"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"
Madrasah Pena Pelajaran 4
Ketemu lagi di madrasah pena, kini kita akan beranjak pada pelajaran 4, Insya Allah madrasah pena akan hadir setiap bulan satu kali di awal bulannya, maka jangan lewatkan blog penaripena disetiap awal bulan! Siapkan dulu pena dan kertas kosongmu!
Untuk membebaskanmu dari kekuasan hakim (sugesti) pribadimu, smbil selembar kertas kosong, selama tiga menit atau lebih tulislah setiap pikiran negatif yang muncul dibenakmu tentang menulis, tentang dirimu dan tentang hidupmu. Tulis sebanyak-banyaknya, jangan mencemaskan tata bahasa, ejaan, tanda baca atau akal sehat. Jika kamu macet, tuliskan saja “tak terpikir, tak terpikir, tak terpikir sampai kata-katanya muncul lagi dikertasmu.
Saat waktunya habis, sobeklah kertasnya hingga jadi serpihan kecil. Katakan kepada para hakimm “kalian sudah selesai, saya tidak perlu kalian lagi”. Menyobek semua pernyataan negatif tentang dirimu akan membantu menghapuskan seuara-suara kritis dari kepalamu.
Apa yang kamu lakuan dengan kertas yang sudah disobek? Lemparkan ketempat sampah, kubur, atau sebarkan dikamarmu bagaikan taburan kertas di pesta, kemudian tariklah napas panjang, bersantai, dan mulailah menulis lainnya.
06.44 | Labels: 4. Pena Laboratory, Pena Kun-Geia | 0 Comments
Pelajaran 3 Madrasah Pena
Ketemu lagi di madrasah pena, kini kita akan beranjak pada pelajaran 3, maaf madrasah pena terlalu lama bersembunyi di penaripena.
Adakah sesuatu yang menghalangi jalanmu menulis? Begini cara menemukannya:
1. buatlah daftar yang mencegahmu menuliskan keinginanmu, mencegahmu menulis dengan cara yang kamu inginkan, dan mencegahmu menulis pada saat kamu menginginkannya (misalnya, “tidak ada waktu” atau “saya terlalu sibuk”, atau “saya sedang malas sekarang”).
2. bayangkan alasan-alasan ini sebagai hewan-hewan yang menjengkelkan. Mahluk apa yang kamu lihat? Seekor kelinci putih yang selalu terlambat berlari? Seekor lebah yang selalu sibuk? Seekor kungkang yang bergelantung dipohon? Mengapa hewan-hewan ini bertingkah seperti itu? Hewan manakah yang paling mewakili penghambat kreativitasmu?
3. tanyakan pada diri sendiri bagaimana cara memelihara hewan-hewan ini dengan baik agar dia tidak lagi menghalangi jalanmu. Apa makanannya? Dimana tidurnya? Kamu bahkan bisa menggambarnya, mengguntingnya dan menyimpannya bersama dengan gagasan menulismu (membayangkannya sebagai “binatang kesayangan yang menjengkelkan”) setiap kamu mendapati diri memakai alasan lama yang sama, tarik keluar binatang kesayangamu dan cari tahu apa kebutuhannya, kemudian uruslah, maka kamu dapat menulis.
Hanya Sekedar Contoh:
Daftar pencegah keinginan menulisku:
1. Malas
2. Ga ada ide
3. Capek
4. tidak percaya diri
Alasan-alasan yang menghambat kelincahan tarian penaku dalam menulis itu aku ibaratkan sebagai ular Pithon dengan panjang enam meter.
Converted:
Binatang yang menghambat tarian penaku adalah seekor ular Pithon dengan panjang sampai enam meter, kereeen ya! Sekilas memang begitu, memililki ular Pithon sepanjang enam meter yang hanya datang mengganggu ketika dalam hati terbisik keinginan untuk mengangkat pena atau sekedar nemekan-nekan tombol di atas keyboard. Memang dia tidak pernah menggigitku, tidak pernah melilitku apalagi hingga menelanku, tapi ketika aku mengangkat pena dan dalam hatiku berbisik ucapan “Duh… males nulis euy!” seketika itu juga siPithon langsung melahap penaku pun kertasku juga, setelah menelannya dia tersenyum padaku dan menjilat pipiku dengan lidahnya yang terjulur keluar.
Ketika aku akan menekan tombol-tombol keyboard dan dalam pikiranku terlahir sugesti “Aku tak punya ide neeh…” seketika itu juga si Pithon membelit laptopku dengan tubuh panjang berotot kuatnya hingga laptopku remuk takberbentuk.
Ketika aku mengucapkan capek sebelum atau sedang menulis, maka seketika itu siPithon pasti ngiler diatas kertasku hingga kertas itu menjadi tak berguna karena rusak tercuci ilernya.
Ketika aku merasa “Tulisanku kok gini-gini amat, jijik, jelek, ga mutu, de el el…” maka seketika itujuga si Pithon menggigit karya penaku dan membawanya pergi tanpa permisi, dan dia kembali dengan wajah yang begitu berseri.
Sebenarnya apa yang kau inginkan wahai Pithonku? Adalah ku ini sahabat ataukah musuhku? Atau mungkin musuh yang harus kujadikan sahabat? Atau kau ini sahabat yang harus aku musuhi? Ah… daripada pusing-pusing nyari jawabannya pada siPithon yang tak kumengerti bahasanya mendingan rasa malas itu kupoles menjadi semangat, ngerasa ga da ide kurubah menjadi optimisme, capek kukesampingkan, kaggak pede kukebumikan, hasilnya…?
Ternyata sekarang baru kusadari ternyata siPithon itu indah juga jika diperlakukan dengan semestinya, tihatlah… sisiknya mengkilap terang, taringnya putih bersih dan ilernya ternyata juga harum, setiap kali aku menarikan penaku tanpa empat masalah yang sering menghambat, siPithon selalu tersenyum menemani disampingku hingga tarian satu penaku mewujug berjuta karya. I luv u Pithonku!
Purwokerto 10 03 09 07 28.
10.10 | Labels: 4. Pena Laboratory, Pena Kun-Geia | 0 Comments
MADRASAH PENA Pelajaran 2
Ketemu lagi di madrasah pena, kini kita akan beranjak pada pelajaran 2.
Satu cara untuk melahirkan kreativitas adalah dengan menulis bebas yang mengharuskanmu duduk selama waktu tertentu (biasanya sepuluh menit) dan menulis tanpa henti. Kamu dapat menulis apa saja yang ada dibenakmu, mimpi semalam, atau apapun yang menurutmu memang ingin kamu tulis, intinya adalah menggerakkan roda.
Duduk dan mulailah menulis apasaja yang merayap turun dilenganmu, melalui ujung jari-jemarimu, ke halaman kertas. Jangan berhenti, paling tidak selama sepuluh menit. Terus gerakkan tanganmu walaupun kamu tidak dapat memikirkan apapun untuk ditulis kecuali ”mengapa saya menulis ini?” atau “tidak terpikir, tidak terpikir, tidak terpikir” berulang-ulang.
Contoh:
Seperti kebanyakan orang yang telah lama menimba ilmunya di dalam sebuah miniatur negara bernama kampus, hari ini akupun demikian, dihadapan para pengajar dan birokrasi kampus yang selama lima tahun tiga bulan kudiami dengan sabar, aku diberikan sebuah terusan dari nama belakangku, mereka menyebutnya sarjana sains.
Buah dari penantian panjang itu akhirnya terakhiri jua, namun benarkah semua telah berakhir, benarkah pena sudah kering untuk ditulisakan sedang kertas-kertas sudah habis digulungkan dan gairah menuntut ilmu telah menguap? Tidak… ketika semua orang yang ada disana tertawa bahagia atas terusan nama di belakang mereka, tidak halnya denganku, sejenak memang terusan nama itu terdengar gagah dan membanggakan, namun lihatlah apa yang sebenarnya disandingkan pada pundak setelah terusan itu menguntit namamu? Ketika acara pelantikan itu… hatiku benar-benar dibuat bergetar, bulu romaku berdiri dan air mata berlinang menggenang hingga hendak melonjak dari sudut mata, tahu kenapa? Bukan karena ku terlalu bahagia, bukan karena ku terlalu… ah… apalah itu yang jelas aku sungguh ngeri mendengar ucapan dari ketua sidang yudisium sarjana strata satu ketika itu:
“dengan ini maka saya resmikan saudara menjadi sarjana sains strata satu dengan berbagai hak dan kewajiban yang melekat didalamnya”
Itulah…. Kalimat itulah yang membuat sekujur tubuhku bergetar dan senyum seolah terenggut dari air mukaku, pada kalimat terakhirlah hal itu terjadi, bersama dengan melekatnya hak dan kewajiban didalamnya, kewajiban yang mana… apa yang harus aku lakukan selanjutnya… apa sangsinya jika aku mangkir, kepada siapa pertanggungjawaban kewajiban itu… atas dasar apa aku diberikan kewajiban, untuk siapa hasil kewajiban itu, dan terus… dan terus… terus… terus… hingga batin ini berteriak keras di lubuk hatinya yang terdalam atas nama kengerian kewajiban yang dilekatkan dibelakang namaku sebagai sarjana sains…
Ah… aku tak patut mencemaskan terlebih menakutkan apa yang masih gaib dari pandang dan rasaku, sejenak akupun terpekur dalam renung, kini gerbang dunia sesungguhnya mulai dibukakan, dunia yang sudah menunggu karya-karyaku, dunia yang merindukan tangan-tangan kebaikan bagi seluruh umat, ah… aku datang wahai dunia… aku telah siap dengan berjuta wahai dunia… dan akupun tak tahu lagi bagaimana mengungkapkan apa yang aku alami hari ini dalam yudisium sarjana strata satu kimia MIPA Universitas Jenderal Soedirman.
Selamat berjuang wahai S.Si. buat dunia bangga dan langit tertawa dalam kekagumannya pada karya-karyamu.
Purwokerto 19 november 2008
20.00
21.01 | Labels: 4. Pena Laboratory, Pena Kun-Geia | 0 Comments
MADRASAH PENA Pelajaran 1
“Mulai Belajar Nulis Yuk!...”
Untuk memulainya, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Tidak ada jawaban yang benar disini. Bayangkan saja setiap pertanyaan sebagai pintu masuk yang harus dilalui dan diperiksa apa yang ada dibaliknya. Kejutan apa yang kamu temukan?
1. Mengapa kamu ingin menulis?
2. Apakan kamu menganggap dirimu penulis? Mengapa ya? Mengapa tidak?
3. Mengapa menulis itu penting?
4. Manfaat apa yang kamu dapat dan kamu harapkan dari menulis?
5. Apa yang kamu dapatkan dari menulis? Apa yang telah dilakukannya untukmu?
6. Apa yang paling ingin kamu tulis? Mengapa?
Contoh:
Aku ingin menulis tidak lain karena hatiku berbisik seperti itu di belahan relungnya yang paling halus, akhirnya bisikan itu mulai dihantarkan impuls saraf dan kemudian diproses oleh jutaan prosesor canggih yang ditanamkan Tuhan di dalam otakku hingga menghasilkan ide dan kreativitas yang berlimpah untuk berkarya dalam indahnya tarian pena. Terkadang aku menganggap diriku bukanlah penulis, dan ketika rasa seperti itu menjangkitiku, maka ide dan kreativitasku dipastikan akan mandul, namun ketikaku mengganggap diri ini seorang penulis, ide dan kreativitas itu begitu akrab memelukku hangat di setiap kertas yang tergutrat, sehingga akupun memutuskan untuk menganggap diri ini seorang penulis. Setujukah jikaku mengatakan bahwa menulis itu penting? Terlepas dari apapun jawabanmu, yang jelas ketika penaku tidak menarikan diri dalam satu hari, maka ide dan kreativitasku tidak mendapatkan suplai makanan yang dibutuhkannya untuk hidup, ide dan kreativitasku akan kelaparan, lama-kelamaan terkena busung lapar bahkan bisa-bisa mati kelaparan dan itu tentu saja tidak boleh dibiarkana, jadi menulis bagiku bukanlah suatu pekerjaan, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Sejak membiasakan diri mengikuti kata hati untuk menulis, kku menemukan sesosok yang menakjubkan dalam diri yang baru ku sadari setelah terbiasa menulis, sosok itu terus menghembuskan napas semangat, napas keceriaan, napas optimism dan tentunya napas tuk lebih mendekatkan hati pada Illahi, harapanku hal ini bisa terus berlanjut dan merangkak kualitasnya kearah lebih baik. Telah banyak yang ku dapatkan dari menulis, baik materi maupun hal lain yang berbau duniawi, namun satu hal yang itu semua tidak bisa dibeli dan hanya bias kutemukan dengan menulis, yaitu KEPUASAN BATIN. Tahu tidak apa yang sering tulisanku lakukan padaku? Ia sering menjewer kupingku, ia sering membentakku, ia sering memarahiku, ia sering mencubitku, ia sering menamparku, ia sering menyindirku, tapi itu semua ia lakukan karena ia sayang padaku, karena ia ingin aku terus melakukan perubahan untuk kebaikan yang hakiki kelak. Yang paling ingin aku tulis adalah novel-novel, cerpen dan puisi yang bisa meresap ke palung hati, hingga terucapkan oleh lisan dan akhirnya tergerakkan oleh anggota badan diriku dan oranglain pada umumnya untuk mencintai sang Nabi SAW, kenapa ku menginginkan hal itu?... karena kucinta dia, karena kumerindukannya SAW.
By: G ree N
(Bersambung)
ATURAN PAKAI:
Latihan menulis dilakukan hanya satu kali dalam sehari, jangan melebihi dosis yang telah dianjurkan, membaca artikel ini tanpa mempraktekkannya adalah sebuah indikasi manfaat yang anda dapatkan tidak lebih dari 10%. jika ada keluhan lebih lanjut, hubungi dokter PENA di murid_penantian@yahoo.com.
Silahkan mengutip atau mengcopy tulisan ini dengan syarat mencantumkan penaripena.blogspot.com, SEMOGA BAROKAH!
07.35 | Labels: 4. Pena Laboratory, Pena Kun-Geia | 0 Comments
- 1. Puisi (89)
- 12 rabiul awal (1)
- 2. Cerpen (61)
- 3. Artikel (30)
- 4. Pena Laboratory (4)
- 5. Resensi (7)
- 6. Download (2)
- Dzikir (1)
- Fiksi (2)
- Indonesia Bershalawat (5)
- lomba (2)
- muaulid (1)
- Muhammad (1)
- Novel (2)
- Pena Chiaki (1)
- Pena Choop (4)
- Pena Depiyh (15)
- PENA Kahlil Gibran (3)
- Pena Kun Geia (1)
- Pena Kun-Geia (153)
- Pena Langit Senja (7)
- Pena Lies (5)
- Pena Mei (7)
- Pena Sashca (5)
- PENA Tere-Liye (4)
- Rasulullah (1)
- The Lost Java (1)
Arsip
- November 2020 (4)
- Oktober 2020 (1)
- Agustus 2019 (2)
- Februari 2015 (1)
- Mei 2013 (1)
- Agustus 2012 (1)
- Juli 2012 (2)
- Juni 2012 (1)
- April 2012 (2)
- Desember 2010 (1)
- Agustus 2010 (2)
- Juli 2010 (7)
- Juni 2010 (1)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (2)
- Maret 2010 (5)
- Februari 2010 (6)
- Januari 2010 (1)
- Oktober 2009 (3)
- September 2009 (6)
- Agustus 2009 (16)
- Juli 2009 (15)
- Juni 2009 (8)
- Mei 2009 (7)
- April 2009 (26)
- Maret 2009 (15)
- Februari 2009 (34)
- Januari 2009 (22)
- Desember 2008 (1)
- November 2008 (6)
- Oktober 2008 (19)