"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"
belum berjudul
“Buta ya!!! Nabrak orang sembarangan!!!!” Tumbukan lemah menghentikan langkahku keluar dari gerbang bar yang semalam kusinggahi.
“Maaf, saya memang buta Mas….” Gadis manis itu meraba sekitarnya dengan gagap. Selintas terusik benakku ketika memandangnya. Tapi itu tak berlangsung lama, aku masih setengah sadar dari teler. Cara jalanku yang sempoyongan rupanya tak disadari gadis itu dan dikiranya dia yang menabrakku. Kupandangi wajahnya, ayu sekali, perlahan dahinya berkerut. Mungkin bau wine masih menguar dari mulut dan tubuhku. Sembari terpana aku beranjak, ah sudahlah, masa mesti malak orang buta, belum tentu dia punya duit. Aku melenggang santai ketika tanganku diraihnya. Hey….diraih?? bukannya dia buta??
“Maaf, apa Mas terluka??” Kukibas tangannya, “Aku tak apa” kulirik mata kosongnya, “cemaskan saja dirimu…” cengkeramannya tak mau lepas, “Maaf, saya rasa, Ibumu sedang sakit Mas…” Aku bingung, ‘ibu?’ gadis ini sinting apa aku yang tak waras? Kepalaku berdenyut-denyut, akh….wine semalam lebih keras dari biasanya. Kutoleh gadis buta yang melangkah pergi begitu kutinggalkan ia, aku tak punya niat buat bertanya apa maksud kata-katanya barusan, otakku sudah terlalu penat buat berpikir.
***
Geragapan aku bangun di sela bantal basah penuh keringat kamar apartemenku. Handphone yang tergeletak tak jauh dari ranjang bergetar tak henti, kuraih lalu kudekatkan ke telinga tanpa melihat siapa nama peneleponnya.
“Alo…?”
“Hallo Gi?? Kamu dimana? Gi, ibu kritis…mungkin akan segera dijemput, kau bisa kemari? Beliau pesan supaya…”
“Aku kesana…!” Serabutan kuraih kunci mobil dan bergegas keluar, tak peduli seperti apa penampilanku sekarang. Pulang!!
13.48 | Labels: Pena Depiyh | 4 Comments
31
Jakarta,Mei 2031
"Sang Hyang Keadilan...tunjukkan jalan....", Darsiman mengusap keningnya lalu melangkah keluar kantor.
---
"Pak Hakim, saya harap anda mau menerima oleh-oleh yang tak seberapa ini..." selembar amplop tebal disorongkan ke hadapan Darsiman.
"Kalau anda pikir saya sama seperti hakim lain, anda salah sangka..." Darsiman memejamkan mata, "saya sudah lama tak tergiur pada harta...."
Si tamu melirik, menebak-nebak benak Darsiman, menimbang-nimbang sesuatu, "Kalau begitu..."
"Saya juga tak tertarik pada perempuan, istri saya sudah lebih dari cukup buat saya...."
Darsiman memandang tamunya yang mulai gelisah.
"Sebenarnya saya masih punya satu kartu yang mungkin akan mengharuskan bapak untuk menuruti kemauan saya...tapi...." si tamu geligutan si kursinya.
Darsiman mendengus, "Katakan saja..."
"Sungguh pak, saya sendiri ragu akan mengatakannya, ini juga terlalu berisiko buat saya....saya rasa bapak sudah tau yang saya maksud, sungguh saya gamang jika harus mengatakannya pada bapak...." keringat mengaliri wajah si tamu.
"Katakan saja, jangan membuat saya jadi terlalu berminat untuk mengadili saudara juga...." Darsiman tersenyum tipis, bukannya sudah cukup atasan saudara saja yang diadili?"
Si tamu tertegun, memandangi Darsiman dengan bingung, "Anda pasti tahu kan yang saya maksud, jadi apa perlu saya katakan?"
"Saudara sepertinya yakin sekali bahwa saya tahu apa yang saudara maksud..." Darsiman memandang tamunya menyelidik, membuat si tamu gelisah.
"Katakan saja, saya tak terlalu suka dengan basa-basi..."
Si tamu menarik napas, "Baik saya katakan..."Si tamu mengusap keringat dinginnya, " Bapak..." satu tarikan napas, "Bapak hakim yang terhormat..." satu tarikan napas panjang, "Bapak adalah penganut agama terlarang ke 31." si tamu melirik pada Darsiman, memastikan reaksinya, tapi kemudian kecewa karena Darsiman memasang muka dingin, "saya punya bukti mengenai itu, saya bisa saja melaporkan bapak jika bapak tidak mengikuti anjuran saya untuk meringankan tuntutan pada atasan saya...." Darsiman merasakan getar suara tamunya, ah, sepertinya ini tak akan lama....
Darsiman tersenyum sejenak, "ya...saya memang penganutnya, dan saya akan dengan senang hati memberi tahu anda satu hal baik..." Darsiman menunggu reaksi tamunya, ketika tak ada sahutan apa pun, Darsiman melanjutkan, sebenarnya agama nomor 31 itu bukan agama, itu hanya ikatan persaudaraan....hanya beberapa bait kalimat yang diucapkan saat akan masuk ke ruang pengadilan." Darsiman mengusap tumpukan file di hadapannya, "Saya sendiri punya agama yang sah dan anda tak perlu tahu agama saya, yang perlu anda tahu, sebagian besar hakim yang menjunjung keadilan mengikuti ikatan ini." Memandang sekali lagi ke tamunya lalu melanjutkan, "Satu lagi, ikatan persaudaraan ini punya perjanjian dengan negara, bahwa satu sama lain tidak akan saling mengganggu selama interaksi kami menguntungkan. Jadi tidak ada gunanya anda menyogok maupun mengancam saya, karena bagi negara, tindakan mengadili atasan saudara yang menjadi penggelap pajak adalah sebuah keuntungan." Tamunya tertegun. Ini saatnya mengakhiri sebelum si tamu membantah kata-katanya.
"Nah...saya rasa cukup sekian penjelasan saya, saya harap saudara berkenan meninggalkan ruangan ini, saya masih punya cukup banyak pekerjaan yang lebih bisa saya pentingkan daripada harus melayani anda. Sampai jumpa di pengadilan." Darsiman menyalami tamunya sembari menuntun menuju pintu sementara si tamu masih dengan susah payah mempercayai apa yang didengarnya. Setengah jam...ah tidak, 31 menit, dan satu pembicaraan tak penting disudahi.
09.47 | Labels: Pena Depiyh | 0 Comments
You Know Poo??
Hari pertama ketika aku memutuskan menulis, hari itu juga aku dihadiahi seekor peliharaan. Tak tahu siapa yang mengirim, tiba-tiba saja benda berisik itu sudah bertengger di samping meja yang biasa kupakai menulis. Terbungkus kertas kado cokelat dan terdengar bunyi “duk…duk….kruduk…kruduk…” ketika diguncang dan didekatkan ke telinga. Seketika aku yang penasaran membuka bungkusannya dengan membabi buta. Sepersekian detik sejak kubuka kardus dalam bungkus kado itu…melompatlah mahluk yang sekelebat berwarna kuning ke wajahku…menghambur dan mematuk-matuk dengan riangnya…ya ampun…bocah…ribut amat… begitu pikirku… Masih terkejut dan gelagapan karena dapat serangan tiba-tiba, aku cuma bisa tertegun ‘burung?’. Makhluk itu diam seolah tau yang kupikirkan. Dia melayang ke pinggiran meja, berkedip lalu membuka mulutnya lebar-lebar dengan galaknya seolah memberi salam perkenalan. Seekor kenari rupanya, tapi anehnya selain kuning dan ribut, kuperhatikan ternyata bagian perutnya tak ditumbuhi bulu sedikitpun…botak… Hatiku mencelos…ou ou…
Tiga hari sejak itu aku mulai terbiasa dengan polahnya. Binatang kecil ini selalu buang air dengan tertib dan membuat sarang sendiri di atas lemari pakaianku, yang masih membuatku heran hingga sekarang, kotorannya tak pernah bau lho, malah bisa dibilang dia jarang sekali buang air di kamar. Kandang burung yang aku beli sehari setelah aku dikejutkan oleh kehadirannya tak jadi kugunakan buat mengurungnya. Si kenari selalu terlihat frustrasi tiap kali ku masukkan ke sarang, tak tega aku melihatnya. Akhirnya karena bingung kubiarkan dia membuat sarang seenaknya diatas lemariku dan kubuka jendela lebar-lebar biar dia bebas keluar masuk sesukanya. Oh iya, biar kuberi tahu pada kalian, burung kenari ini tak bisa dilihat orang lain, Cuma bisa dilihat olehku, hoho…ajaib ya… itu segera kusadari karena tiap kali aku beranjak keluar dari kamarku, dia langsung nongkrong dengan nikmatnya di bahuku, dan ternyata tak ada orang yang terusik dengan keberadaannya. Wow…
Kenari kecil bernama Poo ini punya kebiasaan super unik dan menyebalkan. Hmm…sebelumnya biar kuberi tahu satu hal, kalian pasti bertanya kenapa dia bisa kunamai Poo…padahal Poo itu kan…yap…Poo = ee, habis aku sudah tak ada ide buat menamainya, memang apa lagi nama yang cocok buat burung kuning...hmm....kuning lah pokoknya. Sekarang akan kuceritakan soal kebiasaan menyebalkan si Poo. Sebenarnya dia bisa dikatakan manis andai saja ia tak pernah menggangguku tiap kali ritual menulis hendak kulakukan. Tiap kali pena hendak kujangkau, atau folder kumpulan cerpenku kubuka, dengan lembutnya Poo menggesek-gesekkan bulu-bulu sayapnya di pipiku. Entah sihir apa yang ia hembuskan, saat itu juga ide yang sudah hampir tersalurkan di lembaran-lembaran kertas menguap tak tentu tujuan…duh…melongolah diriku memandangi embrio ceritaku yang beterbangan dengan bebasnya. Ideku hilang, lenyap, otakku hang. Kalian tau bagaimana sedihnya? Rasanya menangis saja tak cukup jadi obatnya. Waktu pertama Poo bertingkah begitu, kupikir itu bukanlah ulahnya…yah…paling emang lagi apes. Akhirnya sehari terlewati tanpa satu pun karya tercipta.
Hari berikutnya, aku yang sudah mantap dengan ide dalam kepalaku dengan hati-hati mulai menggores pena. Lega karena tak ada gangguan membuatku lengah dengan keberadaan Poo. Ternyata ia sudah bertengger di ujung kertas yang sedang kutulisi. Kalian tau? Tak cuma satu yang bertengger disana, ada lima Poo! Dari mana burung sebanyak itu? Aku pura-pura acuh akan hal itu dan kembali menulis. Baru selesai satu kata, tiba-tiba POP! Muncul seekor Poo lagi berbaris dengan Poo-Poo yang lain, masih heran, aku menulis satu kata lagi. POP! Lagi, lagi, lagi…arrgghhhh!!! Kosentrasiku buyar, pena pun tergelincir dari tangan dan Poo-Poo itu lenyap, tapi sebelum lenyap, mereka meninggalkan bulatan-bulatan kotoran burung di kertasku, tersisa satu Poo yang kukenal, ia mengedip-ngedip seolah menggodaku…ARRRRGHHHH…. MENYEBALKAAAAANNNN…!!! Sebenarnya setelah kupikir lagi di kemudian hari, aku jadi sedikit sangsi, mungkin Poo bukan muncul karena tiap kata yang kutulis dengan penaku tapi justru karena aku lah yang sejak awal tak konsentrasi, baru menulis satu kata langsung teringat satu urusan, satu kata lagi ingat urusan yang lain, begitu seterusnya. Mungkin Poo itu cuma kambing hitam ya..
Euhm…tapi tidak juga, setelah kupikir lagi, Poo memang makhluk usil, buktinya ketika aku mulai jenuh di tengah proses menulis, dialah yang jadi sensor paling sensitif, dia dengan sengaja buang air atau bertingkah lucu hingga perhatianku teralih dan tulisanku terhenti di tengah jalan. Ketika ingin melanjutkan ternyata kucuran ide sudah berhenti, ah payah… Tidak, Poo sebenarnya tak bersalah, aku memang orang yang mudah tergoda, dan godaan terbesarku ya…Poo…hehe. Kukatakan satu hal. Aku sudah tau bahwa Poo bukanlah binatang biasa, dia adalah sisi lain dariku, yang ‘buruk’ mungkin…tapi yang jelas dia ‘mengganggu’ ketika aku tak menginginkannya.
Poo bisa jadi adalah godaan, tapi apa mau dikata, dia juga bagian jiwaku dan aku tergantung padanya, paling tidak aku jadi tak begitu merasa bersalah karena ada Poo yang menyelamatkanku dari rasa berdosa akibat tulisan yang tak kunjung selesai. Euhm…aku jadi terpikir untuk mendapat peliharaan baru yang bisa jadi lawan Po…peliharaan yang isinya semangat, kreatifitas, juga ide-ide yang mengalir lancar. Mungkin kalau aku punya satu peliharaan lagi, Poo tak akan kesepian dan akan berhenti menggangguku. ^_^
18.20 | Labels: Pena Depiyh | 0 Comments
Mengasah Pena yang Berkarat
_Bayangkan seandainya manusia lahir tanpa hasrat, sangat mengerikan, dari hal kecil, kita takkan memikirkan soal makanan karena sekalipun kita lapar, kita tak berhasrat untuk menyentuh makanan, bahkan kenal yang namanya makanan saja, mungkin tidak. Kalo tanya sama para koki, mengenai apa yang jadi dasar hingga mereka memutuskan menyandang predikat sebagai juru masak, jawabannya akan beragam, ada yang karena orang tua, ada yang karena tak ada profesi lain yang bisa digeluti dan lain-lain. Ada sebagian koki yang memutuskan menjadi koki karena bagi mereka memasak adalah hidup, memasak adalah seni, memasak adalah kesenangan. Titik. Begitu pula halnya saya. Mengapa menulis, apa tak ada pekerjaan lain? Apa tak jenuh? Jawabannya, karena kadang tindakan atas dasar dorongan jiwa tak butuh alasan dan tak menjenuhkan. Hasrat, tak perlu alasan.
_Saya manusia, saya berpikir, dan saya hidup, paling tidak itu standar eksistensi manusia. Buat saya, itu tak cukup, untuk hidup seseorang butuh kenangan, dan kenangan adalah hasil olahan dari hasrat. Sesuatu yang dijalankan karena hasrat selalu lebih mudah dikenang karena ia berkesan. Dan yang berkesan, yang diingat, adalah sebuah tulisan, sekalipun hanya bisa dibaca sendiri, itulah karya. Semuanya memang tidak berbentuk coretan tinta, hanya berbentuk buah pikiran, sekali lagi, itu tetaplah karya. Hanya dengan melihat, manusia sudah menulis -menulis dalam pikirannya tentu saja-, tapi mekanisme penulisan itu sendiri, sulit dijelaskan. Menulis, kenyataannya adalah perlambatan kerja otak yang dimulai dari melihat kemudian mengabadikannya dengan rangkaian abjad sesuai kemampuan dan kemauan si penulis.
_Sederhananya, menulis adalah membuat ingatan, kenangan, yah…itu lah. Bagaimana cara menyembuhkan hilang ingatan? Adalah dengan mempertemukannya dengan kenangan-kenangannya, bagaimana cara mencari barang yang hilang? Tentu dengan mengingat kapan dan dimana terakhir kali benda itu diletakkan, mengingat adalah mekanisme dasar manusia dan bahkan orang idiot saja punya ingatan. Ingatan yang dituang dalam tulisan yang nyata jadi bukti eksistensi manusia. Memang tak semua cerita bisa dibukukan, tapi tokoh cerita tak harus riil sekalipun cerita itu riil kan? Tulisan adalah sesuatu yang tak tergantikan, ia lebih bisa menggambarkan sebuah proses dengan detil ketimbang sekadar potret maupun lukisan, dan pandang sisi sentimentilnya, tulisan lebih bisa jujur mengungkap rahasia hati si penulis pada si pembaca.
_Kejujuran adalah kebutuhan primer para penulis. Kejujuran membuat para penulis jadi punya pikiran yang logis untuk tulisannya karena ia tak hanya melibatkan perasaannya semata tapi juga memikirkan reaksi pembaca. Pembaca akan lebih mudah membaca segala sesuatu yang ‘realistis’ daripada tulisan yang samar dan memiliki banyak ‘kebetulan’ didalamnya. Cerita misteri, fantasi, maupun segala sesuatu yang tak nyata juga tak boleh melibatkan terlalu banyak ‘kebetulan’ karena ‘kebetulan’ itu menjenuhkan dan membuat pembaca jenuh adalah dosa besar buat para penulis. Saya sendiri masih belum bisa melepas keinginan mendasar saya untuk membuat sebuah ‘kebetulan’ di tiap cerita yang saya tulis. Menyedihkan sekali tiap kali tulisan saya membuat para pembaca bosan, tapi biarkanlah pena saya menari mengantarkan kebosanan pada anda semua hingga suatu saat anda menyadari bahwa tulisan saya telah menjadi karya yang hebat.
Seringkali manusia terlarut dengan kesulitan hidupnya hingga jadilah berlembar-lmbar tulisan atau bahkan mahakarya yang disenangi semua orang. Memang observasi termudah adalah observasi diri sendiri, tapi cobalah untuk tak selalu mengikuti arus, jika terlalu lama memandang dengan mata sendiri, apa tak bosan? Lagipula sudah banyak cerita tentang “saya adalah bla bla bla” sejak SD semua orang mempelajari cara bercerita seperti itu dan terus terang, saya bosan, saya lebih ingin bercerita tentang “mereka adalah”, “begini kisah-nya”, “ah, bahkan gunung dan lembah tertawa padanya”, mengapa? Karena saya tak sendirian, dan saya tak ingin merasa sedirian, dengan mendengar dan menceritakan mereka, saya bisa merasakan betapa hiruk pikuknya kehidupan, dan betapa beruntungnya saya terlahir bersama mereka semua.
08.39 | Labels: Pena Depiyh | 1 Comments
Lastri
"Mas, Lastri pamit mas...." terakhir kali istriku bilang begitu disela tidurku, paginya ia sudah jauh entah kemana.
Tidak. Aku tak menyesal. Ini lebih baik buatnya. Lebih baik istriku minggat. Biar ia melacur, biar ia pulang ke rumah orang tuanya, atau bahkan ia menjemput kematian di rel kereta api. Itu sudah jadi keputusannya. Aku takkan menjemputnya, kalau ia ingin pulang, pasti dia pulang dan aku harap itu tak terjadi. Kami sudah hidup bersama lebih dari dua puluh tahun, tanpa anak. Kami sudah tahu bagaimana karakter masing-masing.
Hidup bersamaku mungkin jadi pilihan berat buat Lastri. Ah...istriku yang satu itu sudah terlalu banyak berbuat baik buatku dan dia penurut sekali. Umur kami beda tiga belas tahun, tapi dia tetap memanggil suaminya ini dengan panggilan 'mas', padahal aku lebih cocok jadi pamannya. Terus terang, aku yang melarikan dia dari rumahnya. Bukan, lebih tepatnya memaksa ia tinggal jauh dari orang tuanya, karena aku tak tahan dengan perilaku ibunya yang suka menghinaku, mentang-mentang aku jadi pekerja pabrik bergaji kecil waktu itu.
Setelah pergi dari rumah orang tua Lastri. Kami membangun kehidupan baru, sepuluh tahun kami bahagia meski tanpa anak, aku mandul kawan dan dari awal Lastri sudah tahu itu. Di tahun kesebelas, musibah menimpaku, kecelakaan kerja membuat kedua kakiku terpaksa diamputasi. Sungguh, waktu itu aku menangis keras sekali di pelukan Lastri. Bukan karena aku menyesal tak bisa berjalan lagi, tapi karena aku belum bisa membahagiakan Lastri. Aku kalut, waktu itu dalam pikiranku cuma ada kalut dan menyesal, bagaimana aku bisa begitu ceroboh hingga bisa celaka. Bagaimana aku mencari nafkah nanti, Lastri belum sempat punya banyak baju baru, aku belum belikan dia perhiasan-perhiasan yang ia sukai, aku belum belikan makanan-makanan yang belum sempat ia cicipi. Akh!!!
Sore sebelum Lastri pergi, kami bertengkar. Sudah sembilan tahun ia berpuas diri bekerja serabutan demi menghidupi kami berdua dan aku muak. Aku muak dengan diriku. Malam itu aku ingin menyuruhnya pergi dan aku menyulut kemarahannya, kubuat ia marah sebisaku. Aku katakan hal-hal sadis padanya, kukatai ia sekenaku hingga aku iangin menangis saking sakitnya hatiku, tapi ia bergeming seolah ia tak mendengar apapun. selesai aku bersumpah serapah, ia menyiapkan makan malam seadanya dan membaringkanku di lincak bambu. Aku masih memasang wajah masam agar ia tahu aku seruis marah padanya. Malamnya ia pergi,entah karena kesal atau entah ia tahu bahwa aku berpura-pura.
Aku bersyukur ia benar-benar pergi, biarlah laki-laki tua ini membusuk sendirian. Aku ingin kamu bahagia, cuma itu Lastri, karena denganku, kamu cuma bisa memakan penderitaan sepanjang hidupmu.
Lamunanku terhenti, hari sudah siang, senyap sekali karena tak ada Lastri dirumah ini. Aku berguling ke lantai, menarik tubuhku ke dapur, aku haus. Sampai di ambang pintu kulihat pintu ruang tamu terbuka dan kulihat sosok Lastri yang menangis. Serta merta ia jatuhkan bawaannya lalu ia berlari memburuku dan memelukku yang masih terduduk di lantai dengan erat. Entah di sebelah mana dari hatiku tiba-tiba terasa lega, lega karena melihatnya. Aku menangis, terakhir kali aku menangis adalah saat kecelakaan itu terjadi, dan kini aku menangis lagi. Nuraniku menjerit, ternyata sedetikpun aku tak ingin ia tinggalkan, sekejappun tak ingin aku tak merasakan kehadirannya. Sudah berapa lama aku tak merasakan perasaan yang meluap-luap begini.
Kelu kugerakkan bibirku, "Lastri..." aku berdebar-debar sementara istriku terus menangis memelukku, "Maaf...".
Bola mata Lastri yang berkaca-kaca sekonyong-konyong menatapku, "Mas..." dia memanggil namaku lirih, air matanya makin deras mengalir. "Seburuk apapun kamu, kamu suamiku mas..." napasnya tersengal. "Jangan suruh aku pergi dengan cara seperti itu lagi mas...", Lasri mengencangkan pelukannya, "Lastri nggak bisa pergi mas...Lastri..." suaranya sudah tak keluar, tangisnya makin keras, badannya berguncang keras. "Tampar aku Las...", aku berbisik ditelinganya. Lastri menggeleng kencang. "Sadarkan aku Las...aku sudah berbuat bodoh...", aku membujuknya. Lastri menggeleng, "Kau bunuh aku pun, aku takkan dendam mas...". "Lastri...Lastri...Lastri...Lastri...." kupeluk ia. Kusebut namanya puluhan kali. Biar ia tahu aku menyesal, biar ia tahu betapa aku mencintainya. Aku mencintai istriku. Aku mencintai Lastri.
15.41 | Labels: 2. Cerpen, Pena Depiyh | 3 Comments
romantika berdusta
aku berdusta ketika ingin didustai
aku berdusta ketika ingin dunia tak jujur padaku
hanya ingin sekadar nerasakan kelegaan setelah berdusta
meski tak lebih dari sedikit
Tuhan tak izinkan aku berdusta
tapi
mungkin Ia mengerti
aku dan manusia punya sel dalam komponen otak dan lidahnya yang berisi hasrat berdusta
dusta itu nyata
nyata adanya
nyata terjadinya
nyata ketika yang berdusta tak lagi tahu mana yang dusta dan mana yang benar-benar benar
15.10 | Labels: 1. Puisi, Pena Depiyh | 2 Comments
Sebutlah ini sebagai artikel, atau mungkin lelucon
Sebutlah ini sebagai artikel, atau mungkin lelucon. Mengetahui nama asli saya adalah kunci untuk bisa mengerti beberapa kalimat di bawah ini. Tolong jangan dianggap serius, anggap saja sebagai joke, karena saya pun, yang notabene sudah lebih dari dua puluh tahun menyandang nama saya ini baru menyadari betapa matematisnya nama saya itu. Betapa tidak, ternyata ayahanda dan ibunda saya tercinta begitu memimpi-mimpikan saya masuk jurusan matematika hingga nama saya pun tak jauh dari rumus-rumus. Hahahahaha....
"d.3,14 = keliling lingkaran
lingkaran punya satu sumbu
sumbu jadi pusat rotasinya
ketika berotasi ia akan mempengaruhi sekelilingnya
sekelilingnya akan mengikuti irama perputarannya
perputaran di sekitarnya punya ritme
ritme yang beragam menghasilkan kedinamisan
kedinamisan menghasilkan keindahan."
jadi apakah d.3,14 = keindahan??
Ternyata tak perlu buku tafsir nama yang muluk-muluk ya untuk mengartikan nama saya, dari beberapa kalimat diatas kan bisa dikatakan bahwa ketika
d.3,14 = keliling lingkaran maka
d.3,14 = punya satu sumbu, dan tentu saja pusat rotasinya itu Tuhan, lalu
d.3,14 = mempengaruhi sekelilingnya, tentu saja begitu...
13.37 | Labels: 2. Cerpen, Pena Depiyh | 2 Comments
manusia = pohon singkong
manusia itu seperti kabut
kadang tebal
kadang tipis
kadang jernih
kadang penuh tipu muslihat
begitu kata seorang lelaki paruh baya
manusia ibarat bendera
bisa beraneka warna
bisa satu warna
tapi tak bisa jernih seutuhnya
kecuali bendera plastik sisa agustusan yang sudah didera cuaca lebih dari enam bulan
itu pun masih bersisa warna putihnya...
seorang veteran yang sinis berujar
manusia itu laksana pasir
mudah hanyut kena angin dan air
juga bisa menyimpan banyak batu-batu besar hingga tak nampak dari luar
bisa dipakai menyembunyikan bangkai
bisa juga untuk tempat hidup rerumputan
terlalu dinamis
begitu ujar wanita dibalik meja kasir
manusia itu ibarat bahasa
bisa berubah sesuai situasi dan tempat ia berada
bisa menjebak orang yang tak mengenalnya
itu kata guru bahasa inggrisku di SMA
manusia itu kayak permen karet
bisa melar bisa ciut
awal-awalnya aja manis
abis itu ya...hambar...
seorang gadis remaja yang kemarin duduk disampingku dalam bus kota berujar
manusia itu ya mirip sampah
ada yang bagus dan masih bisa didaur ulang
ada yang langsung busuk begitu dibuang
mau diperlakukan seperti apa ya terserah yang memungut...
seorang tukang sampah berkata sembari mengusap keringatnya
lalu...ada satu orang yang mengumpat
tak terima
MANUSIA YA MANUSIA!!!
MANA BISA DIIBARAT-IBARATIN
MANA BISA DISAMA-SAMAAIN SAMA YANG LAIN-LAIN!!!
bodoh kamu!!!
Tuhan nggak bikin manusia buat disama-samain tau!!
dia tertawa
lantang sekali
lalu meraih tangan kananku
liat nih tangan kamu...
kalo nanti bentuknya udah mirip daun singkong...ijo...tipis...terus tulang jarinya juga bercabang-cabang...
kamu juga akan bilang manusia mirip pohon singkong??
13.03 | Labels: 2. Cerpen, Pena Depiyh | 3 Comments
Menyuburkan Lahan Kuasa
tidak..
coba lebih sederhana..
__ke kanan sedikit!
__tidak..
__terlalu miring itu...
__bisa naik lagi tidak??
__nah..sekarang coba dikekirikan..
__tidak,tidak,tidak..
__terlalu kekiri...
__nah..sedikit lagi...
__naik...
__naik...
__naik...
__nah...
__yak...
__yak...
__ugh...payah...
__itu kurang kekanan...
__yak!
__ambil sekarang...
__cepat!!!
__masukkan ke dalam kantong ini...
__nah...bawa ke tong sampah di belakang lalu BAKAR!!
kesia-siaan yang jadi makanan sehari-hari seolah-olah jadi sesuatu yang sah-sah saja...
kaya, kuasa menjamin semuanya
jujur??
mana tahan.. Read More...
10.17 | Labels: 1. Puisi, Pena Depiyh | 4 Comments
Terjaga
antara lena
terjaga
tidak
samar-samar
bernapas, tak bisa beranjak
kunang-kunang menyerbu masuk
sepi saja tapi mengaburkan pandangan
benarkah aku sungguh melihatnya?
desisan di samping telinga
tangan tak sanggup bergerak
menggapai-gapai
apa yang sedang berbisik
siapa yang sedang berbisik
'jangan bangun...'
'teruslah tidur...'
'bermimpilah lebih banyak, mimpi-mimpimu memberiku makan...'
otot-otot menegang
AKU MAU BANGUN!!!
'tidurlah..itu akan membuatmu nyaman..'
AKU LELAH TERTIDUR!!!AKU MAU BANGUN!!!!
'setelah bangun kau mau apa?'
AKU MAU....entah...
'tidurlah dengan nyaman, hidup dalam mimpi akan membuatmu hidup seutuhnya'
'kau takkan menemuinya ketika kau terjaga...percayalah...'
AKU LELAH...LELAH TERTIDUR...aku mau bangun...
'kukabulkan asalkan kau tak kembali lagi kemari...'
APA KENYATAANKU MENYAKITKAN HINGGA AKU LEBIH MEMILIH tidur?
'entahlah...'
KURASA AKU INGIN bangun...
'baiklah..'
tubuh basah
telajang
kulit pucat terendam air
bau masam menguar
aroma kota mati...
tangan kanan menggapai-gapai
lima senti kulit terkelupas...
sepuluh senti...
dua puluh senti...
AAAARGHHHH!!!AKU MAU TIDUR!!!
IJINKAN AKU TIDUR!!!
AKU MAU TIDUR!!!
TIDUR!!!
TIDUR!!! Read More...
09.29 | Labels: 1. Puisi, Pena Depiyh | 0 Comments
Tatacara Mati
lihat pergelangan tanganku...
A berkata
tiga garis cukup dalam disana
raba juga disini...
B menarik tangan A
A menyentuh lima garis tak beraturan di pergelangan tangan kurus
C mengangkat tangan tinggi-tinggi
ini yang kesepuluh...
darah mengucur...
mereka sama-sama orang kaya
keluarga mreka merdeka
anak-anak mereka bahagia
kekayaan begitu mengerikan
menghantui dalam mimpi mereka
jadi penghianat di sela benak pekerja mereka
ketakutan jadi Tuhan abadi mereka
jadi kaya ternyata tak enak
yah...
toh lebih banyak yang rela jadi orang miskin daripada jadi orang kaya
kalau tiga orang kaya sukses matinya...
toh paling cuma dua bulan jadi berita
habis itu...
ah sudah lupa
yang miskin-miskin lebih banyak punya cerita
sekalipun kalau mereka mati bunuh diri, tak akan ada berita buat mereka
bah
dikenali saja sudah syukur
ternyata
mati
sekalipun dengan cara tak terhormat
tetap saja isi kantong yang tentukan akan jadi apa dilihat orang nantinya
C kejang-kejang
B mengiris tangannya lebih dalam
A hanya diam
sedetik
dua detik
tusuk pisau di jantungnya
mati
11.06 | Labels: 1. Puisi, Pena Depiyh | 0 Comments
mengeluh??...BUKAN!!
kesan seperti apa yang ingin dilihat saat jumpa pertama
kesan seperti apa yang ingin dilihat saat perjumpaan-perjumpaan berikutnya bergulir bersama waktu
menunjukkan seperti apa kau dimatamu lebih penting dari kau di mata dunia
tak bisa seluruh dunia menatapmu dari sudut yang sama, ia begitu bulat dan besar untuk melakukannya
tak bisa seluruh dunia tunjukkan nilai yang sama tuk menghargaimu
matamu 'kan lebih bijak saat hatimu siap menganggap dirimu berharga
kau berharga
bahkan lebih lebih lebih berharga dari dugaanmu
seberapa berharga..
tidak dengan menatap masa lalu, tapi masa lalu yang akan memberitahu apa yang seharusnya ia katakan tentangmu
kau telah berjuang hingga hari ini
lalu seberapa gigih kau telah berjuang
jejak-jejak yang mengekor di belakang akan segera menjawab
jika kau menganggapnya sebagai perjalanan yang ringan
maka sudah saatnya kau memandang bayang-bayangmu dan mengatakan kebaikanmu,
ketika menurutmu ia sudah terlalu menumpuk maka perjuanganmu selama ini sia-sia dan esok 'kan lebih berat
kau bertanya-tanya, apa yang salah...
yang salah adalah ketika kau mengijinkan hatimu untuk merasa telah cukup untuk berbuat baik
jika selama ini kau beranggapan jalanmu begitu berat dan melelahkan
betapa bodoh dan dungunya
kau perlu diajari caranya bersyukur!
lalu bagaimana agar semua terasa benar
entahlah, mencari yang benar-benar "benar" begitu menyulitkan
gambar sebatang jarum di setumpuk jerami pun tak cukup tuk katakan seberapa sulitnya
pencarian ini sulit
menjadi sinting adalah salah satunya jawaban ketika semua jadi benar-benar buntu
ketika kembali ke awal...
sebenarnya apa yang kita cari
kebenara
pembenaran
yang seharusnya benar
apakah yang benar adalah benar dan baik
Ia telah begitu bijak membuat tanah ini bulat
Ia tahu kita 'kan bertanya terlalu banyak dan bulat adalah tanpa batas
tempat semua orang bebas bertanya dan menjawab
pembenaran,kebenaran,benar...
takkan ada habisnya
11.49 | Labels: 1. Puisi, Pena Depiyh | 2 Comments
bertanya, jawabannya tergantung nurani dan iman
>ingin seperti apa nantinya?
jika tahu jawabannya "hancur" akankah kita mempertaruhkan nyawa untuknya
>ingin seperti apa jadinya?
jika tahu jawabannya "lenyap" akankah kita mempertahankannya
>seperti apa jalannya?
jika tahu jawabannya "menyakitkan" akankah kita menjejakkan kaki disana
>kuatkah menjalaninya?
jika tahu jawabannya "tidak" akankah kita tetap bejalan
>bisakah dapat yang lebih mudah untuk dijalani?
jika tahu jawabannya "ya" akankah kita berpaling
>adakah yang lebih menyenangkan dari ini?
jika tahu jawabannya "ya" akankah kita meninggalkannya
>benarkah ia yang diinginkan?
jika tahu jawabannya "bukan" akankah kita melenyapkannya dari ingatan
>jika terlepas darinya akankah nyawa ikut lenyap?
jika jawabannya "tidak" akankah kita menutup mata tentangnya
>akankah jadi penghangat ketika kebekuan hinggap di sela kulit?
jika jawabannya "tidak" akankah kita menyepelekannya
>akankah ia dapat terlindungi?
jika jawabannya "tidak" akankah kita menyerah menjaganya
>akankah bertekad kuat tuk menjaganya?
jika jawabannya "tidak" akankah kita menyerah sebelum saatnya
>bisakah ia terlupakan?
jika jawabannya "ya" akankah kita sengaja tak mengingatnya
>tersakitikah saat menjaganya?
jika jawabannya "ya" akankah kita tetap setia
>benarkah telah cukup jiwa tuk melindunginya?
jika jawabannya "sudah" akankah kita patah arang sebelum berusaha melindunginya
>benarkah ia ingin dilindungi?
jika jawabannya "tidak" akankah kita mengacuhkannya
>akankah ia menguatkan pelindungnya?
jika jawabannya "tidak" akankah kita menjauhinya
>akankah ia menggerogoti bentengnya?
jika jawabannya "ya" akankah kita tak ingin bertemu ia lagi
ini tergantung nurani, akan ke arah mana kita menatap
cahaya dan bayang-bayang tak pernah tepisahkan
11.47 | Labels: 1. Puisi, Pena Depiyh | 3 Comments
Mengumpatlah....
ini sebuah puisi...
bukan,
ini cerita...
hahahahaha....
bukan!
Tulisan tak bermakna?
Tentu saja bermakna buatku!!!
mengumpatlah,
ketika ada seseorang yang bilang ia begitu cinta pada "sesuatu"
apapun lah...
sadarilah satu hal,
ketika kata cinta itu terlontar,
ia juga seolah berjanji untuk melukainya
cinta itu,
mungkin makna sebenarnya memang tak bisa dimengerti
setahuku,
orang yang berkata cinta
semuanya adalah karena dasar egoismenya sendiri,
ingin memiliki,
ingin berlindung,
ingin menutupi kelemahannya,
menyusun tabir kokoh penjaganya
oh...berkorban demi cinta?
itu pun sama,
ada maksud dalam hati setiap orang saat ia berkorban untuk cintanya...
semua demi ego mereka
11.14 | Labels: 1. Puisi, Pena Depiyh | 1 Comments
- 1. Puisi (89)
- 12 rabiul awal (1)
- 2. Cerpen (61)
- 3. Artikel (30)
- 4. Pena Laboratory (4)
- 5. Resensi (7)
- 6. Download (2)
- Dzikir (1)
- Fiksi (2)
- Indonesia Bershalawat (5)
- lomba (2)
- muaulid (1)
- Muhammad (1)
- Novel (2)
- Pena Chiaki (1)
- Pena Choop (4)
- Pena Depiyh (15)
- PENA Kahlil Gibran (3)
- Pena Kun Geia (1)
- Pena Kun-Geia (153)
- Pena Langit Senja (7)
- Pena Lies (5)
- Pena Mei (7)
- Pena Sashca (5)
- PENA Tere-Liye (4)
- Rasulullah (1)
- The Lost Java (1)
Arsip
- November 2020 (4)
- Oktober 2020 (1)
- Agustus 2019 (2)
- Februari 2015 (1)
- Mei 2013 (1)
- Agustus 2012 (1)
- Juli 2012 (2)
- Juni 2012 (1)
- April 2012 (2)
- Desember 2010 (1)
- Agustus 2010 (2)
- Juli 2010 (7)
- Juni 2010 (1)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (2)
- Maret 2010 (5)
- Februari 2010 (6)
- Januari 2010 (1)
- Oktober 2009 (3)
- September 2009 (6)
- Agustus 2009 (16)
- Juli 2009 (15)
- Juni 2009 (8)
- Mei 2009 (7)
- April 2009 (26)
- Maret 2009 (15)
- Februari 2009 (34)
- Januari 2009 (22)
- Desember 2008 (1)
- November 2008 (6)
- Oktober 2008 (19)