akan dibentuk untuk menghasilkan sarjana-sarjana teknik, kedokteran, ekonomi. Sementara untuk program membaca dua puluh lima buku dalam dalam tiga tahun, dikatakan; ‘Ini akan menghabiskan banyak waktu!’ program ini, DICORET!”

Ternyata terkaanku kali ini salah, beliau membetulkan posisi duduk bukan untuk melunak. Tekanan suara beliau mendadak tinggi.

“Program menulis seratus delapan belas tulisan dalam tiga tahun, dikatakan; ‘Ini akan menghabiskan banyak waktu!’ program ini, DICORET!”

Tekanan suaranya semakin meninggi.

“Yang diagung-agungkan adalah ilmu alam, ilmu pasti, kedokteran, sementara bahasa dan sasrta… DICORET! Guru-guru yang dibentuk adalah untuk menjuruskan anak-anak didiknya pada teknik, kesehatan, ekonomi. Sedangkan guru-guru bahasa diarahkan hanya pada estetika tulisan saja! Dari SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi, yang dipelajari adalah awalan, akhiran, imbuhan… awalan, akhiran, imbuhan. Itu itu saja! Jadi tidak heran jika kecintaan membaca dan menulis buku sungguh sangat memprihatinkan.”

Beliau membuang napas panjang. Keheningan menggelayut beberapa saat.

“Kami sudah berhenti protes pada pemerintah, puluhan tahun protes, puluhan tahun menggugat, hasilnya nihil! Selama tujuh belas tahun belakangan, kami sudah berhenti protes dan membangkang pada pemerintah. Kami sudah capek, usaha puluhan tahun kami tidak pernah di dengar. Akhirnya kami melakukannya sendiri untuk memajukan minat baca, tulis, dan kecintaan pada sastra. Kami telah memberikan pelatihan pada dua ribu guru SMA dari seluruh Indonesia. Jadi, sasaran yang harus pertama dibenahi adalah para pengajar, karena selama ini guru-guru tidak dilatih untuk cinta membaca dan menulis, apalagi sastra. Jumlah SKS baca, tulis, dan sastra saja di kuliah mereka hanya dua puluh persen.”

Tensi pembicaraan sudah menurun, sudah lebih santai.

“Selain pelatihan untuk para pengajar, kami mengadakan sebuah program yang bernama, Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB). Jumlah sekolah di Negara kita lebih dari dua puluh ribu, dan kami baru mampu mendatangi tiga ratus  sekolah. Selama ini para seniman datang ke sekolah-sekolah, ada yang membacakan puisi, cerpen, naskah drama, dan berbagai bidang sastra lainnya. Para siswa benar-benar antusias, mereka bisa bertemu dan belajar langsung dari Rendra, Ahmad Tohari, Nano Riantiarno, Sutarji C. Bachri, dan yang lainnya. Anak-anak diminta menyimak dan menuliskan apa yang didapatnya.”

Terkesima, inilah langkah yang lebih nyata ketimbang banyak berdebat mengenai angka anggaran pendidikan Negara yang realitanya jauh dari nyata. Terkesima, merekalah teladan sastra sesungguhnya.

“Kami juga membentuk sanggar sastra di beberapa sekolah, kegiatannya setiap sabtu dan minggu jadi tidak mengganggu sekolah, tujuannya supaya murid berminat membaca dan menulis. Di sanggar itu, wajib ada minimalnya seratus judul buku, satu komputer, satu printer, dan satu scanner. Sanggar sastra ini haruslah diasuh oleh guru-guru yang telah lulus mengikuti pelatihan yang dua ribu guru tadi. Dan tujuh belas tahun ini, kami baru mampu membentuk sanggar sastra di tiga puluh sekolah dari dua puluh ribu sekolah yang ada.”

Kembali aku terkesima, saudara-saudaraku yang lain pun kupikir tidak jauh beda. Dapat kubaca dari air muka mereka.

Beliau melihat jam di tangan kirinya, aku merasakan waktu telah mendekat untuk merenggut beberapa menit emas di depan, sepertinya kebersamaan kami akan segera diceraikan keadaan.

“Masalah kita adalah memajukan sastra di Indonesia. Dan sumber utamanya adalah minat membaca dan menulis yang telah tertinggal selama enam puluh delapan tahun. Kami sudah berhenti protes pada pemerintah. Selama tujuh belas tahun ini kami bergerak sendiri untuk pekerjaan nyata. Dan saya gembira betul dengan lahirnya FLP, ini hebat. Masya Allah, Anggotanya ribuan, hingga ke mancanegara. Saya senang dan bangga dengan Anda, dahulu bersama kawan-kawan, kami tidak mampu untuk membentuk sebuah organisasi besar yang bergerak di dunia literasi. Tapi Anda bisa. Dan FLP telah menjadi salah satu elemen roda penggerak kemajuan baca tulis bangsa, demi bangsa yang maju dan berkarakter. Kita berdoa dengan betul-betul khusyuk, semoga Allah akan senantiasa memberi jalan perjuangan ini.”

Beliau kembali tersenyum, dan matanya menyapa mata-mata kami dengan keteduhan pandangan seorang kakek untuk cucu-cucunya.

“Anda masih muda-mudi, cita-cita jadi pengarang itu dalam hidup jadikanlah nomor tiga. Yang pertama lulus kuliah dulu, senangkan hati orang tua, ridha Allah ada pada mereka. Yang kedua, bolehlah lirik kiri kanan, yang jelas doanya harus lurus, yaitu mendapatkan jodoh terbaik. Baru yang ketiga adalah menjadi pengarang atau sastrawan.”

Beliau menghela napas pendek.

“Untuk membentuk karakter penulis, yang terpenting adalah ridha Allah, kemudian jalan yang menuju ke sana pastilah harus jalan yang lurus, nanti dalam perjalannya akan datang jalan-jalan lain untuk semua yang kita butuhkan sampai menjadi seorang penulis. Dan yang tidak kalah penting, Anda harus punya perpustakaan sendiri, karena dari sanalah kecintaan terhadap buku bisa senantiasa bersatu bersama Anda.”

Aku merasakan waktu perpisahan sudah semakin mendekat.

“Tidak akan ada penulis yang hebat tanpa dia membaca banyak buku. Jadi syarat utama menjadi penulis tentu saja dia harus terlebih dahulu menjadi pembaca.”

Inikah ucapan pamungkas beliau? Hatiku tidak enak, sepertinya tebakanku akan kembali berwujud nyata. Dan, Kun! Fayakun… beliau memohon banyak maaf, karena bukan tidak ingin lebih lama bersama, namun masih banyak hak orang lain yang perlu beliau tunaikan di tanah istimewa ini sebelum kembali ke ibu kota.

Dan, di sepanjang menit dari pukul sembilan kurang lima belas sampai pukul sepuluh lebih tiga puluh, beliau telah banyak berbagi, khususnya tentang kegundahan hati mengenai minat baca, minat tulis, minat sastra, yang berefek pada melemahnya karakter bangsa yang justru tidak diberhasil dibangun oleh kurikulum-kurikulum pemerintah di sekolah-sekolah dengan selogan ‘pendidikan berkarakter’.

Di menit-menit akhir pertemuan kami, ada kenang-kenangan dari (mungkin satu-satunya) komikus FLP jogja untuk beliau, pun dari saya dengan memberikan sebuah buku bersampul biru. Dan, putaran waktu emas bersama beliau menjadi lebih sempurna tatkala terucap dari lisannya, “Tolong saya minta bukunya dibubuhi tanda tangan, nama penulis, dan nomor telpon.”

SELESAI.


Kawan, kita menulis bukan untuk dikenal, bukan untuk dikenang, pun bukan untuk yang lain. Menulis adalah peperangan, syahid menanti di ujung goresan terakhir pena kita. Karena, kita menulis untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan para pendahulu, bersama bercita-cita memperbaiki negeri melalui tinta-tinta emas anak bangsa.

Ini tidak menyerupai bahasa ratapan hati, tetapi ajakan untuk bergerak dan beraksi, bukan berteori apalagi beradu argumentasi.

Mari, angkat pena… perbaiki negeri.


Yogyakarta 30 April 2013.


Catatan: Anda tentu sudah tahu, siapa ‘beliau’ yang saya maksud dalam tulisan ini. Jika belum bisa menebaknya, mungkin bait yang dinyayikan oleh almarhum Chriyse berikut, yang menemani sepanjang diri ini menulis dan membidani tulisan ini, akan membuat ada mengerti, siapa beliau sang maestro itu. Beliaulah yang melahirkan bait-bait ini;

Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi
Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita

Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita, kemana saja ia melangkahnya

Tidak tahu kita, bila harinya tanggung jawab tiba
Mohon karunia, kepada kami hamba-Mu yang hina

Rabbana, tangan kami, kaki kami, mulut kami
Luruskanlah, kukuhkanlah, di jalan cahaya sempurna



Read More...

Lomba Renensi THE LOST JAVA


Hai, kawan-kawan pecinta novel, apa kabar? Semoga kabar baik semuanya. Oiya, sudah baca belum novel The Lost Java karya Kun Geia? Ayo segera miliki novelnya dan tulis resensinya, karena kami Penerbit IG Press akan mengadakan lomba resensi dengan total hadiah sebesar Rp 3.000.000.

Syarat dan Ketentuan:
  1. Lomba ini terbuka bagi setiap WNI dan peserta tidak dipungut biaya alias gratis.
  2. Panjang resensi 5.000-15.000 karakter (termasuk spasi) atau 4-8 halaman.
  3. Ukuran kertas A4, jenis huruf yang dipakai Times New Roman 12 pt, 1,5 spasi.
  4. Resensi harus asli karya sendiri.
  5. Resensi dikirim ke:  improvegrowth@gmail.com.
  6. Karya resensi boleh di-posting di website pribadi, blog, jejaring sosial facebook, dan sejenisnya.
  7. Lomba ini dibuka mulai tanggal 20 Juli sampai 15 September 2012.
  8. Resensi diterima paling lambat tanggal  15 September 2012.
  9. Keputusan juri bersifat mutlak.
  10. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 Oktober 2012 di website: www.ig-press.com, fb: ig press, dan twitter: @ig press.
  11. Info lebih lanjut silahkan hubungi IG Press di 0274 262 8550 (Salman).

Hadiah Lomba:
Pemenang pertama   : uang tunai sebesar Rp 1.500.000 plus sertifikat.
Pemenang kedua       : uang tunai sebesar Rp 1.000.000 plus sertifikat.
Pemenang ketiga       : uang tunai sebesar Rp 500.000 plus sertifikat.

Ayo, tunggu apa lagi! Segera baca novelnya, bikin resensinya dan ikutkan dalam lomba ini! Siapa tau keberuntungan jatuh di tanganmu! Selamat menulis resensi, Kawan!

Read More...

The Lost Java - Kun Geia


“Kehancuran dunia kian dekat, namun kematian sudah mengintai jauh lebih dekat lagi!”

Bencana mengincar setiap nyawa. Iklim sempurna tak lagi bersinergi dengan bumi. Banjir-banjir mulai berubah status menjadi permanen. Ratusan pulau perlahan tenggelam ditelan luapan air laut. Puluhan juta manusia digiring paksa oleh bencana untuk mengungsi. Terlampau menyeramkan saat menunggu detik-detik mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan yang notabene sebagai penyimpan 90% cadangan air di bumi ini. Apakah dunia sudah mengetahui kengerian yang akan terjadi setelahnya?

Puncak bencana akan terjadi ketika panasnya suhu bumi menyebabkan gas metana beku terlepas dari kedalaman es dan laut, padahal ia memiliki kekuatan efek rumah kaca 25 kali lebih hebat dari karbon dioksida. inilah ancaman utama yang akan menghancurkan! Bencana Paleocene Eocene Thermal Maximum yang terjadi 55 juta tahun yang lalu akan terulang kembali. Bencana apakah itu? Itulah saat dimana seluruh permukaan bumi membeku tertutup lapisan es tebal dan setelahnya hanya akan tersisa dua kata saja dari sejarah keberadaan manusia: KEPUNAHAN MASAL.

Sekelompok ilmuwan terbaik dari seluruh dunia berkumpul untuk mencari solusi dari semua kekacauan, di dalam sebuah lab rahasia mereka meneliti nuklir, atmosfer dan es untuk menyelamatkan bumi dari cengkraman awal kehancuran. Setelah 35 tahun melakukan penelitian, Garuda Putih Laboratory akhirnya dapat menyelesaikan formula yang akan dibawa dalam misi WAR (Warriors of Antartic). Lima ilmuwan terbaik dari Indonesia, India, Iran, dan Amerika berangkat menuju atap tertinggi Kutub Selatan, puncak Gunung Vinson Massif. Tujuan mereka satu, menyelamatkan umat manusia dari kepunahan massal.

Selama ekspedisi, badai es beberapa kali mengamuk, oksigen minim pada ketinggian, dan suhu -45° C menyengat dengan dinginnya. Longsor es mengincar setiap saat, tebing-tebing tinggi sulit untuk dilewati, hingga jurang curam menganga untuk disebrangi. Namun, dari semua itu, ada hal lain yang jauh lebih mengancam keselamatan tim WAR. Di belakang mereka, sebuah organisasi bawah tanah kliber internasional yang terkenal kejam dan brutal menaiki Gunung Vinson Massif dari jalur daki yang lain. Tujuan mereka satu, merampas formula dari tim WAR dan menggunakannya untuk menguasai dunia demi satu pemerintahan, The New World Order.

Petualangan novel bergenre science-thriller fiction ini menyajikan tiga komponen yang digarap dengan serius berupa “sisi keilmuan” yang dipadukan dengan adegan-adegan “pemicu adrenalin” yang menyedot habis “rasa penasaran” pembaca di setiap akhir babnya. Dan tentu saja disempurnakan dengan “romantika cinta” yang dibingkai apik dalam konflik yang bertubi-tubi. The Lost Java lebih dari sekedar novel Sci-Fi. Ceritanya dipersiapkan dengan matang. Jadilah alur dalam buku ini penuh dengan jalinan yang syarat ketegangan, menyuguhkan kepuasan tersendiri bagi para pemburu bacaan thriller.
[Kun Geia]

Read More...

LOMBA CERPEN 2011




Bismillahirrahmaannirrahiim…
"Sujud syukur kami padamu-Mu ya Rabbi, shalawat dan salam terbaik kami untukmu wahai baginda penghulu para Nabi, serta Do’a terindah kami bagi anda para pencinta Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam."

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh…

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
”Tidaklah beriman seseorang sehingga ia mencintaiku lebih dari keluarganya, hartanya dan siapapun juga.” Dalam riwayat lain: “lebih dari anaknya, orangtuanya dan siapapun juga”.
(HR. Muslim)

Indah sekali bunyinya, agung sekali kandungannya, dan teramat besarlah pahala bagi mereka yang merenungi dan mengamalkannya dengan istiqamah, Subhanallah...
Tergetarkah dasar jantung anda?
Tersentuhkah langit hati anda?

Demi Allah, tidaklah diperdengarkan namamu ya rasul pada orang-orang yang mencintaimu kecuali mereka tersentak gembira dan hilanglah segala kesedihan. Maka bergetarlah ruh-ruh mereka merindukan pertemuan dengan Nabinya, sebagaimana para sahabat merindukannya. Begitulah keadaan para kekasih Allah swt yang selalu dalam naungan kelembutan Nya, Yang dari Nya dan Milik Nya segala kelembutan.

12 rabiul awal… benar-benar hari yang istimewa, hari dimana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam terlahir dimuka bumi, begitu besarnya rasa bahagia kami dikarenakan kelahiran beliau, maka sebagai bentuk syukur, kami bermaksud mengadakan syukuran kecil-kecilan berupa Lomba Cipta Cerpen Bermakna, bertemakan “Antara Aku, Rasulullah, Cinta dan Kerinduan Diantara Kita”, maka hanya pahala dari Allah lah yang kami harapkan serta manfaat dan keberkahanlah yang kami inginkan dari syukuran kecil ini.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.Ibrahim: 7)

Kami mengajak anda untuk meluangkan waktu dalam merenungkan dan memikirkan karunia yang telah diberikan kepada kita, dimana terlahirnya rasulullah saw ke dunia ini adalah salah satu karunia besar yang kita prioritaskan untuk disyukuri. Bentuk rasa syukur itu akan menjadi abadi tatkala dibagi dengan sesama lewat sebuah karya yang tergores tinta, maka dari itulah lomba ini kami hadirkan.

Anda memiliki cerita yang berhubungan dengan Rasulullah yang begitu berkesan bagi anda?
Atau anda pernah mendengar cerita dari teman-teman anda mengenai Rasulullah yang memberikan anda motivasi, inspirasi atau hikmah-hikmah baru?
Atau anda pernah membaca kisah-kisah cinta dan kerinduan menakjubkan para sahabat pada Rasulullah?

Jika ada, abadikanlah dalam tulisan dengan gaya tinta anda sendiri, kirimkanlah dalam Lomba Cipta Cerpen Bermakna, Adapun berbagai ketentuannya adalah sebagai berikut.

1.Tahapan lomba
- Batas terakhir Pengiriman Karya: 12 Rabiul Awal 1432 H
- Pengumuman nominator 30 besar: 30 Rabiul Awal 1432 H
- Pengumuman Cerpen 3 terbaik: 12 Rabiul Akhir 1432 H

2.Penghargaan lomba
- karya terbaik nomor 1: Uang tunai Rp. 500.000
- karya terbaik nomor 2: Uang tunai Rp. 400.000
- karya terbaik nomor 3: Uang tunai Rp. 300.000

3.Ketentuan lomba
- Cerpen tidak melanggar syariat Islam, bermuatan pornografi dan SARA.
- Cerpen harus karya asli penulis/pengarang; bukan terjemahan atau saduran.
- Ide/inspirasi cerita boleh diambil dari pengalaman sendiri (lebih diutamakan) atau pengalaman orang lain yang diceritakan dengan bahasa penulis sendiri, atau pengalaman para sahabat Nabi dengan sanad yang terpercaya.
- Cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa, dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain.
- Cerpen diketik dengan komputer dalam kertas A4 spasi 1,5 Times New Roman 12 point. Panjang maksimal 10 halaman;, dan diberi nomor halaman.
- Peserta boleh mengirimkan karya terbaiknya maksimal 3 karya.
- Peserta lomba TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN
- Karya di kirim ke email maribershalawat@yahoo.com
- Info terbaru/up date lomba dan daftar peserta yang masuk bisa dilihat di (http://maribershalawat.multiply.com)

4.Kriteria penilaian
Karya minimalnya memenuhi sekurang-kurangny satu dari kriteria berikut:
1.Kesesuaian isi cerita dengan tema
2.Kekuatan dalam memberi pesan/makna
3.Kekuatan dalam Menggugah/menyentuh
4.kekuatan dalam Menginspirasi/Memotivasi
5.Kekuatan dalam menyajikan alur dan penokohan
6.Keindahan tata bahasa dan daya tarik cerita

5. Juri
1. http://flpyogya.multiply.com : Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Yogyakarta periode 2008-2010
2. http://halamaharis.multiply.com : Koordinator Kaderisasi Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Yogyakarta periode 2008-2010
3. http://tazkiatunnafs.multiply.com : Penikmat sastra dan Alumnus UIN Jakarta
4. http://maribershalawat.multiply.com : Penikmat sastra dan pengasuh “rumahku shalawatku”
5. http://penaripena.multiply.com : Trainer lembaga pelatihan kepenulisan PENARI PENA WRITING LABORATORY

Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun.

Demikian pemberitahuan lomba ini kami sampaikan. Betapa bahagianya kami jika anda berkenan memberitahukan/mengajak kepada saudara-saudari yang lain untuk ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Silahkan “copas” pengumuman lomba ini untuk dipostingan di halaman web/site/blog anda.
Jazakumullah khairan katsiran

Wahai pemilik Muhammad Rasulullah saw, Wahai pemilik Ummat Muhammad saw, Wahai pemilik kelembutan Muhammad saw, Wahai pemilik seruan Muhammad saw, Jadikanlah site kami ini:

“RUMAHKU SAHALAWATKU”
http://maribershalawat.multiply.com

sebagai sarana yang menghiasi hati kami, rumah kami, keluarga kami, sahabat-sahabat kami, Dan jadikanlah kami orang-orang yang benar-benar menjawab seruan Muhammad Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(Q.S. Al-Ahzab:56)

Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Mari Berinvestasi Akhirat dengan Mencintai Nabi


Penyelenggara
http://maribershalawat.multiply.com


sumber: http://maribershalawat.multiply.com

Read More...

Semakin

semakin sering teringat
semakin terasa adanya keanehan dalam hati
semakin banyak kenangan masa lampau yang terbayang
semakin resah
semakin sedih
semakin bertanya-tanya dalam kepala
semakin sukar dimengerti
semakin banyak kata "semakin" yang merisaukan isi dada
semakin rapuhlah ia
semakin!!!

Read More...

dengan janji-janji indahnya

mengenangmu...
lagi-lagi melahirkan kengiluan
di bilik-bilik urat nadi yang hampir berhenti,
dan menyebut namamu...
menghujamkan berbagai kepenatan
dari setiap lisan yang mendaratkan suara di gendang telinga,
memikirkanmu...
memberangus impian masa depan
yang terbangun dari kekosongan topeng balut pakaian,
berkata dalam hentakan perasaan
menunjukkan besarnya penyesalan setelah pertemuan
bernyanyi di keramaian orang
menutupi keberkabungan tercampakkan wangi tutur kata
yang membuat cedera
terasa sekali cengkraman sepi
mengoyak isi kepala yang sedang berdendang ceria
menyuguhkan malapetaka bak prahara durja
dikeganasan berita hempaskan sisa-sisa usia

TERIMAKASIH!


yogyakarta, (kutulis ini untuk membelenggu nafsu yang tak jemu menghantuiku dengan janji-janji indahnya YANG SEMU DAN PALSU di 9 hari sebelum datangnya bulan suci, mari mempersiapkan diri...)

Read More...

kekasihku...

kekasihku adalah buku yang takkan muak denganku
meski harta menjadi sedikit dan ketampanan mulai susut
buku sang pujaan hatiku, di kala tak ada tambatan kalbu
kan kurayu jikalau dia memahami rayuan kalbu
buku... teman setiaku kala duduk, yang takkan merasa jemu
penjelas kebenaran yang tak membuatku jemu
buku... lautan yang takkan menarik pemberiannya
membanjiriku dengan harta, meski harta menahannya
buku... petunjuk terbaik untuk meraih asaku
darinya selalu ada pengalaman baru dan penerang langkahku

Sya'ir ini karya Ibnul A'rabi (penulis Al-Gharib)

Read More...

kadang laki-laki juga membutuhkan kecengengan

aku kembali berdiskusi dengan hangatnya malam, dan mereka tau disini aku kedinginan.
mencoba bercengkrama bersama ributnya suara, dan mereka tau disini hening dan diam.
berpesta ria dalam gempita ramainya manusia, dan mereka tau disini tak ada siapa-siapa.
aku merindu riang canda tawa mereka.
utuh dikesatuan keluarga.
dalam dekap hangat kebersamaan.
Ibu.
Bapak.
Gara.
Gia.
tersenyumlah.
dalam dua purnama kusongsong kalian disana.
dengan izin Allah tentunya.
siapapun yang membaca suaraku ini.
janganlah beritahu mereka.
kerena tak mau kerinduan tak tertahankan juga melanda keluarga.
karena kau pun tentu tahu.
bahwa kadang laki-laki juga membutuhkan kecengengan.

Read More...

Dan kita sudahi saja sampai disini

gelisah memantapkan dominasi
satu persatu kenangan antri
melumpuhkan jiwa yang hendak menari
hujan deras seolah berkehendak mewakili
manis pelangi pun mencoba untuk menghibur hati
tapi gelisah telah sempurnah menguasai
bersekutu bersama kenangan-kenangan kami
akan tetapi
jiwa yang sepi
takkan sampai mati meski sakitnya terus menggerogoti
dan ia akan terobati
oleh dirinya sendiri
aku pun sudah tak punya kata berakhiran -i
dan kita sudahi saja puisi ini
sampai disni...

Read More...

SAKIT ! TERIMAKASIH...

percuma!
jika percaya ketika ada yang mengatakan ia cinta
malang!
jika kepayang ketika ada yang mengatakan ia sayang
buang waktu!
jika terharu ketika ada yang mengatakan ia rindu
karena
cinta sayang dan rindu
hanyalah permainan nafsu
untuk memenjarakan kenangan
yang takkan bisa kau hapus hanya dengan lelehan air mata
bahkan kau tukarkan dengan usia
tetap akan sia-sia
padahal setiap langkah Semeru
disongsong hingga kepuncaknya Mahameru
berharap bisa menghapuskan kenangan
namun apa yang menjangkit?
namun apa yang dirasa?
namun apa yang ada?
SAKIT!
dan
akankah manusia sadar
bahwa dirinya telah menjelmakan kesakitan
yang teramat sakit untuk yang tersakiti?
ku tak yakin hakikatnya manusia itu akan mengetahui
kecuali ia telah merasakan kesakitan yang serupa
dengan manusia yang telah ia sakiti
wahai adam,
janganlah kau sakiti hawa
karena ia akan terluka
dan kau takkan pernah mampu menyembuhkannya
meski kau baluri ia dengan seluruh darah di tubuhmu
wahai hawa
janganlah kau lukai adam
karena ia akan tersakiti
dan kau takkan bisa memulihkannya
meski kau obati sampai kau mati
peliharalah cinta sayang dan rindu kalian sewajarnya
supaya tidak terlukai dan tersakiti
TERIMAKASIH!

Read More...

menunggu padam

cahaya kenangan menusuk
dengan jutaan keindahan
yang telah dipahat
diantara kebersamaan

retaklah seisi perasaan
disaat cermin bayangan
merajam tuk menghentikan
irama hentakkan jantung

perlahan
sangat pelan
pelita hati
mengecil
dan
sebentar lagi
menunggu padam

Read More...

Penari Pena, Dari dalamnya hati sampai ke tingginya puncak merapid

jum'at 2 april 2010 (kudedikasikan untuk adik2ku di Komunitas Penari Pena), kami ber 15 naik gunung merapi di Yogyakarta, banyak hal luar biasa yang didapat di ketinggian 2980 meter diatas permukaan laut itu, terutama kami bertemu dengan 4 amazing child (usianya rata2 9 tahun), mereka bisa mendaki sampai ke puncak bersama ayah2nya, kami bisa, mereka bisa, kenapa anda tidak mencobanya?











Read More...

24 jam

24 jam menuju lembar baru di usia baru.
tangan sudah memaksa untuk mulai bercerita.
otak berteriak ingin segera bergerak.
hati tersenyum menatap lembaran yang telah lama tersimpan.
24 jam menuju lembar baru di usia baru.

Read More...

Jogja Java Carnival 2009


LATAR BELAKANG:
Keberadaan Kota Yogyakarta tidak dapat lepas dari keberadaan Kasultanan Yogyakarta yang secara de yure telah ada sejak tahun 1755 (ditandai dengan terjadinya Perjanjian Giyanti). Meskipun keberadaan Kasultanan Yogyakarta telah ada pada tahun 1755, namun keberadaan Yogyakarta sebagai sebuah kota belum terjadi pada saat yang sama.

Penanda keberadaan Yogyakarta sebagai sebuah kota terjadi pada bulan Oktober 1756, ketika terjadi perpindahan keluarga Sri Sultan Hamengku Buwana I dari Pesanggrahan Ambar Ketawang menuju ke istana yang baru, yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Peristiwa ini menjadi sebuah momentum bersejarah, yaitu kelahiran kota Yogyakarta baik secara fisik maupun sosiologis yang kemudian berkembang, menjadi salah satu kawasan budaya dan kawasan pendidikan.

Dalam perkembangannya, fungsi sebagai kawasan budaya dan pendidikan ini mempunyai dampak pada sektor kependudukan, dengan banyaknya masyarakat dari luar Yogyakarta yang tinggal untuk kepentingan pendidikan di kawasan Yogyakarta.

Dampak lain adalah menjadi potensialnya wilayah Yogyakarta sebagai kawasan pariwisata.

Perpindahan dari Ambarketawang ke Keraton ini sangat monumental, karena secara kasat mata merupakan barisan arak-arakan, lengkap dengan atribut dan ubarampenya.

Sejak tahun 2004, Pemerintah Kota telah menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari ulang tahun Kota Yogyakarta dimana tanggal itu merupakan momentum perpindahan Sultan Yogyakarta ke istana barunya. Penetapan ini melalui Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2004.

Dalam proses perjalanannya, kirab budaya ini dicoba dikembangkan, agar mempunyai dampak positif bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta, pada wilayah kegiatan seni, edukasi, ekonomi, pariwisata dan budaya.

Untuk itu, pemerintah kota merancang sebuah kegiatan yang selaras dengan zaman, tanpa kehilangan benang merah tradisinya.

Kota Yogyakarta sebagai kota wisata yang cukup dikenal di Indonesia dan dunia internasional memiliki beragam potensi yang belum dioptimalkan. Dasar pengembangan pariwisata berbasis budaya yang sudah diluncurkan pada tahun 2008 senantiasa diupayakan untuk selalu ditingkatkan. Tematik pembangunan Kota Yogyakarta pada tahun 2009 adalah, kota pendidikan yang berkualitas.

Berpijak dari dua hal tersebut di atas dengan keanekaragaman budaya yang ada, serta kegiatan kesenian reguler yang sudah mulai di gelar oleh Pemerintah Kota Yogyakarta; merupakan daya tarik bagi Kota Yogyakarta yang dapat mendatangkan dan meningkatkan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara (‘Tontonan menjadi Tuntunan’), Sehingga menjadikan Kota Yogyakarta hidup sepanjang hari dan sepanjang tahun.

RANGKAIAN KEGIATAN
Tema Keseluruhan Kegiatan “ Dahulu – Sekarang – Yang Akan Datang“
Materi :
1.Pawai Budaya
oPawai AlegorisPawai Adeging Kutho Ngayokarto Hadiningrat, akan diikuti oleh 20 kelompok Seni yang ditunjuk oleh panitia, dengan Rute dari Ambar Ketawang / Kali Bayem sampai Alun – alun utara yang akan masuk melalui depan Kantor Pos.
oPawai Devile dan KeprajuritanBersamaan dengan pawai Alegoris peserta pawai Devile yang akan diikuti 20 kelompok dari intansi, sekolah, IKPM, kelompok kegiatan, lembaga, ABRI dsb. Dengan rute Balai Kota sampai Alun – alun yang akan melalui depan Kantor Pos.
oPawai Budaya akan dimulai pukul 14.00 sampai 17.30 WIB dengan melibatkan 40 kelompok untuk 2 rute
oPeserta pawai akan melakukan display di titik – titik yang sudah ditentukan oleh panitia.

2.Pentas Potensi 45 Kalurahan
oPentas Potensi 45 Kalurahan akan dimulai tanggal 8 – 16 oktober 2009 ( 9 hari ).
oPanggung akan didirikan di 14 Kecamatan atau 9 titik penting ( strategis ) dengan pola dasar pemilihan tempat, materi berdasarkan potensi kelurahan melalui seleksi sehingga menghasilkan bentuk sajian yang berkualitas. Panggung akan didirikan di titik- titik penting pada setiap kecamatan dengan panggung utama di Pagelaran Kraton Yogyakarta.

3.Jogja Java Carnival
oJogja Java Carnival akan menampilkan kelompok – kelompok seni dalam kemasan tarian jalanan dan arak-arakan kereta / mobil hias dengan pemain /peraga / penari diatas mobil maupun penari jalan kaki, berdasarkan tema masing-masing yang akan menempuh Rute dari Abu Bakar Ali – Malioboro – Alun – alun Utara .
oPeserta terdiri dari : 1 dari luar negeri , 1 Kelompok Mahasiswa Asing ,3 dari daerah / Propinsi lain dan 15 kelompok dari DIY
oProsesi diawali Leong yang berperan sebagai pembuka jalan diikuti prajurit bergada sebagai Cucuk Lampah ( pengawal ) Raja dan Permaisuri diatas kereta yang dikemas dalam bentuk mobile stage diiringi dengan musik dan diikuti oleh kelompok penari Lawung. Peserta Carnival yang lain akan mengikuti di belakangnya.
oDi depan Pagelaran didirikan Panggung kehormatan bagi tamu undangan yang akan dipentaskan beberapa materi kesenian sebelum peserta carnival sampai di Alun – alun. Adapun materi tersebut adalah : Band Jikustik; Garapan tari masal; Tari Modern dan Liong .

sumber: www.jogjajavacarnival.com

Read More...

Kado Kecil Untuk (Calon) Mempelai Wanita

Wahai cucu kesayangan Hawa! Aku tahu engkau merindu, aku bisa merasa apa yang engkau rasa, dan memang tidaklah ringan untuk belajar menahan gejolak hati yang tak henti genit menggoda mesra, tapi tahukah bahwa menunggu adakalanya terasa begitu mengasyikan? dan rindu yang terpelihara, itulah pertanda bahwa engkau jatuh pada cinta yang suci terjaga!

Ujung cerita penantian ini memang belum dibukakan secara keseluruhan, sebab Dia masih asyik berpuisi dalam diam-Nya, oleh karena itu janganlah berhenti merangkai pinta dalam alunan orkestra doa-doa, karena penantian ini pasti akan segera bertemu akhirnya ketika sulaman rapi kesabaran kita sudah diizinkan menemui ujung benangnya.

Wahai pengagum Khodijah, Aisyah dan Fatimah, bagaimana nanti engkau akan bisa mendampingi perjuanganku andai saat ini kesabaranmu kalah oleh denting waktu, bagaimana engkau bisa kuat menopang pundakku jika saat ini jiwamu melemah hanya karena belum kunjung datangnya waktu pertemuan yang mempersatukan, maka kuatkanlah dirimu dan Tersenyumkah! insya Allah ikrar untuk janji yang kuat itu takkan lama kusimpan untuk terucapkan.

Dan hari ini… dengarlah! dengarlah! Putik-putik kembang merdu berdendang, lihatlah! lihatlah! Kaki-kaki angsa indah berdansa, mereka semua kuminta datang menghadapmu untuk mempersembahkan salamku atas kedatangan usiamu yang menapak di dua puluh kali revolusi bumi.


Yogyakarta, 10 10 09
(10/10/09 telah menggenapkan usia nafasmu menjadi 240 bulan, selamat berulang hari kelahiran! dan 10/10/10 sudah semakin mendekat, Isya Allah…)

Read More...

Egosentris Kun-Geia (Sebuah pendaman rasa)

Aku sedang menginginkan kesendirian,
Aku masih menghendaki ketenangan,
Aku masih meminta kedamaian,
Aku sedang menuntut keheningan.
Maka jangan merusak keakuanku yang menginginkan sendiri,
Maka jangan merusak keakuanku yang menghendaki tenang,
Maka jangan merusak kekakuanku yang meminta damai,
Maka jangan merusak keakukanku yang menuntut hening.
Atau keakuanku rusak dalam kesendirian,
Atau keakuanku rusak dalam ketenangan,
Atau keakuanku rusak dalam kedamaian,
Atau keakuanku rusak dalam keheningan.
Cukup sudah kekuatan semangatku kalian lemahkan,
Cukup sudah kelimpahan percayaku kalian siakan,
Cukup sudah ketulusan niatku kalian sampahkan,
Cukup sudah kucuran pelajaranku kalian acuhkan.


Yogyakarta, 01 10 09 20 10
(Jangan sapa aku sampai waktunya tiba kusapa kalian, jangan tanya aku sampai waktunya tiba kutanya kalian, jangan salami aku sampai waktunya tiba kusalami kalian, jangan hubungi aku sampai waktunya tiba kuhubungi kalian, karena jika tidak… sapa, tanya, salam dan usaha kalian untuk menghubungiku hanya akan berakhir dengan kesia-siaan tanpa sebuah jawaban sedikitpun. Fikirkanlah sebelum orang-orang yang masih mau memikirkan kalian benar-benar meninggalkan kalian, renungkanlah sebelum orang-orang yang mau merenungi kemajuan kalian benar-benar me-masabodohkan-kan kalian. Aku serius, ini bukan main-main atau gurauan belaka.)

Read More...