"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"

Penaku Menari

Aku ingin menulis karena kuingin penaku terus menari. Walaupun rasa malas menghantui, tapi aku ingin setiap ide yang hadir tetap tersalurkan lewat tarian penaku ini. Namun, ketika pena akan menari, entah kenapa pena itu tak gemulai lagi dalam menarikan tarian-tariannya. Apakah pena itu marah karena lama kusimpan?

Aku bukan penulis karena tulisan-tulisanku masih kunikmati sendiri dan masih terkesan egois. Tapi aku akan terus berusaha menghilangkan keegoisan tulisanku, hingga kenikmatan tulisanku dapat dinikmati oleh semua penikmat tulisan.

Tulisan itu penting dan penciptaannya yang disebut menulis pun penting. Hidup bukan hanya bicara dengan lisan, tapi bisa juga dengan tulisan. Aku termasuk orang yang susah merangkai kata dengan lisanku, dan kugunakan tulisanku sebagai wakil lisan yang terkadang beku ketika ia harus menyampaikan pesan memoriku.

Berbagai manfaat pun kudapat dari menulis. Dengan menulis, aku mampu tertawa, tersenyum, senang, sedih, bangga, kecewa, dan menangis. Berbagai rasa mampu dirasakan melalui tulisan. Tulisan mampu mencatat sejarah kehidupanku. Harapanku dari menulis, aku ingin tulisan-tulisanku mampu menghipnotis pikiran penikmat tulisanku agar mereka juga tergugah untuk menulis. Aku tak ingin tulisanku termakan oleh waktu karena aku masih ingin menikmatinya dengan segenap rasaku.

Tulisan-tulisan itu telah mengajakku untuk selalu bersamanya. Menyimpan ide-ide dan kreativitasku dalam tubuhnya, dan mengukir sejarah hidupku melalui langkahnya. Aku ingin menulis cerita-cerita yang hadir dalam kehidupanku, dan kuingin mengukirnya agar tetap teringat sepanjang masa.

Read More...

jawaban. . .

Tolong jangan pernah mempertanyakan mengapa aku ingin menulis. Karena sejujurnya aku sendiripun tidak pernah mengerti kenapa aku harus menulis. Jawaban pamungkasku untuk menghadapi pertanyaan demikian adalah “panggilan hati”. Tapi aku bahkan tidak pernah bisa tahu dan memprediksi kapan dan mengapa panggilan itu datang. Apalagi kamu. Kamu tidak mungkin memahami kenapa aku menulis dan mendiamkan tulisan-tulisan itu bukan? Yang pasti sekarang aku ingin menumbuhkan agar panggilan-panggilan hati itu selalu kontinyu menggema di rongga hati sampai akhirnya segenap jiwa raga ini ingin terus menulis dan menikmati proses menulis.

Aku sama sekali tidak mempunyai pendirian tentang eksistensiku sebagai seorang penulis. Aku akan merasa seperti penulis yang sedang dikejar target untuk menyelesaikan tulisan dalam waktu singkat ketika hati ini sedang “terpanggil”. Itu tidak sehat, bukan? Tetapi ketika penggilan-panggilan itu lenyap, aku bahkan tidak ingin sama sekali mengenal tulisan.

Tapi bagiku, tetap, menulis itu sepenting kita menjaga kelestarian alam kita untuk generasi penerus. Atau bahkan mungkin, sepenting seorang gadis untuk menjaga keperawanan mereka. Karena dengan menulis, kehidupan kita akan diakui dimasa depan. Dan suatu saat kita akan seperti dihidupkan kembali oleh tulisan-tulisan kita. Artinya, menulis sekarang bukan hanya untuk dinikmati sekarang. Tetapi juga untuk dinikmati oleh jaman setelah kita.

Menulis sama sekali tidak memberikan kebahagiaan. Aku bahkan hanya mendapat kritikan atau (maaf) hujatan-hujatan yang aku rasa itu sama sekali tidak perlu. Aku malu ketika tulisanku sama sekali belum memberikan apa-apa untukku. Karena bagiku, tulisanku adalah aku. Itu berarti aku belum memberikan apa-apa kepada diriku sendiri. Sedangkan orang lain bahkan sudah lebih dulu mengumpati tulisanku. Orang lain lebih dulu memberikan perhatian untukku, untuk tulisanku. Sungguh aku malu…

Tapi percayalah, suatu saat kalian akan mendengar kabar bahwa temanmu ini telah berhasil menjadi penulis cerita yang baik. Cerita tentang kehidupan nyata, tentang imajinasi dan tentang mimpi. Siapa yang ingin menjadi actor dalam ceritaku nanti??? Silakan beri kabar aku dari sekarang. Karena nanti, bintang-bintang hollywod akan berdesak-desakan mengantri untuk menjadi pemeran utama dalam ceritaku.

Read More...

Permulaan Sang Pemula

Aku ingin menulis karena diri ini terpedaya akan semarak berita kehidupan yang kian menggelitik kedua daun telingaku, yang kemudian berlanjut getar qalbuku yang bersymphoni dengan lentik jemariku hingga tergurat curahan tutur hati beruraikan pesan hidup yang harapku , kan dapat memberi kesan.
Sampai saat ini, kini bukan sebagai penulis kutulis tulisan ini , asaku kelak ketika kutulis kembali ini telah tampak bedanya sebab kuanggap penulis itu, jika dalam peradaban ini mendominasi karya-karya hunianku yang dapat menyampaikan risalah maknawi bagi khalayak umum,yang tertilik dari kacamata amatiran ini.
Entah...keabsolutan nilai “penting” itu terletak pada aspek yang mana. Namun yang terjamah di pusat syarafku, berdalih “menulis itu penting” sebab ruhku dapat menabur panji-panji perdamaian, meneduhkan sukma yang berkecamuk dilema, merubah buih-buih lara menjadi bahagia.
Berawal dari miskinnya wawasan akan menulis. Ku jumpai permulaan yang tak terlalu berkesan namun tetap ku lalui, sampai ku tersentak sadar “inilah yang kucari”.Diri ini kian mampu memapah ruang imajinatifku yang kian terolah sedemikian sehingga berguna, dan hujatan suara kalbu terlontar kian terarah hingga berarti.
Angan hanya angan, Mengapa hanya angan? Kenapa angan ? Ada apa dengan angan ? bertanya kembali dan menjawab sendiri.ketika ku menulis harapku, dapat mematik ruang sadar insan disekitarku tuk meluapkan problematikannya menjadi suatu rupa berkias hikmah berupa mahakarya dan mengalihkan gejolak gemuruh jiwa insan diri ini menjadi kian terpacu melalui mayapada yang tiada henti membuka tabirnya.
Suatu kata yang ringan terdengar “menulis” tetapi berat dampak yang terasa, ia menjerumuskan kecintaanku dalam bermain bersama “kata” hingga yang lemah daya ini. kini, berani mendobrak cakrawala kepenulisan yang ku mulai dari decakan tak beraturan menjadi harmonisasi lantunan nada kata yang menyejukkan jiwa ini.
Sisi hidup ini mebungkus rahasia, sejenak seraya ku pejamkan mata ingin sekali diri ini dapat menulis puisi dan cerpen mengungkapakan segala akan kemegahan , keagungan persinggahan-Nya ini yang disediakan untuk kita walau ku sadar , ku tak mampu menjangkaunya dengan kata-kata karena teramat dasyhat pencipataan-Nya.Namun, kan tetap ku lakukan dengan keterbatasan, agar senantiasa melewati tulisan itu menjadi pengingat akan ketidakabadian yang tampak nyata di depan.

By AMI

Read More...

menulis by sascha

Menulis, menulis, menulis dan menulis itu yang ada dipikiran saya saat ini. Mengapa menulis, menulis, menulis dan menulis, saya juga kurang memiliki alasan yang kuat akan hal itu dan saya hanya bisa bilang “saya menulis karena memang saya menginginkannya” hanya itu sebuah alasan yang sungguh singkat dan spele, tapi saya adalah sosok seseorang yang mencoba untuk menjadikan sesuatu yang spele itu menjadi sesuatu yang dahsyat. Menulis karena memang saya menginginkannya, terkadang hal tersebut membatasi saya dan membuat saya agak males untuk menulis hal ini dikarenakan saya sedang tidak ingin menulis dan itu menghambat saya benar-benar menghambat. Akan tetapi jika melakukan penulisan dengan unsur pemaksaan yang akan terjadi adalah tidak akan ada rasa kepuasan.
Dengan menulis sesering mungkin, saya sudah cukup menganggap diri saya sebagai salah satu seorang penulis yang memilki karya dan ini bukanlah sebuah bualan belaka, karena ada satu folder tersendiri yang sengaja saya buat khusus untuk menaruh dan mengumpulakan berbagai tuisan-tulisan saya sendiri dan pastinya didalam cerita-cerita saya tersebut sebelumnya sudah saya ukir pada secarik kertas yang ada didalam ingatan saya yang kemudian saya saring didalam pikiran dan mengolahnya menjadi beberapa cerpen-cerpen yang diantaranya kini menyinggahi folder-folder laptop saya.
Menulis itu buat saya memiliki arti yang penting, karena dengan menulis saya bisa mengalihkan kesdihan, walaupun sifatnya hanya sementara akan tetapi dengan begitu saya akan mengerti tentang apa saja yang pernah saya lakukan, yang sering saya kerjakan dan membuat sesuatunya menjadi sebuah cerita yang layak untuk konsumsi diri sendiri, karena saya yakin apabila saya sendiri tidak dapat menikmatinya, pasti tidak akan ada orang yang juga dapat menikmatinya, karena saya tidak hanya sebagai seorang penulis melainkan juga sosok seseorang yang senang menikmati banyak karya tulisan-tulisan milik beberapa penulis lainnya dan berusaha untuk menikmatinya. Jika seorang penulis tidak dapat menikmati karyanya sendiri bagaimana orang lain yang akan membeli karya-karyanya, dapat dipastikan mereka pun tidak akan menikmatinya, jadi menulis pun harus dengan hati dan penuh kenikmatan sehingga setiap orang yang membacanya akan menikmatinya.
Menulis, menulis, menulis dan menulis. Lagi-lagi kalimat itu yang terucap olehku, memang terkadang banyak sekali hal-hal yang aneh muncul ketika kita melakukan sebuah penulisan. Menulis bagiku sangat membuahkan hasil, yah walaupun, memang tidak terlihat secara real seluruhnya, Ketenangan, kepuasan batin akan saya dapatkan ketika saya menulis dan saya berharap dengan tulisan-tulisan saya tersebut orang lainpun bisa merasakan hal yang sama dengan membacanya, dan tulisan-tulisan itu membuat saya sungguh sangat tenang. Walaupun, pada saat menulis terkadang keegoisan saya tercurahkan mungkin sangat bercucuran banyak ambisi yang tersirat pada setiap tulisan-tulisan saya.
Terkadang di dalam perjalanan menempuh kesuksesan setiap manusia akan mengalami jatuh bangun, begitu pula saat kita belum juga meraih kesuksesan itu. Saat ini saya masih saja terus belajar untuk bisa meraih kesuksesan, entah itu kesuksesan dalam segi cinta ataupun cita oleh karena itu saya ingin sekali berbagi terhadap semua orang tentang apa saja yang ada pada diri saya sendiri tentang kesuksesannya tentang keterpurukkannya sebagai sebuah pelajaran penting untuk semua orang dan menjadikannya sebuah buku yang dahsyat sebuah karya seorang sascha, mungkin saat ini jarang ada yang mengenal siapa sosok itu, tapi suatu saat nanti Insya Allah semua impianku akan tulisan-tulisan ini akan menjadi real.



By : Sascha

Read More...

Mengasah Pena yang Berkarat

_Bayangkan seandainya manusia lahir tanpa hasrat, sangat mengerikan, dari hal kecil, kita takkan memikirkan soal makanan karena sekalipun kita lapar, kita tak berhasrat untuk menyentuh makanan, bahkan kenal yang namanya makanan saja, mungkin tidak. Kalo tanya sama para koki, mengenai apa yang jadi dasar hingga mereka memutuskan menyandang predikat sebagai juru masak, jawabannya akan beragam, ada yang karena orang tua, ada yang karena tak ada profesi lain yang bisa digeluti dan lain-lain. Ada sebagian koki yang memutuskan menjadi koki karena bagi mereka memasak adalah hidup, memasak adalah seni, memasak adalah kesenangan. Titik. Begitu pula halnya saya. Mengapa menulis, apa tak ada pekerjaan lain? Apa tak jenuh? Jawabannya, karena kadang tindakan atas dasar dorongan jiwa tak butuh alasan dan tak menjenuhkan. Hasrat, tak perlu alasan.
_Saya manusia, saya berpikir, dan saya hidup, paling tidak itu standar eksistensi manusia. Buat saya, itu tak cukup, untuk hidup seseorang butuh kenangan, dan kenangan adalah hasil olahan dari hasrat. Sesuatu yang dijalankan karena hasrat selalu lebih mudah dikenang karena ia berkesan. Dan yang berkesan, yang diingat, adalah sebuah tulisan, sekalipun hanya bisa dibaca sendiri, itulah karya. Semuanya memang tidak berbentuk coretan tinta, hanya berbentuk buah pikiran, sekali lagi, itu tetaplah karya. Hanya dengan melihat, manusia sudah menulis -menulis dalam pikirannya tentu saja-, tapi mekanisme penulisan itu sendiri, sulit dijelaskan. Menulis, kenyataannya adalah perlambatan kerja otak yang dimulai dari melihat kemudian mengabadikannya dengan rangkaian abjad sesuai kemampuan dan kemauan si penulis.
_Sederhananya, menulis adalah membuat ingatan, kenangan, yah…itu lah. Bagaimana cara menyembuhkan hilang ingatan? Adalah dengan mempertemukannya dengan kenangan-kenangannya, bagaimana cara mencari barang yang hilang? Tentu dengan mengingat kapan dan dimana terakhir kali benda itu diletakkan, mengingat adalah mekanisme dasar manusia dan bahkan orang idiot saja punya ingatan. Ingatan yang dituang dalam tulisan yang nyata jadi bukti eksistensi manusia. Memang tak semua cerita bisa dibukukan, tapi tokoh cerita tak harus riil sekalipun cerita itu riil kan? Tulisan adalah sesuatu yang tak tergantikan, ia lebih bisa menggambarkan sebuah proses dengan detil ketimbang sekadar potret maupun lukisan, dan pandang sisi sentimentilnya, tulisan lebih bisa jujur mengungkap rahasia hati si penulis pada si pembaca.
_Kejujuran adalah kebutuhan primer para penulis. Kejujuran membuat para penulis jadi punya pikiran yang logis untuk tulisannya karena ia tak hanya melibatkan perasaannya semata tapi juga memikirkan reaksi pembaca. Pembaca akan lebih mudah membaca segala sesuatu yang ‘realistis’ daripada tulisan yang samar dan memiliki banyak ‘kebetulan’ didalamnya. Cerita misteri, fantasi, maupun segala sesuatu yang tak nyata juga tak boleh melibatkan terlalu banyak ‘kebetulan’ karena ‘kebetulan’ itu menjenuhkan dan membuat pembaca jenuh adalah dosa besar buat para penulis. Saya sendiri masih belum bisa melepas keinginan mendasar saya untuk membuat sebuah ‘kebetulan’ di tiap cerita yang saya tulis. Menyedihkan sekali tiap kali tulisan saya membuat para pembaca bosan, tapi biarkanlah pena saya menari mengantarkan kebosanan pada anda semua hingga suatu saat anda menyadari bahwa tulisan saya telah menjadi karya yang hebat.
Seringkali manusia terlarut dengan kesulitan hidupnya hingga jadilah berlembar-lmbar tulisan atau bahkan mahakarya yang disenangi semua orang. Memang observasi termudah adalah observasi diri sendiri, tapi cobalah untuk tak selalu mengikuti arus, jika terlalu lama memandang dengan mata sendiri, apa tak bosan? Lagipula sudah banyak cerita tentang “saya adalah bla bla bla” sejak SD semua orang mempelajari cara bercerita seperti itu dan terus terang, saya bosan, saya lebih ingin bercerita tentang “mereka adalah”, “begini kisah-nya”, “ah, bahkan gunung dan lembah tertawa padanya”, mengapa? Karena saya tak sendirian, dan saya tak ingin merasa sedirian, dengan mendengar dan menceritakan mereka, saya bisa merasakan betapa hiruk pikuknya kehidupan, dan betapa beruntungnya saya terlahir bersama mereka semua.

Read More...

terluka dan terobati

benci, kecewa, marah dan terluka... mendengar sebuah kabar yang amat kunantikan tetapi tak ku inginkan. kabar itu datang bersama badai yang amat menghancurkan hatiku. haruskah aku terpuruk lagi untuk kesekian kalinya???? mengapa harus aku yang dia hancurkan????
dia datang dan pergi sesuka hatinya tanpa pedulikan perasaanku. mengertikah dia kalau aku terluka dengan semua yang dia lakukan padaku???? mengertikah dia betapa aku amat mengharapkan kehadiran nya didalam kesendirianku???
aku memang tak berhak memaksanya kembali kesisiku karena aku bukan siapa - siapa. dimatanya dan orang tuanya aku hanyalah seorang perempuan bodoh yang tak pantas berdampingan dengannya. memangnya siapa yang berhak menentukan pantas dan tak pantas? bukankah diamata Allah semua manusia sama derajatnya?
aku ingin kembali bersama dia, aku ingin menjadi pantas untuknya, aku ingin diterima oleh keluarganya, aku ingin...aku ingin... tapi itu dulu...
kini aku mengerti dan bisa menerima, karena seseorang telah membangunkan aku dari lamunan panjang tentang nya. aku mengerti kalau mencintai bukan berarti memiliki. mengerti kalau Allah pasti punya rencana indah untuk ku. yah, memang hanya Allah yang pasti mencintai umat-Nya tanpa pernah meninggalkannya.
kini aku dapat dengan tegas mengatakan 'selamat tinggal' pada bayangnya, dan aku ikhlaskan hatiku untk menunggu seseorang yang dikirimkan Allah untuk ku.
ya Allah... aku serahkan semua rencana hidup dan matiku pada kuasa-Mu...

Read More...

24 jam

24 jam menuju lembar baru di usia baru.
tangan sudah memaksa untuk mulai bercerita.
otak berteriak ingin segera bergerak.
hati tersenyum menatap lembaran yang telah lama tersimpan.
24 jam menuju lembar baru di usia baru.

Read More...

Jogja Java Carnival 2009


LATAR BELAKANG:
Keberadaan Kota Yogyakarta tidak dapat lepas dari keberadaan Kasultanan Yogyakarta yang secara de yure telah ada sejak tahun 1755 (ditandai dengan terjadinya Perjanjian Giyanti). Meskipun keberadaan Kasultanan Yogyakarta telah ada pada tahun 1755, namun keberadaan Yogyakarta sebagai sebuah kota belum terjadi pada saat yang sama.

Penanda keberadaan Yogyakarta sebagai sebuah kota terjadi pada bulan Oktober 1756, ketika terjadi perpindahan keluarga Sri Sultan Hamengku Buwana I dari Pesanggrahan Ambar Ketawang menuju ke istana yang baru, yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Peristiwa ini menjadi sebuah momentum bersejarah, yaitu kelahiran kota Yogyakarta baik secara fisik maupun sosiologis yang kemudian berkembang, menjadi salah satu kawasan budaya dan kawasan pendidikan.

Dalam perkembangannya, fungsi sebagai kawasan budaya dan pendidikan ini mempunyai dampak pada sektor kependudukan, dengan banyaknya masyarakat dari luar Yogyakarta yang tinggal untuk kepentingan pendidikan di kawasan Yogyakarta.

Dampak lain adalah menjadi potensialnya wilayah Yogyakarta sebagai kawasan pariwisata.

Perpindahan dari Ambarketawang ke Keraton ini sangat monumental, karena secara kasat mata merupakan barisan arak-arakan, lengkap dengan atribut dan ubarampenya.

Sejak tahun 2004, Pemerintah Kota telah menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari ulang tahun Kota Yogyakarta dimana tanggal itu merupakan momentum perpindahan Sultan Yogyakarta ke istana barunya. Penetapan ini melalui Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2004.

Dalam proses perjalanannya, kirab budaya ini dicoba dikembangkan, agar mempunyai dampak positif bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta, pada wilayah kegiatan seni, edukasi, ekonomi, pariwisata dan budaya.

Untuk itu, pemerintah kota merancang sebuah kegiatan yang selaras dengan zaman, tanpa kehilangan benang merah tradisinya.

Kota Yogyakarta sebagai kota wisata yang cukup dikenal di Indonesia dan dunia internasional memiliki beragam potensi yang belum dioptimalkan. Dasar pengembangan pariwisata berbasis budaya yang sudah diluncurkan pada tahun 2008 senantiasa diupayakan untuk selalu ditingkatkan. Tematik pembangunan Kota Yogyakarta pada tahun 2009 adalah, kota pendidikan yang berkualitas.

Berpijak dari dua hal tersebut di atas dengan keanekaragaman budaya yang ada, serta kegiatan kesenian reguler yang sudah mulai di gelar oleh Pemerintah Kota Yogyakarta; merupakan daya tarik bagi Kota Yogyakarta yang dapat mendatangkan dan meningkatkan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara (‘Tontonan menjadi Tuntunan’), Sehingga menjadikan Kota Yogyakarta hidup sepanjang hari dan sepanjang tahun.

RANGKAIAN KEGIATAN
Tema Keseluruhan Kegiatan “ Dahulu – Sekarang – Yang Akan Datang“
Materi :
1.Pawai Budaya
oPawai AlegorisPawai Adeging Kutho Ngayokarto Hadiningrat, akan diikuti oleh 20 kelompok Seni yang ditunjuk oleh panitia, dengan Rute dari Ambar Ketawang / Kali Bayem sampai Alun – alun utara yang akan masuk melalui depan Kantor Pos.
oPawai Devile dan KeprajuritanBersamaan dengan pawai Alegoris peserta pawai Devile yang akan diikuti 20 kelompok dari intansi, sekolah, IKPM, kelompok kegiatan, lembaga, ABRI dsb. Dengan rute Balai Kota sampai Alun – alun yang akan melalui depan Kantor Pos.
oPawai Budaya akan dimulai pukul 14.00 sampai 17.30 WIB dengan melibatkan 40 kelompok untuk 2 rute
oPeserta pawai akan melakukan display di titik – titik yang sudah ditentukan oleh panitia.

2.Pentas Potensi 45 Kalurahan
oPentas Potensi 45 Kalurahan akan dimulai tanggal 8 – 16 oktober 2009 ( 9 hari ).
oPanggung akan didirikan di 14 Kecamatan atau 9 titik penting ( strategis ) dengan pola dasar pemilihan tempat, materi berdasarkan potensi kelurahan melalui seleksi sehingga menghasilkan bentuk sajian yang berkualitas. Panggung akan didirikan di titik- titik penting pada setiap kecamatan dengan panggung utama di Pagelaran Kraton Yogyakarta.

3.Jogja Java Carnival
oJogja Java Carnival akan menampilkan kelompok – kelompok seni dalam kemasan tarian jalanan dan arak-arakan kereta / mobil hias dengan pemain /peraga / penari diatas mobil maupun penari jalan kaki, berdasarkan tema masing-masing yang akan menempuh Rute dari Abu Bakar Ali – Malioboro – Alun – alun Utara .
oPeserta terdiri dari : 1 dari luar negeri , 1 Kelompok Mahasiswa Asing ,3 dari daerah / Propinsi lain dan 15 kelompok dari DIY
oProsesi diawali Leong yang berperan sebagai pembuka jalan diikuti prajurit bergada sebagai Cucuk Lampah ( pengawal ) Raja dan Permaisuri diatas kereta yang dikemas dalam bentuk mobile stage diiringi dengan musik dan diikuti oleh kelompok penari Lawung. Peserta Carnival yang lain akan mengikuti di belakangnya.
oDi depan Pagelaran didirikan Panggung kehormatan bagi tamu undangan yang akan dipentaskan beberapa materi kesenian sebelum peserta carnival sampai di Alun – alun. Adapun materi tersebut adalah : Band Jikustik; Garapan tari masal; Tari Modern dan Liong .

sumber: www.jogjajavacarnival.com

Read More...

Kado Kecil Untuk (Calon) Mempelai Wanita

Wahai cucu kesayangan Hawa! Aku tahu engkau merindu, aku bisa merasa apa yang engkau rasa, dan memang tidaklah ringan untuk belajar menahan gejolak hati yang tak henti genit menggoda mesra, tapi tahukah bahwa menunggu adakalanya terasa begitu mengasyikan? dan rindu yang terpelihara, itulah pertanda bahwa engkau jatuh pada cinta yang suci terjaga!

Ujung cerita penantian ini memang belum dibukakan secara keseluruhan, sebab Dia masih asyik berpuisi dalam diam-Nya, oleh karena itu janganlah berhenti merangkai pinta dalam alunan orkestra doa-doa, karena penantian ini pasti akan segera bertemu akhirnya ketika sulaman rapi kesabaran kita sudah diizinkan menemui ujung benangnya.

Wahai pengagum Khodijah, Aisyah dan Fatimah, bagaimana nanti engkau akan bisa mendampingi perjuanganku andai saat ini kesabaranmu kalah oleh denting waktu, bagaimana engkau bisa kuat menopang pundakku jika saat ini jiwamu melemah hanya karena belum kunjung datangnya waktu pertemuan yang mempersatukan, maka kuatkanlah dirimu dan Tersenyumkah! insya Allah ikrar untuk janji yang kuat itu takkan lama kusimpan untuk terucapkan.

Dan hari ini… dengarlah! dengarlah! Putik-putik kembang merdu berdendang, lihatlah! lihatlah! Kaki-kaki angsa indah berdansa, mereka semua kuminta datang menghadapmu untuk mempersembahkan salamku atas kedatangan usiamu yang menapak di dua puluh kali revolusi bumi.


Yogyakarta, 10 10 09
(10/10/09 telah menggenapkan usia nafasmu menjadi 240 bulan, selamat berulang hari kelahiran! dan 10/10/10 sudah semakin mendekat, Isya Allah…)

Read More...

Egosentris Kun-Geia (Sebuah pendaman rasa)

Aku sedang menginginkan kesendirian,
Aku masih menghendaki ketenangan,
Aku masih meminta kedamaian,
Aku sedang menuntut keheningan.
Maka jangan merusak keakuanku yang menginginkan sendiri,
Maka jangan merusak keakuanku yang menghendaki tenang,
Maka jangan merusak kekakuanku yang meminta damai,
Maka jangan merusak keakukanku yang menuntut hening.
Atau keakuanku rusak dalam kesendirian,
Atau keakuanku rusak dalam ketenangan,
Atau keakuanku rusak dalam kedamaian,
Atau keakuanku rusak dalam keheningan.
Cukup sudah kekuatan semangatku kalian lemahkan,
Cukup sudah kelimpahan percayaku kalian siakan,
Cukup sudah ketulusan niatku kalian sampahkan,
Cukup sudah kucuran pelajaranku kalian acuhkan.


Yogyakarta, 01 10 09 20 10
(Jangan sapa aku sampai waktunya tiba kusapa kalian, jangan tanya aku sampai waktunya tiba kutanya kalian, jangan salami aku sampai waktunya tiba kusalami kalian, jangan hubungi aku sampai waktunya tiba kuhubungi kalian, karena jika tidak… sapa, tanya, salam dan usaha kalian untuk menghubungiku hanya akan berakhir dengan kesia-siaan tanpa sebuah jawaban sedikitpun. Fikirkanlah sebelum orang-orang yang masih mau memikirkan kalian benar-benar meninggalkan kalian, renungkanlah sebelum orang-orang yang mau merenungi kemajuan kalian benar-benar me-masabodohkan-kan kalian. Aku serius, ini bukan main-main atau gurauan belaka.)

Read More...

Cinta Mentari

“Bunda..apa cinta itu bisa dilihat?”
Bunda tersenyum menatapku. Di elusnya rambutku yang lurus. “Cinta tidak bisa dilihat sayang. Dia hanya bisa dirasakan. Seperti hembusan angin. Kau hanya bisa merasakan kesejukannya, tak bisa melihat wujudnya seperti apa. Tapi, kenapa tiba-tiba kau menanyakannya?”
Aku tersenyum. “Tidak mengapa bunda. Aku hanya ingin tau saja”
“Apa kau sedang jatuh cinta?”, Bunda menatap penuh rasa penasaran.
“Entahlah Bunda, Aku sendiri tidak tau. Aku tak tau apa yang kurasa ini memang cinta atau bukan.”
“Apa Bunda mengenalnya?”
Aku menganggukkan kepala.
“Apa kau ingin selalu berada dekat dengannya?”
Sekali lagi aku menganggukkan kepala.
“Apa ia selalu ada dalam do’a-do’amu?”
Lalu, aku mengangguk yakin.
“Syukurlah…”, kata bunda. “Lalu apa yang akan kau lakukan, anakku? Bukankah kau ingin selalu dekat dengannya?”
“Ya Bunda. Aku memang ingin selalu dekat dengannya. Tapi sebelum aku mendekat dengannya, aku lebih dulu harus mendekatkan diriku pada Dzat yang nantinya akan mendekatkanku padanya. Hingga saat tiba waktunya nanti, kedekatanku padanya bisa lebih mendekatkanku lagi pada-NYA.”
“Bagaimana dengan do’a-do’amu? Apa kau selalu mendo’akannya?”
“Do’aku tetap untukmu yang terutama, Bunda. Do’aku untuknya pun kan tetap ada. Aku ingin ia selalu dalam kebaikan. Selalu dalam lindungan-NYA.”
“Itulah cinta anakku. Sesuatu dimana kau ingin selalu dekat dengannya. Sesuatu dimana kau tak pernah lupa untuk mendo’akannya. Seperti cintaku padamu. Cinta seorang Ibu kepada anaknya. Cinta, dimana ia tak ingin jauh dari anaknya. Cinta, dimana ia kan selalu mendo’akan anaknya. Begitu juga Cinta Tuhan kepada hamba-NYA. DIA ingin kita selalu dekat dengan-NYA.”
Aku tersenyum. Dalam pangkuan bunda, kutidurkan kepalaku dengan manja diatasnya. “Apa Tuhan mencintaiku, Bunda?”
“Tentu sayang. Kau pun juga harus mencintai-NYA.”
“Dengan cara?”
“Mematuhi perintah-NYA dan menjauhi apa yang dilarang-NYA.”
“Hanya itu?”
“Ya. Hanya itu. Niscaya, ketika Tuhan mencintai hamba-NYA maka DIA akan perintahkan malaikat untuk memberi kabar pada seluruh dunia dan isinya, bahwa DIA sangat mencintai hamba-NYA itu. Dan memerintahkan semua makhluk ciptaan-NYA untuk juga mencintai hamba-NYA yang IA cintai itu.”
“Kalau begitu, aku akan merebut cinta-NYA”.
“Rebutlah cinta-NYA, anakku. Cinta yang paling hakiki”.
“Cinta yang akan mengumpulkan kita di Syurga-NYA kelak”.
“Bunda yang akan menjemputmu di pintu Syurga nanti. Bunda janji”, Bunda mengelus pipiku. Aku terlelap dalam pangkuannya.

***

“Mentari…Bangun nak, sudah pagi. Masak kalah sama matahari, yang sedari tadi sudah mengintip lewat celah jendera kamarmu”, Suara Ayah membangunkanku dari pangkuan bunda.
“Ayah.…tadi Mentari mimpi Bunda.”

Read More...

fatwa hati

"APAKAH SEMUA HANYA MAIN-MAIN
DAN SENDA GURAU BELAKA?"


kuminta fatwa pada hati untuk sebuah kebingungan akan suatu urusan yang meragukanku.

"Kun-Geia... Apakah saat ini engkau masih bernafas? apakah jantungmu masih berdetak?"

hatiku malah balik bertanya, dan pertanyaan itu adalah pertanyaan yang tak perlu ku jawab karena dia sendiri tahu jawabannya.

"itu pula yang aingin aku katakan padamu Kun! kamu memberiku pertanyaan yang tak perlu ku jawab karena kau sendiri tahu apa jawabannya!"

masya Allah, orang lg bingung malah ditambah kebingungannya dengan metafora yang tak biasa.

"baiklah kalau kau pura-pura tak mengerti, singkatnya, ketika Nuh as menyeru umatnya untuk bergegas menaiki perahunya, hanya sebagian kecil yang mengamininya, dan beliau Nuh as. tidak memaksa mereka yang tidak mendengar ataupun masa bodoh dengan seruannya padahal seruan itu untuk kebaikan mereka bukan untuk kepentingan Nuh as. walaupun Nuh as. sedih, walaupun beliau prihatin (karena isteri dan anak-anaknya memilih keinginannya sendiri-sendiri), tapi tetap saja beliau sadar bahwa kuasanya hanya terbatas pada usaha, sedangkan keputusannya adalah milik Allah Yang Maha Kuasa Membolak-Balikan Hati. renungkanlah... Rasulullah sendiri tak kuasa untuk mengislamkan pamannya Abu Thalib walaupun beliau saw telah berusaha sekuat beliau bisa, tetap saja keputusan Dialah yang menentukan semuanya, nah... sekarang, ketika engkau telah menyeru, biarkanlah putusan-Nya yang berlaku atas mereka yang kau seru, jika sebagian dari mereka mendengar dan taat, peliharalah dia, namun jika sebagian atau bahkan semuanya membangkang atau memusuhi, itu bukan urusanmu lagi! masih banyak orang yang bisa kau seru dan mendengarkan seruanmu, berpalinglah pada mereka yang tidak menganggap seruanmu sebagai main-main atau senda gurau belaka, OK kun!!!"

"Ok!!! gairahku telah kembali!"

Garut 23 09 09 08 42 (utk adikku di bawah indahnya langit senja, thanks a lot, you was charge my power)

Read More...

10 Hari Bertamasya (GRATIS), mau???

Assalamu’alaikum.
Ada kabar baik untuk para pengunjung setia penaripena.blogspot.com, kami segenap jajaran direksi penari pena writing laboratory akan mengajak anda untuk bertamasya selama sepuluh hari (gratis), kita akan jalan-jalan bersama menjelajahi dunia yang terlupakan, anda tertarik?

Inilah rencana tamasya yang akan kami adakan bersama anda yang berminat.
Hari pertama tamasya, kita akan pergi ke berbagai kolong jembatan di negara-negara miskin dan berkembang, disana kita akan melihat kehidupan para manusia yang ditakdirkan selalu kepanasan ketika siang dan kedinginan ketika malam, terusir atas nama ketertiban dan keindahan, tersisihkan bersama penderitaan atas nama ketololan dalam kemasa bodohan pemerintahan.

Hari kedua, kita akan bertamasya ke negara-negara miskin di afrika, kita disana akan menyaksikan bagaimana orang bererbut air kencing dari sapi-sapi kurus untuk sekedar menghilangkan haus di tenggorokan dan tentunya supaya mereka tetap bisa hidup di musim kemarau yang panjang di negaranya, kita akan melihat banyak lalat-lalat berterbangan di sekitar mayat-mayat yang bergelimpangan dengan perut membuncit dalam busung lapar dan mulut terbika dalam lapar dan kehausan.

Hari ketiga, tamasya kita direncanakan ke rumah sakit-rumah sakit persalinan, disana kita kan banyak menemui bayi yang terlahir tanpa tangan, atau tanpa kaki, atau tanpa batok kepala, atau berbibir sumbing, atau bermata buta, atau berdempet kembar siam hanya dengan satu jantung untuk dua tubuh. Setelahnya kita akan melanjutkan ke rumah sakit jantung, paru-paru, kankerdan rumah sakit umum yang berisi berbagai orang yang sedang berterung melawan cakar kuku-kuku izroil dalam penyakit mereka.

Hari keempat, kita akan bertamasya ke negara-negara yang terdzalimi di tumur tengah, palestine, irak, afghanistan, libanon dan negara-negara lain dengan nasib serupa, disana kita akan mendengar jeritan, tangisan, rintihan, ledakkan, tembakkan, penganiayaan, kekerasan dan berbagai bentuk penindasan tidak berprikemanusiaan, tiada kemananan, tiada ketentraman, tiada kedamaian.

Hari kelima, kita akan pergi ke rumah sakit-rumah sakit jiwa, bercengkrama dengan mereka yang frustasi, depresi, sterss berat, mereka yang kencing dan berak di ditempat mereka berada, mereka yang sesaat menangis sesaat kemudian tertawa, mereka yang dicabut akalnya hingga tak ubah seperti gumpalan daging yang masih bisa bergerak tapi tak punya fungsi dari kenapa dirinya masih ada dan untuk apa dia hidup.

Hari keenam, kita akan masuk ke dalam hutan belantara, dimana disana tidak ada penghuni selain hewan buas dan pepohonan tua, tidak ada sinar matahai, tidak ada peradaban, gelap, sepi, hening, mencekam.

Hari ketujuh, kita akan pergi ke antartika, teramat dingin, terpencil, tidak ada tumbuhan, hewanpun hanya pinguin dan hiu putih, siang 23 jam 45 menit dan malam 15 menit di musim panas, siang 15 menit dan malam 23 jam 45 menit di musim dingin, suhu rata-rata minus 35 derajat celsius, tidak ada hujan, hanya hembusan angin dingin di selingi longsor es.

Hari kedelapan, kita akan pergi ke gurun pasir, panas, dehidrasi, hamparan pasir tak berujung, sengatan panas matahari.

Hari kesembilan, kita akan pergi ke planet mars, tak beroksigen, tak berair, tak berpenghuni, begitu panas, begitu dekatnya dengan matahari, tidak ada kehidupan sama sekali.

Setelah serangkaian tamasya itu kita lewati, maka di hari kesepuluh kita akan kembali ke tempat masing-masing dimana anda sekarang hidup, anda sekarang berada, anda sekarang diberi karunia, anda sekarang bercengkrama dengan keluarga.
Jika anda berminat dengan rencana tamasya kami, segera daftarkan diri anda dengan mengirimkan surat permohonan partisipasi tamasya diri. Tujukan ke alamat sonopakis lor no 362 Yogyakarta, di pojok kanan amplop tulis keterangan “kami orang-orang yang tidak bisa/susah bersyukur kepada-Nya”

Yogyakarta, 05 09 09 21 33 (untuk adikku yang katanya sedang “futur”, Maka nikmat Tuhan “kamu yang manakah yang kamu dustakan?”)

Read More...