"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"

You Know Poo??

Hari pertama ketika aku memutuskan menulis, hari itu juga aku dihadiahi seekor peliharaan. Tak tahu siapa yang mengirim, tiba-tiba saja benda berisik itu sudah bertengger di samping meja yang biasa kupakai menulis. Terbungkus kertas kado cokelat dan terdengar bunyi “duk…duk….kruduk…kruduk…” ketika diguncang dan didekatkan ke telinga. Seketika aku yang penasaran membuka bungkusannya dengan membabi buta. Sepersekian detik sejak kubuka kardus dalam bungkus kado itu…melompatlah mahluk yang sekelebat berwarna kuning ke wajahku…menghambur dan mematuk-matuk dengan riangnya…ya ampun…bocah…ribut amat… begitu pikirku… Masih terkejut dan gelagapan karena dapat serangan tiba-tiba, aku cuma bisa tertegun ‘burung?’. Makhluk itu diam seolah tau yang kupikirkan. Dia melayang ke pinggiran meja, berkedip lalu membuka mulutnya lebar-lebar dengan galaknya seolah memberi salam perkenalan. Seekor kenari rupanya, tapi anehnya selain kuning dan ribut, kuperhatikan ternyata bagian perutnya tak ditumbuhi bulu sedikitpun…botak… Hatiku mencelos…ou ou…
Tiga hari sejak itu aku mulai terbiasa dengan polahnya. Binatang kecil ini selalu buang air dengan tertib dan membuat sarang sendiri di atas lemari pakaianku, yang masih membuatku heran hingga sekarang, kotorannya tak pernah bau lho, malah bisa dibilang dia jarang sekali buang air di kamar. Kandang burung yang aku beli sehari setelah aku dikejutkan oleh kehadirannya tak jadi kugunakan buat mengurungnya. Si kenari selalu terlihat frustrasi tiap kali ku masukkan ke sarang, tak tega aku melihatnya. Akhirnya karena bingung kubiarkan dia membuat sarang seenaknya diatas lemariku dan kubuka jendela lebar-lebar biar dia bebas keluar masuk sesukanya. Oh iya, biar kuberi tahu pada kalian, burung kenari ini tak bisa dilihat orang lain, Cuma bisa dilihat olehku, hoho…ajaib ya… itu segera kusadari karena tiap kali aku beranjak keluar dari kamarku, dia langsung nongkrong dengan nikmatnya di bahuku, dan ternyata tak ada orang yang terusik dengan keberadaannya. Wow…
Kenari kecil bernama Poo ini punya kebiasaan super unik dan menyebalkan. Hmm…sebelumnya biar kuberi tahu satu hal, kalian pasti bertanya kenapa dia bisa kunamai Poo…padahal Poo itu kan…yap…Poo = ee, habis aku sudah tak ada ide buat menamainya, memang apa lagi nama yang cocok buat burung kuning...hmm....kuning lah pokoknya. Sekarang akan kuceritakan soal kebiasaan menyebalkan si Poo. Sebenarnya dia bisa dikatakan manis andai saja ia tak pernah menggangguku tiap kali ritual menulis hendak kulakukan. Tiap kali pena hendak kujangkau, atau folder kumpulan cerpenku kubuka, dengan lembutnya Poo menggesek-gesekkan bulu-bulu sayapnya di pipiku. Entah sihir apa yang ia hembuskan, saat itu juga ide yang sudah hampir tersalurkan di lembaran-lembaran kertas menguap tak tentu tujuan…duh…melongolah diriku memandangi embrio ceritaku yang beterbangan dengan bebasnya. Ideku hilang, lenyap, otakku hang. Kalian tau bagaimana sedihnya? Rasanya menangis saja tak cukup jadi obatnya. Waktu pertama Poo bertingkah begitu, kupikir itu bukanlah ulahnya…yah…paling emang lagi apes. Akhirnya sehari terlewati tanpa satu pun karya tercipta.
Hari berikutnya, aku yang sudah mantap dengan ide dalam kepalaku dengan hati-hati mulai menggores pena. Lega karena tak ada gangguan membuatku lengah dengan keberadaan Poo. Ternyata ia sudah bertengger di ujung kertas yang sedang kutulisi. Kalian tau? Tak cuma satu yang bertengger disana, ada lima Poo! Dari mana burung sebanyak itu? Aku pura-pura acuh akan hal itu dan kembali menulis. Baru selesai satu kata, tiba-tiba POP! Muncul seekor Poo lagi berbaris dengan Poo-Poo yang lain, masih heran, aku menulis satu kata lagi. POP! Lagi, lagi, lagi…arrgghhhh!!! Kosentrasiku buyar, pena pun tergelincir dari tangan dan Poo-Poo itu lenyap, tapi sebelum lenyap, mereka meninggalkan bulatan-bulatan kotoran burung di kertasku, tersisa satu Poo yang kukenal, ia mengedip-ngedip seolah menggodaku…ARRRRGHHHH…. MENYEBALKAAAAANNNN…!!! Sebenarnya setelah kupikir lagi di kemudian hari, aku jadi sedikit sangsi, mungkin Poo bukan muncul karena tiap kata yang kutulis dengan penaku tapi justru karena aku lah yang sejak awal tak konsentrasi, baru menulis satu kata langsung teringat satu urusan, satu kata lagi ingat urusan yang lain, begitu seterusnya. Mungkin Poo itu cuma kambing hitam ya..
Euhm…tapi tidak juga, setelah kupikir lagi, Poo memang makhluk usil, buktinya ketika aku mulai jenuh di tengah proses menulis, dialah yang jadi sensor paling sensitif, dia dengan sengaja buang air atau bertingkah lucu hingga perhatianku teralih dan tulisanku terhenti di tengah jalan. Ketika ingin melanjutkan ternyata kucuran ide sudah berhenti, ah payah… Tidak, Poo sebenarnya tak bersalah, aku memang orang yang mudah tergoda, dan godaan terbesarku ya…Poo…hehe. Kukatakan satu hal. Aku sudah tau bahwa Poo bukanlah binatang biasa, dia adalah sisi lain dariku, yang ‘buruk’ mungkin…tapi yang jelas dia ‘mengganggu’ ketika aku tak menginginkannya.
Poo bisa jadi adalah godaan, tapi apa mau dikata, dia juga bagian jiwaku dan aku tergantung padanya, paling tidak aku jadi tak begitu merasa bersalah karena ada Poo yang menyelamatkanku dari rasa berdosa akibat tulisan yang tak kunjung selesai. Euhm…aku jadi terpikir untuk mendapat peliharaan baru yang bisa jadi lawan Po…peliharaan yang isinya semangat, kreatifitas, juga ide-ide yang mengalir lancar. Mungkin kalau aku punya satu peliharaan lagi, Poo tak akan kesepian dan akan berhenti menggangguku. ^_^

Read More...

Penari Pena, Dari dalamnya hati sampai ke tingginya puncak merapid

jum'at 2 april 2010 (kudedikasikan untuk adik2ku di Komunitas Penari Pena), kami ber 15 naik gunung merapi di Yogyakarta, banyak hal luar biasa yang didapat di ketinggian 2980 meter diatas permukaan laut itu, terutama kami bertemu dengan 4 amazing child (usianya rata2 9 tahun), mereka bisa mendaki sampai ke puncak bersama ayah2nya, kami bisa, mereka bisa, kenapa anda tidak mencobanya?











Read More...

Terlihat seperti yang terlihat

Entah...
tersentak atau apa yang terbesit anganku dibawa jauh melayang akan topik kejanggaalan menjelang malam yang se,estimya lelapkan tidurku tanpa tanda tanya.huft....
coba, apa yang kalian perlirakan tetang kejanggalan itu?
Hmm... aku berdecak lirih
"Haah?!" berlanjut pertanyaan singkat kian muncul menderu pikirannku.
"Apa?"
Lengkingan suara dri kejauhan sayup terdengar namun kian menjadi jelas terdengar dengan desah kebingungan yang tampak tak da ritmenya.
"Ani,Ami,Ami,..... kamu siy mau kemana malam-malam?" tanya nopi.
Dentingan jam dinding teriuh empat kali ketukan panjang berbunyi itu pertanda menunjukkan tepat pukul 21.00
Namun pertanyaan itu, kuahiraukan tak kugubris sebab diriku sedang asik menikmati acara tontonan di televisi.
lalu....Datang nopi menghampiriku....
dengan wajah kening dikerutkan sambil bola matanya meliat ke segala penjuru arah dan hembusan nafasnya yang tersengal sembari melontarkan pertnyaan "Ami kamu kok di ruang televisi? kamu kok pakai celana panjang dan kaos??"
"iya , aku dari semenjak jam 19.30 telah stand by di depan televisi sambil menyantap makan malam.hehe" jawab ami.
"haah??Terus... yang tadi , yang tadi... keluar dari pintu kostan siapa??Bener dech... tadi aku ngeliat kamu, ami....!!" dengan penasaran, novi kian mereka-reka kejadian yang dialaminya.
Aku pun dijak oleh nopi tuk terlibat langsung memaikan peranan dalam rekontruksi kejadinya . aki diminta tuk berdiri dan mengikuti instruksi darinya.
nopi pun memberi contoh kepadaku, aku disuruhnya untuk berjalan di depan kamar dia saat dia sedang mengerjakan tugas dalam laptopnya.
"Aku jelas, banget meliat kamu ami...pakai rok warna cream dan pkai kemeja dengan rambut ikal terurai pnjang se-pundak seperti kamu.suer.serius.aku tuch lagi sdar.dan gag ngantuk!!!AMI...."bela nopi.
"iaA,aku gag tau.Yang jelas dari tadi aku di ruang.Televisi dan dari tadi pula gag ada yang keluar pintu kostan"
"HwaH....siap sih iaa....yang tadi aku liat?" cemas nopi.
"Leny.leny....aku tidur sama kamu iaA."Pinta nopi.
iaph.begitulah singkat peristiwa kejanggalan yang berakhir rasa takut nopi.

Read More...

^_^ Jangan Berhenti Berharap ^_^

Bercerita tentang masa lalu, masa sekarang, & masa depan. Masa lalu adalah kenangan, masa sekarang adalah tantangan, masa depan adalah harapan. Masa lalu dihiasi dengan beragam cerita. Tentang keluarga, teman, sahabat, dan masih banyak kenangan lainnya. Semua kenangan itu baik manis maupun pahitnya terkadang membuat kita berfikir & tersenyum ketika memikirkannya. Masa sekarang, ketika semua masalah harus dihadapi dengan pikiran jernih & harus sebisa mungkin diselesaikan dengan baik merupakan tantangan hidup yang menghubungkan kita menuju kedewasaan. Dulu, aku tak ingin menjadi dewasa karena menurutku orang dewasa itu rumit & penuh masalah. Tapi, ketika hampir 21 tahun kumenjalani hidup, aku sadar kedewasaan itu muncul dengan sendirinya ketika harus mencari solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang hadir sebagai penghias kehidupan.
Masa lalu & masa sekarang merupakan cerminan masa depan yang berupa harapan. vHarapanku antara lain sukses dunia akhirat, menjadi kebanggan ibu & keluargaku, cepat-cepat lulus kuliah & meraih beasiswa ke Jepang. Semoga harapan-harapan itu bukan hanya sekedar harapan. Aku selalu meyakinkan diriku,”Jangan menyerah Mey, jika apa yang kamu harapkan hanya sekedar harapan, jangan pernah putus asa karna asa itu masih dalam genggaman Allah dan genggaman itu akan terbuka suatu saat nanti. Rencana Allah lebih indah dari rencana-renacana manusia. Berusaha dan berdoalah dengan harapan doa itu akan dikabulkan oleh Allah, selalu sabar dan ikhlas serta semangat!^_^”
Jangan pernah berhenti berharap kawan, semua pasti ada jalannya karna Allah sayang dengan hamba-hamba yang mengingat-Nya. Apa pun yang terjadi, tetap tersenyum dan semangat!^_~

Read More...

Cerita Pendek

Bagaimana andainya kau jadi gadis yang berada di simpang jalan, mau bilang ini takut salah, mau laju kesana takut berdosa, padahal semua ujung jalan itu adalah segala yang ia cintai, segala yang ia sayangi. Begitu yang dirasa Lasmi, tetanggaku. Ia dilamar oleh dua pria. Satu tetangganya, satu seorang sarjana dari kota. Kalau ia pilih tangganya, ia yang ingin pergi dari kampungnya yang dirasanya sudah sumpek tak bisa terlaksana karena tangganya itu orang yang tertutup dan sayang orang tua, tak hendak ia membawa istrinya pergi merantau jika itu membuatnya jauh dari orang tua.
Sayangnya orang tua Lasmi menginginkannya jadi mantu. Si tangga itu memang teman sepermainan Lasmi, dan dulu pernah dicintainya, tapi kini ketika Lasmi sendiri tau sifat dasar si tetangga, cintanya luntur seketika.
Si sarjana dari kota lain lagi, ia cinta pada Lasmi setulus hati, sayang orang tua Lasmi tak setuju akan hubungan mereka. Lasmi kenal si sarjana belum lama, tapi ia yakin si pria itu punya pandangan luas, ia bisa membawa Lasmi melihat dunia. Sesuatu yang tabu buat para wanita di desanya buat berpikir berjauhan dari rumah asal mereka, tapi buat Lasmi, itu lah tujuan hidupnya.
Si pria sarjana selalu mengajaknya bercerita tentang kota dan gedung tinggi, gunung yang belum pernah didaki siapapun, juga air terjun dan laut yang hanya pernah didengar Lasmi dari dongeng desanya tiap kali mereka bersua. Lasmi kian tertarik, tapi rasa cintanya pada orang tua ternyata tak merelakan ia pergi. Aku harus bagaimana….pikirnya. aku tak yakin aku cinta pada si sarjana, tapi ia berikan banyak harapan yang selama ini hanya harapan kosong buatku, sementara tanggaku, ah…aku tak yakin bahwa nantinya setelah menikah apa aku akan dibolehkan keluar dari rumah sekalipun, aku sendiri tak pernah melihat ibundanya keluar dari rumah karena aturan keluarganya yang sangat ketat. Bagaimana bisa orang tuaku mengizinkanku menikah dengan pria macam itu, apa karena ia punya tanah luas berhektar-hektar? kupikir orang tuaku tak sebuta itu pada uang. Minggat bersama si sarjana juga bukan pilihan yang baik, pada siapa aku harus menuntut jawaban…apa aku harus bertanya pada Tuhan?
Tapi bercakap begitu bagaimana caranya…apa aku mesti mati dulu? Ah Lasmi, esoknya ia tergeletak tak bernyawa di kamarnya, minum racun. Yah…mungkin sekarang ia sudah tau jawaban dari Tuhan…sayang ia tak bisa kembali karena sore itu juga ia dikubur dengan isak tangis ayah, ibu dan si sarjana, sedang si tangga, ia bahkan sudah mencari calon lain semenjak surau di kampung menyiarkan kematian Lasmi. Malangnya..

Read More...

sebuah alasan...

Ada yang bertanya mengapa saya menulis. Saya ingin menulis karena ada sesuatu yang menggelegak dalam hati saya. Ia ingin dikeluarkan. Ia tak ingin terkungkung. Jika ia tidak dikeluarkan maka akan menjadi penyakit dalam diri saya. Akhirnya ia akan keluar dan mengalir layaknya sungai – sungai yang menuju ke lautan karya saya. Ia adalah emosi, perasaan, pemikiran, dan kreatifitas saya.

Ada yang menantang dengan bertanya, apakah saya penulis? Awalnya saya merasa bukanlah seorang penulis. Saya merasa belum pantas disebut sebagai penulis. Karena saya tidak konsisten menghasilkan tulisan. Tulisan saya pun belum terbit di media. Tapi satu hal yang saya pelajari tentang sugesti. Bahwa sugesti dapat mengubah mimpi menjadi realiti. Maka saya pun memformat sugesti dalam kepala saya. Berulang kali mengatakan bahwa saya adalah penulis. Saya adalah penulis. Karena saya harus menulis. Agar suatu saat saya dapat benar – benar menjejak di bintang impian saya untuk menjadi seorang penulis. Maka saya pun menjalani semua konsekuensi dari sugesti tersebut. Mulai mendisiplinkan hati untuk merasa lebih dalam. Mulai menarikan pena untuk menorehkan karya lebih banyak. Mulai memandang ke segala arah untuk memetik ribuan ide. Karena saya adalah penulis.

Lalu ada yang berkata menulis itu tidak penting. Yah, terserah siapa pun itu. tapi bagi saya menulis adalah wadah. Yang dapat menampung seberapa besar dan seberapa beratpun emosi saya. Menulis adalah cermin. Tempat saya dapat berkata pada diri saya lewat tulisan – tulisan saya. Karena tulisan saya adalah diri saya. Maka ia juga harus jujur dan merefleksikan diri saya yang sebenarnya. Menulis menjadi penting bagi saya sebagaimana kekasih begitu bermakna bagi sang pencinta. Maka saya akan terus menulis. Meski sekedar emosi saja yang tertuang padanya.

Ada yang berkeluh, menulis itu tidak menghasilkan. Dari tulisan – tulisan saya saya dapat memperoleh kekayaan. Kaya karena memiliki jutaan ide. Karena saya dapat membagi sebanyak mungkin. Karena saya dapat melihat lebih jauh ke depan. Dan saya mengharapkan pula tulisan – tulisan saya dapat menjadi kontrol bagi diri saya pribadi. Karena tulisan saya menjadi pintu bagi orang lain untuk mengetahui saya. Karena tulisan saya dapat menjadi cambuk bagi saya jika suatu saat saya lupa akan pentingnya kejujuran dari seorang penulis dalam berkarya.
Keinginan terakhir saya adalah dapat menulis jutaan karya. Bukan hanya banyak dari segi kuantitasnya namun juga kualitas yang tak terbatas. Yang dapat mengetuk jutaan sanubari untuk meresapi kebesaran- Nya. Yang dapat memberi makna di setiap keping hidup mereka.

Maka saya akan tetap menulis. Meski jemari saya terkikis.

Read More...

aku dan tulisan ku

Menulis karena suka menulis. Bagiku cukup dengan satu kata, ‘suka’, aku bisa menggerakkan jemariku menarikan sebuah pena mengikuti alunan nada – nada suara hati yang terurai menjadi berbait – bait kalimat. Aku suka menulis walau tulisanku tak seindah syair – syair pujangga yang begitu lihainya memainkan kata – kata. Anggaplah aku ini seorang penulis, dengan begitu mungkin karyaku bisa dinikmati umat pencinta goresan - goresan pena. Tapi aku memang penulis, karena walau masih tersembunyi dibalik kardus bekas dan bertumpuk – tumpuk buku tak terpakai, aku telah menghasilkan karya. Sebuah tulisan.
Menulis membuatku berkarya, merajut angan – angan menjadi sebuah coretan – coretan yang membangkitkan asa, mengekspresikan perasaan yang bergelora dalam hati, dan mengeluarkan bisikan – bisikan bising dalam otak ku. Ingin rasanya aku keluar dari kungkungan rasa malas yang membuatku lumpuh, hingga aku bisa kembali bergerak merangkai kata – demi kata dan menjadi kaya karenanya. Kaya akan karya yang kelak bisa aku ceritakan kepada anak cucuku. Berbagi segala rasa dalam jiwa, membuat orang ikut menangis kala aku berurai airmata menuliskan perasaan sedih yang mengharu biru, dan membuat mereka kembali tersenyum dengan sebuah tulisan akan perasaan bahagia. Tulisan telah memberiku materi, walau baru secuil dari yang seharusnya aku dapat jika aku mau berusaha lebih lagi. Ia juga memberiku banyak kenagan indah yang berarti, menghantarkan aku kepada sebuah harapan baru untuk mulai berlari meraih mimpi. Semua itu membuat menulis menjadi begitu penting buat ku.
Aku ingin mencipta cerita pendek, novel dan roman. Membagikan pengalaman – pengalaman yang tak terlupakan. Memberi dukungan kepada mereka yang gagal dan kecewa dengan cerita – cerita yang penuh semangat dan harapan. Membangkitkan kepercayaan diri mereka yang terlempar kedalam jurang kerapuhan iman. Semoga dengan menghasilkan tulisan kelak, aku bisa membawa kebaikan untuk diriku pribadi dan orang – orang yang membaca tulisanku.

Read More...

Penaku Menari

Aku ingin menulis karena kuingin penaku terus menari. Walaupun rasa malas menghantui, tapi aku ingin setiap ide yang hadir tetap tersalurkan lewat tarian penaku ini. Namun, ketika pena akan menari, entah kenapa pena itu tak gemulai lagi dalam menarikan tarian-tariannya. Apakah pena itu marah karena lama kusimpan?

Aku bukan penulis karena tulisan-tulisanku masih kunikmati sendiri dan masih terkesan egois. Tapi aku akan terus berusaha menghilangkan keegoisan tulisanku, hingga kenikmatan tulisanku dapat dinikmati oleh semua penikmat tulisan.

Tulisan itu penting dan penciptaannya yang disebut menulis pun penting. Hidup bukan hanya bicara dengan lisan, tapi bisa juga dengan tulisan. Aku termasuk orang yang susah merangkai kata dengan lisanku, dan kugunakan tulisanku sebagai wakil lisan yang terkadang beku ketika ia harus menyampaikan pesan memoriku.

Berbagai manfaat pun kudapat dari menulis. Dengan menulis, aku mampu tertawa, tersenyum, senang, sedih, bangga, kecewa, dan menangis. Berbagai rasa mampu dirasakan melalui tulisan. Tulisan mampu mencatat sejarah kehidupanku. Harapanku dari menulis, aku ingin tulisan-tulisanku mampu menghipnotis pikiran penikmat tulisanku agar mereka juga tergugah untuk menulis. Aku tak ingin tulisanku termakan oleh waktu karena aku masih ingin menikmatinya dengan segenap rasaku.

Tulisan-tulisan itu telah mengajakku untuk selalu bersamanya. Menyimpan ide-ide dan kreativitasku dalam tubuhnya, dan mengukir sejarah hidupku melalui langkahnya. Aku ingin menulis cerita-cerita yang hadir dalam kehidupanku, dan kuingin mengukirnya agar tetap teringat sepanjang masa.

Read More...

jawaban. . .

Tolong jangan pernah mempertanyakan mengapa aku ingin menulis. Karena sejujurnya aku sendiripun tidak pernah mengerti kenapa aku harus menulis. Jawaban pamungkasku untuk menghadapi pertanyaan demikian adalah “panggilan hati”. Tapi aku bahkan tidak pernah bisa tahu dan memprediksi kapan dan mengapa panggilan itu datang. Apalagi kamu. Kamu tidak mungkin memahami kenapa aku menulis dan mendiamkan tulisan-tulisan itu bukan? Yang pasti sekarang aku ingin menumbuhkan agar panggilan-panggilan hati itu selalu kontinyu menggema di rongga hati sampai akhirnya segenap jiwa raga ini ingin terus menulis dan menikmati proses menulis.

Aku sama sekali tidak mempunyai pendirian tentang eksistensiku sebagai seorang penulis. Aku akan merasa seperti penulis yang sedang dikejar target untuk menyelesaikan tulisan dalam waktu singkat ketika hati ini sedang “terpanggil”. Itu tidak sehat, bukan? Tetapi ketika penggilan-panggilan itu lenyap, aku bahkan tidak ingin sama sekali mengenal tulisan.

Tapi bagiku, tetap, menulis itu sepenting kita menjaga kelestarian alam kita untuk generasi penerus. Atau bahkan mungkin, sepenting seorang gadis untuk menjaga keperawanan mereka. Karena dengan menulis, kehidupan kita akan diakui dimasa depan. Dan suatu saat kita akan seperti dihidupkan kembali oleh tulisan-tulisan kita. Artinya, menulis sekarang bukan hanya untuk dinikmati sekarang. Tetapi juga untuk dinikmati oleh jaman setelah kita.

Menulis sama sekali tidak memberikan kebahagiaan. Aku bahkan hanya mendapat kritikan atau (maaf) hujatan-hujatan yang aku rasa itu sama sekali tidak perlu. Aku malu ketika tulisanku sama sekali belum memberikan apa-apa untukku. Karena bagiku, tulisanku adalah aku. Itu berarti aku belum memberikan apa-apa kepada diriku sendiri. Sedangkan orang lain bahkan sudah lebih dulu mengumpati tulisanku. Orang lain lebih dulu memberikan perhatian untukku, untuk tulisanku. Sungguh aku malu…

Tapi percayalah, suatu saat kalian akan mendengar kabar bahwa temanmu ini telah berhasil menjadi penulis cerita yang baik. Cerita tentang kehidupan nyata, tentang imajinasi dan tentang mimpi. Siapa yang ingin menjadi actor dalam ceritaku nanti??? Silakan beri kabar aku dari sekarang. Karena nanti, bintang-bintang hollywod akan berdesak-desakan mengantri untuk menjadi pemeran utama dalam ceritaku.

Read More...

Permulaan Sang Pemula

Aku ingin menulis karena diri ini terpedaya akan semarak berita kehidupan yang kian menggelitik kedua daun telingaku, yang kemudian berlanjut getar qalbuku yang bersymphoni dengan lentik jemariku hingga tergurat curahan tutur hati beruraikan pesan hidup yang harapku , kan dapat memberi kesan.
Sampai saat ini, kini bukan sebagai penulis kutulis tulisan ini , asaku kelak ketika kutulis kembali ini telah tampak bedanya sebab kuanggap penulis itu, jika dalam peradaban ini mendominasi karya-karya hunianku yang dapat menyampaikan risalah maknawi bagi khalayak umum,yang tertilik dari kacamata amatiran ini.
Entah...keabsolutan nilai “penting” itu terletak pada aspek yang mana. Namun yang terjamah di pusat syarafku, berdalih “menulis itu penting” sebab ruhku dapat menabur panji-panji perdamaian, meneduhkan sukma yang berkecamuk dilema, merubah buih-buih lara menjadi bahagia.
Berawal dari miskinnya wawasan akan menulis. Ku jumpai permulaan yang tak terlalu berkesan namun tetap ku lalui, sampai ku tersentak sadar “inilah yang kucari”.Diri ini kian mampu memapah ruang imajinatifku yang kian terolah sedemikian sehingga berguna, dan hujatan suara kalbu terlontar kian terarah hingga berarti.
Angan hanya angan, Mengapa hanya angan? Kenapa angan ? Ada apa dengan angan ? bertanya kembali dan menjawab sendiri.ketika ku menulis harapku, dapat mematik ruang sadar insan disekitarku tuk meluapkan problematikannya menjadi suatu rupa berkias hikmah berupa mahakarya dan mengalihkan gejolak gemuruh jiwa insan diri ini menjadi kian terpacu melalui mayapada yang tiada henti membuka tabirnya.
Suatu kata yang ringan terdengar “menulis” tetapi berat dampak yang terasa, ia menjerumuskan kecintaanku dalam bermain bersama “kata” hingga yang lemah daya ini. kini, berani mendobrak cakrawala kepenulisan yang ku mulai dari decakan tak beraturan menjadi harmonisasi lantunan nada kata yang menyejukkan jiwa ini.
Sisi hidup ini mebungkus rahasia, sejenak seraya ku pejamkan mata ingin sekali diri ini dapat menulis puisi dan cerpen mengungkapakan segala akan kemegahan , keagungan persinggahan-Nya ini yang disediakan untuk kita walau ku sadar , ku tak mampu menjangkaunya dengan kata-kata karena teramat dasyhat pencipataan-Nya.Namun, kan tetap ku lakukan dengan keterbatasan, agar senantiasa melewati tulisan itu menjadi pengingat akan ketidakabadian yang tampak nyata di depan.

By AMI

Read More...

menulis by sascha

Menulis, menulis, menulis dan menulis itu yang ada dipikiran saya saat ini. Mengapa menulis, menulis, menulis dan menulis, saya juga kurang memiliki alasan yang kuat akan hal itu dan saya hanya bisa bilang “saya menulis karena memang saya menginginkannya” hanya itu sebuah alasan yang sungguh singkat dan spele, tapi saya adalah sosok seseorang yang mencoba untuk menjadikan sesuatu yang spele itu menjadi sesuatu yang dahsyat. Menulis karena memang saya menginginkannya, terkadang hal tersebut membatasi saya dan membuat saya agak males untuk menulis hal ini dikarenakan saya sedang tidak ingin menulis dan itu menghambat saya benar-benar menghambat. Akan tetapi jika melakukan penulisan dengan unsur pemaksaan yang akan terjadi adalah tidak akan ada rasa kepuasan.
Dengan menulis sesering mungkin, saya sudah cukup menganggap diri saya sebagai salah satu seorang penulis yang memilki karya dan ini bukanlah sebuah bualan belaka, karena ada satu folder tersendiri yang sengaja saya buat khusus untuk menaruh dan mengumpulakan berbagai tuisan-tulisan saya sendiri dan pastinya didalam cerita-cerita saya tersebut sebelumnya sudah saya ukir pada secarik kertas yang ada didalam ingatan saya yang kemudian saya saring didalam pikiran dan mengolahnya menjadi beberapa cerpen-cerpen yang diantaranya kini menyinggahi folder-folder laptop saya.
Menulis itu buat saya memiliki arti yang penting, karena dengan menulis saya bisa mengalihkan kesdihan, walaupun sifatnya hanya sementara akan tetapi dengan begitu saya akan mengerti tentang apa saja yang pernah saya lakukan, yang sering saya kerjakan dan membuat sesuatunya menjadi sebuah cerita yang layak untuk konsumsi diri sendiri, karena saya yakin apabila saya sendiri tidak dapat menikmatinya, pasti tidak akan ada orang yang juga dapat menikmatinya, karena saya tidak hanya sebagai seorang penulis melainkan juga sosok seseorang yang senang menikmati banyak karya tulisan-tulisan milik beberapa penulis lainnya dan berusaha untuk menikmatinya. Jika seorang penulis tidak dapat menikmati karyanya sendiri bagaimana orang lain yang akan membeli karya-karyanya, dapat dipastikan mereka pun tidak akan menikmatinya, jadi menulis pun harus dengan hati dan penuh kenikmatan sehingga setiap orang yang membacanya akan menikmatinya.
Menulis, menulis, menulis dan menulis. Lagi-lagi kalimat itu yang terucap olehku, memang terkadang banyak sekali hal-hal yang aneh muncul ketika kita melakukan sebuah penulisan. Menulis bagiku sangat membuahkan hasil, yah walaupun, memang tidak terlihat secara real seluruhnya, Ketenangan, kepuasan batin akan saya dapatkan ketika saya menulis dan saya berharap dengan tulisan-tulisan saya tersebut orang lainpun bisa merasakan hal yang sama dengan membacanya, dan tulisan-tulisan itu membuat saya sungguh sangat tenang. Walaupun, pada saat menulis terkadang keegoisan saya tercurahkan mungkin sangat bercucuran banyak ambisi yang tersirat pada setiap tulisan-tulisan saya.
Terkadang di dalam perjalanan menempuh kesuksesan setiap manusia akan mengalami jatuh bangun, begitu pula saat kita belum juga meraih kesuksesan itu. Saat ini saya masih saja terus belajar untuk bisa meraih kesuksesan, entah itu kesuksesan dalam segi cinta ataupun cita oleh karena itu saya ingin sekali berbagi terhadap semua orang tentang apa saja yang ada pada diri saya sendiri tentang kesuksesannya tentang keterpurukkannya sebagai sebuah pelajaran penting untuk semua orang dan menjadikannya sebuah buku yang dahsyat sebuah karya seorang sascha, mungkin saat ini jarang ada yang mengenal siapa sosok itu, tapi suatu saat nanti Insya Allah semua impianku akan tulisan-tulisan ini akan menjadi real.



By : Sascha

Read More...

Mengasah Pena yang Berkarat

_Bayangkan seandainya manusia lahir tanpa hasrat, sangat mengerikan, dari hal kecil, kita takkan memikirkan soal makanan karena sekalipun kita lapar, kita tak berhasrat untuk menyentuh makanan, bahkan kenal yang namanya makanan saja, mungkin tidak. Kalo tanya sama para koki, mengenai apa yang jadi dasar hingga mereka memutuskan menyandang predikat sebagai juru masak, jawabannya akan beragam, ada yang karena orang tua, ada yang karena tak ada profesi lain yang bisa digeluti dan lain-lain. Ada sebagian koki yang memutuskan menjadi koki karena bagi mereka memasak adalah hidup, memasak adalah seni, memasak adalah kesenangan. Titik. Begitu pula halnya saya. Mengapa menulis, apa tak ada pekerjaan lain? Apa tak jenuh? Jawabannya, karena kadang tindakan atas dasar dorongan jiwa tak butuh alasan dan tak menjenuhkan. Hasrat, tak perlu alasan.
_Saya manusia, saya berpikir, dan saya hidup, paling tidak itu standar eksistensi manusia. Buat saya, itu tak cukup, untuk hidup seseorang butuh kenangan, dan kenangan adalah hasil olahan dari hasrat. Sesuatu yang dijalankan karena hasrat selalu lebih mudah dikenang karena ia berkesan. Dan yang berkesan, yang diingat, adalah sebuah tulisan, sekalipun hanya bisa dibaca sendiri, itulah karya. Semuanya memang tidak berbentuk coretan tinta, hanya berbentuk buah pikiran, sekali lagi, itu tetaplah karya. Hanya dengan melihat, manusia sudah menulis -menulis dalam pikirannya tentu saja-, tapi mekanisme penulisan itu sendiri, sulit dijelaskan. Menulis, kenyataannya adalah perlambatan kerja otak yang dimulai dari melihat kemudian mengabadikannya dengan rangkaian abjad sesuai kemampuan dan kemauan si penulis.
_Sederhananya, menulis adalah membuat ingatan, kenangan, yah…itu lah. Bagaimana cara menyembuhkan hilang ingatan? Adalah dengan mempertemukannya dengan kenangan-kenangannya, bagaimana cara mencari barang yang hilang? Tentu dengan mengingat kapan dan dimana terakhir kali benda itu diletakkan, mengingat adalah mekanisme dasar manusia dan bahkan orang idiot saja punya ingatan. Ingatan yang dituang dalam tulisan yang nyata jadi bukti eksistensi manusia. Memang tak semua cerita bisa dibukukan, tapi tokoh cerita tak harus riil sekalipun cerita itu riil kan? Tulisan adalah sesuatu yang tak tergantikan, ia lebih bisa menggambarkan sebuah proses dengan detil ketimbang sekadar potret maupun lukisan, dan pandang sisi sentimentilnya, tulisan lebih bisa jujur mengungkap rahasia hati si penulis pada si pembaca.
_Kejujuran adalah kebutuhan primer para penulis. Kejujuran membuat para penulis jadi punya pikiran yang logis untuk tulisannya karena ia tak hanya melibatkan perasaannya semata tapi juga memikirkan reaksi pembaca. Pembaca akan lebih mudah membaca segala sesuatu yang ‘realistis’ daripada tulisan yang samar dan memiliki banyak ‘kebetulan’ didalamnya. Cerita misteri, fantasi, maupun segala sesuatu yang tak nyata juga tak boleh melibatkan terlalu banyak ‘kebetulan’ karena ‘kebetulan’ itu menjenuhkan dan membuat pembaca jenuh adalah dosa besar buat para penulis. Saya sendiri masih belum bisa melepas keinginan mendasar saya untuk membuat sebuah ‘kebetulan’ di tiap cerita yang saya tulis. Menyedihkan sekali tiap kali tulisan saya membuat para pembaca bosan, tapi biarkanlah pena saya menari mengantarkan kebosanan pada anda semua hingga suatu saat anda menyadari bahwa tulisan saya telah menjadi karya yang hebat.
Seringkali manusia terlarut dengan kesulitan hidupnya hingga jadilah berlembar-lmbar tulisan atau bahkan mahakarya yang disenangi semua orang. Memang observasi termudah adalah observasi diri sendiri, tapi cobalah untuk tak selalu mengikuti arus, jika terlalu lama memandang dengan mata sendiri, apa tak bosan? Lagipula sudah banyak cerita tentang “saya adalah bla bla bla” sejak SD semua orang mempelajari cara bercerita seperti itu dan terus terang, saya bosan, saya lebih ingin bercerita tentang “mereka adalah”, “begini kisah-nya”, “ah, bahkan gunung dan lembah tertawa padanya”, mengapa? Karena saya tak sendirian, dan saya tak ingin merasa sedirian, dengan mendengar dan menceritakan mereka, saya bisa merasakan betapa hiruk pikuknya kehidupan, dan betapa beruntungnya saya terlahir bersama mereka semua.

Read More...

terluka dan terobati

benci, kecewa, marah dan terluka... mendengar sebuah kabar yang amat kunantikan tetapi tak ku inginkan. kabar itu datang bersama badai yang amat menghancurkan hatiku. haruskah aku terpuruk lagi untuk kesekian kalinya???? mengapa harus aku yang dia hancurkan????
dia datang dan pergi sesuka hatinya tanpa pedulikan perasaanku. mengertikah dia kalau aku terluka dengan semua yang dia lakukan padaku???? mengertikah dia betapa aku amat mengharapkan kehadiran nya didalam kesendirianku???
aku memang tak berhak memaksanya kembali kesisiku karena aku bukan siapa - siapa. dimatanya dan orang tuanya aku hanyalah seorang perempuan bodoh yang tak pantas berdampingan dengannya. memangnya siapa yang berhak menentukan pantas dan tak pantas? bukankah diamata Allah semua manusia sama derajatnya?
aku ingin kembali bersama dia, aku ingin menjadi pantas untuknya, aku ingin diterima oleh keluarganya, aku ingin...aku ingin... tapi itu dulu...
kini aku mengerti dan bisa menerima, karena seseorang telah membangunkan aku dari lamunan panjang tentang nya. aku mengerti kalau mencintai bukan berarti memiliki. mengerti kalau Allah pasti punya rencana indah untuk ku. yah, memang hanya Allah yang pasti mencintai umat-Nya tanpa pernah meninggalkannya.
kini aku dapat dengan tegas mengatakan 'selamat tinggal' pada bayangnya, dan aku ikhlaskan hatiku untk menunggu seseorang yang dikirimkan Allah untuk ku.
ya Allah... aku serahkan semua rencana hidup dan matiku pada kuasa-Mu...

Read More...