"Silahkan mengutip sebagian atau seluruh tulisan di blog ini dengan SYARAT mencantumkan penaripena.blogspot.com"

Semakin

semakin sering teringat
semakin terasa adanya keanehan dalam hati
semakin banyak kenangan masa lampau yang terbayang
semakin resah
semakin sedih
semakin bertanya-tanya dalam kepala
semakin sukar dimengerti
semakin banyak kata "semakin" yang merisaukan isi dada
semakin rapuhlah ia
semakin!!!

Read More...

dengan janji-janji indahnya

mengenangmu...
lagi-lagi melahirkan kengiluan
di bilik-bilik urat nadi yang hampir berhenti,
dan menyebut namamu...
menghujamkan berbagai kepenatan
dari setiap lisan yang mendaratkan suara di gendang telinga,
memikirkanmu...
memberangus impian masa depan
yang terbangun dari kekosongan topeng balut pakaian,
berkata dalam hentakan perasaan
menunjukkan besarnya penyesalan setelah pertemuan
bernyanyi di keramaian orang
menutupi keberkabungan tercampakkan wangi tutur kata
yang membuat cedera
terasa sekali cengkraman sepi
mengoyak isi kepala yang sedang berdendang ceria
menyuguhkan malapetaka bak prahara durja
dikeganasan berita hempaskan sisa-sisa usia

TERIMAKASIH!


yogyakarta, (kutulis ini untuk membelenggu nafsu yang tak jemu menghantuiku dengan janji-janji indahnya YANG SEMU DAN PALSU di 9 hari sebelum datangnya bulan suci, mari mempersiapkan diri...)

Read More...

kekasihku...

kekasihku adalah buku yang takkan muak denganku
meski harta menjadi sedikit dan ketampanan mulai susut
buku sang pujaan hatiku, di kala tak ada tambatan kalbu
kan kurayu jikalau dia memahami rayuan kalbu
buku... teman setiaku kala duduk, yang takkan merasa jemu
penjelas kebenaran yang tak membuatku jemu
buku... lautan yang takkan menarik pemberiannya
membanjiriku dengan harta, meski harta menahannya
buku... petunjuk terbaik untuk meraih asaku
darinya selalu ada pengalaman baru dan penerang langkahku

Sya'ir ini karya Ibnul A'rabi (penulis Al-Gharib)

Read More...

kadang laki-laki juga membutuhkan kecengengan

aku kembali berdiskusi dengan hangatnya malam, dan mereka tau disini aku kedinginan.
mencoba bercengkrama bersama ributnya suara, dan mereka tau disini hening dan diam.
berpesta ria dalam gempita ramainya manusia, dan mereka tau disini tak ada siapa-siapa.
aku merindu riang canda tawa mereka.
utuh dikesatuan keluarga.
dalam dekap hangat kebersamaan.
Ibu.
Bapak.
Gara.
Gia.
tersenyumlah.
dalam dua purnama kusongsong kalian disana.
dengan izin Allah tentunya.
siapapun yang membaca suaraku ini.
janganlah beritahu mereka.
kerena tak mau kerinduan tak tertahankan juga melanda keluarga.
karena kau pun tentu tahu.
bahwa kadang laki-laki juga membutuhkan kecengengan.

Read More...

Nuzulul Qur’an : Perintah Membaca Dan Menulis

Sekedar artikel pendek menyambut Nuzulul Qur’an. Malam 17 Ramadhan merupakan event yang diperingati umat Muslim sebagai malam diturunkannya Al Qur’an. Wahyu Pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril adalah Perintah Membaca. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Maha Mulia. Yang Mengajari (manusia) dengan Pena. Dia Mengajarkan Manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al ‘Alaq: 1-5). Ada dua kata yang menjadi sorotan Saya, yaitu Baca dan Pena. Saya mengaitkan antara Perintah Membaca dengan Mengajari Manusia Dengan Pena sebagai simbol Perintah Membaca dan Perintah Menulis dalam Nuzulul Qur’an yang intrinsik di dalamnya. Jadi, antara membaca dan menulis, bagi saya merupakan bagian dari perintah wahyu yang saling berkaitan.

Bukankah Al Qur’an sendiri merupakan manifestasi dari dua unsur perintah wahyu tersebut berupa bacaan dan tulisan? Dan karena menulis itu proses mengabadikan, maka penulisannya yang seperti sekarang ini, mudah dibaca diterjemahkan dan dipahami, menjadikan Al Qur’an abadi di tengah kehidupan manusia. Perintah Membaca dan Menulis inilah yang menurut saya merupakan bagian dari Mukjizat Al Quran untuk peradaban umat manusia sehingga mereka menjadi mahluk yang berilmu dan berpengetahuan. Mengapa? Karena tolak ukur peradaban manusia antara lain diukur dari kadar intelektualitas, ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya. Ini juga berarti pula bahwa Al Qur’an sangat menjunjung tinggi pentingnya manusia untuk menggali ilmu pengetahuan melalui aktifitas membaca dan menulis. Dan kita pasti tahu bahwa sekumpulan ilmu dan pengetahuan, banyak kita temui dari, di, dalam dan melalui bacaan dan tulisan, bukan?

Ada saat di mana manusia sama sekali tidak melek aksara atau huruf. Ada saat di mana manusia harus mengekspresikan rangkaian aksara dan huruf menjadi sebuah kalimat, paragraf kemudian menjadi bab, sub bab dan bahkan menjadi sebuah buku. Sebagai sumber ilmu dan pengetahuan, buku juga merupakan manifestasi dari gabungan antara bacaan dan tulisan.Dari buku pula, manusia tidak hanya berilmu pengetahuan, melainkan manusia juga berkesempatan untuk meraup penghasilan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Memang, setiap orang memiliki kemampuan menulis, dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Setiap orang juga semestinya memiliki kemampuan untuk membaca. Tapi, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menuangkan tulisan dan melakukan aktifitas pembacaan, juga karena keterbatasan yang dimilikinya, termasuk keterbatasan media yang digunakannya.

Ketika blog menjadi media menulis dan membaca yang efektif, maka ini bagian dari praksis ilmu dan pengetahuan manusia yang sudah berkembang hingga saat ini. Menjadi blogger identik dengan menjadi penulis, ini sesuatu yang sangat layak untuk disyukuri. Karena hanya dengan demikian kita bisa merasakan betapa nikmat Tuhan begitu besar telah diberikan-Nya kepada kita; nikmat berupa kemampuan untuk membaca dan menulis sebagai gerbang ilmu pengetahuan.

Bacalah dengan menyebut Nama Tuhanmu. Tulislah dengan tetap mengingat akan kebesaran Tuhanmu. Happy Reading, Happy Writing, Happy Blogging.

Sumber:

http://kangnawar.com/tips-menulis/nuzulul-quran-perintah-membaca-dan-menulis

Read More...

5 Tips Agar Menulis Menjadi Mudah

Seringkali dari kita bila sedang membuat suatu tulisan, apakah itu bersifat ilmiah ataupun juga non ilmiah, beban perasaaan yang membelenggu dari beberapa faktor seperti rasa takut yang berlebihan terhadap tulisan kita sendiri, biasanya yang paling umum rasa tidak percaya diri akan ‘kebenaran’ dan ‘kekuatan’ dari apa yang kita tulis. Hal itu sangat wajar terjadi, apalagi sebagian dari kita memang bukan berasal dari latar belakang penulis atau jurnalis. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah, menulis merupakan ketrampilan dasar yang bahkan seorang anak sekolah dasar pun mampu melakukannya. Rasa beban tersebut terjadi justru saat kita sudah punya banyak pengalaman dan pengetahuan, karena disitulah sumber utama masalahnya. Semakin pintar diri kita pasti berbanding lurus dengan semakin banyakanya analisa dan logika yang dominan di kepala kita.

Beda dengan orang yang punya sedikit pemikiran, kemungkinan besar ia akan bisa menulis dengan beban yang ringan karena yang banyak berperan adalah sisi kreatifnya di otak kanan yang tidak terlalu peduli dengan analisa logika otak kiri. Beberapa tips yang mungkin bisa kita terapkan untuk mendobrak belenggu dalam semangat menulis antara lain :

1. Menulis adalah Kesenangan, bukan hanya games atau nonton bioskop saja yang bisa bikin kita senang, imajinasikan saat jemari kita menulis saat itulah sebenarnya kita sedang ‘bermain’ dengan kata-kata terangkai. Tidak perlu khawatir bahkan bila kosa kata kita agak berantakan, yang penting
setiap huruf mengalir begitu saja sesuai dengan perasaan yang kita ciptakan tadi, menulis adalah kesenangan.

2. Menulis adalah Berbicara, ini agak aneh memang, tapi saat kita menulis coba khayalkanlah bahwa kita ’sebenarnya’ ini sedang ngobrol dengan teman-teman kita. Saat imajinasi itu terjadi, saat itu pula kata - kata akan meluncur dengan deras layaknya sedang berbicara dengan teman-teman. Jarang sekali kita terlalu banyak berpikir sebelum berucap saat sedang ngobrol. Semuanya berlangsung spontan dan lugas.

3. Menulis berarti Berbagi, seperti halnya amal, setiap tulisan karya kita, sedikit banyak pasti dan harusnya bermanfaat untuk orang lain. Itulah sebenarnya kunci utama dalam kegiatan menulis. Kita membuat tulisan dan orang lain membacanya. Ada hubungan tidak langsung antara apa yang kita berikan dalam bentuk tulisan dengan kemajuan atau kesuksesan orang yang membacanya. Tidak selalu harus uang untuk beramal, tulisan juga bisa kok.

4. Menulis berarti Membebaskan, dalam tulisan fiksi berupa cerpen atau novel, kita mendapat kesempatan yang sangat luas dalam berekspresi. Seorang penulis fiksi bebas berimajinasi terhadap keadaan, sang tokoh, alur cerita dll. Dalam kata lain, saat Anda menulis cerita, Anda adalah ’sang pencipta’. Ekspresikan diri kita sepuasnya karena ranah ini benar- benar milik kita.

5. Menulis berarti Hidup, mirip sebuah iklan rokok, “bikin hidup lebih hidup”, mungkin seperti itulah perumpamaannya. Saat kita melakukan kegiatan tulis menulis saat itu pula kita seakan digiring ke sebuah fenomena aktualisasi diri. Menulis berarti menghidupkan jiwa kita dalam bentuk karya tulis. Menulis tidak hanya sekedar kegiatan layaknya makan minum, tapi lebih bermakna dalam, utamanya seperti bernafas, sudah menjadi bagian diri kita. Menulis adalah kehidupan kita.

Saat saya menulis posting ini, sebenarnya sudah dalam keadaan ngantuk berat, hehehe maklum sudah tengah malam. Tapi itu tidak sedikitpun menyurutkan semangat saya untuk mengupdate Blog ini. Sesuai dengan 5 Tips tadi, benar-benar saya terapkan saat saya sedang menulis postingan ini. Hasilnya adalah postingan ini bisa selesai ( sambil kepala naik turun ‘meladeni’ kantuk). Jadi jaga terus semangat Anda untuk tetap menulis karena ini mungkin salah satu jembatan kita untuk saling mengenal dan berteman. Menulis sebanyak mungkin dan saling memberi semangat ! Ada yang ingin menambahkan ? Silahkan.

Sumber:

http://www.kodokijo.net/5-tips-menulis-menjadi-mudah.html

Read More...

Dan kita sudahi saja sampai disini

gelisah memantapkan dominasi
satu persatu kenangan antri
melumpuhkan jiwa yang hendak menari
hujan deras seolah berkehendak mewakili
manis pelangi pun mencoba untuk menghibur hati
tapi gelisah telah sempurnah menguasai
bersekutu bersama kenangan-kenangan kami
akan tetapi
jiwa yang sepi
takkan sampai mati meski sakitnya terus menggerogoti
dan ia akan terobati
oleh dirinya sendiri
aku pun sudah tak punya kata berakhiran -i
dan kita sudahi saja puisi ini
sampai disni...

Read More...

SAKIT ! TERIMAKASIH...

percuma!
jika percaya ketika ada yang mengatakan ia cinta
malang!
jika kepayang ketika ada yang mengatakan ia sayang
buang waktu!
jika terharu ketika ada yang mengatakan ia rindu
karena
cinta sayang dan rindu
hanyalah permainan nafsu
untuk memenjarakan kenangan
yang takkan bisa kau hapus hanya dengan lelehan air mata
bahkan kau tukarkan dengan usia
tetap akan sia-sia
padahal setiap langkah Semeru
disongsong hingga kepuncaknya Mahameru
berharap bisa menghapuskan kenangan
namun apa yang menjangkit?
namun apa yang dirasa?
namun apa yang ada?
SAKIT!
dan
akankah manusia sadar
bahwa dirinya telah menjelmakan kesakitan
yang teramat sakit untuk yang tersakiti?
ku tak yakin hakikatnya manusia itu akan mengetahui
kecuali ia telah merasakan kesakitan yang serupa
dengan manusia yang telah ia sakiti
wahai adam,
janganlah kau sakiti hawa
karena ia akan terluka
dan kau takkan pernah mampu menyembuhkannya
meski kau baluri ia dengan seluruh darah di tubuhmu
wahai hawa
janganlah kau lukai adam
karena ia akan tersakiti
dan kau takkan bisa memulihkannya
meski kau obati sampai kau mati
peliharalah cinta sayang dan rindu kalian sewajarnya
supaya tidak terlukai dan tersakiti
TERIMAKASIH!

Read More...

menunggu padam

cahaya kenangan menusuk
dengan jutaan keindahan
yang telah dipahat
diantara kebersamaan

retaklah seisi perasaan
disaat cermin bayangan
merajam tuk menghentikan
irama hentakkan jantung

perlahan
sangat pelan
pelita hati
mengecil
dan
sebentar lagi
menunggu padam

Read More...

belum berjudul

“Buta ya!!! Nabrak orang sembarangan!!!!” Tumbukan lemah menghentikan langkahku keluar dari gerbang bar yang semalam kusinggahi.
“Maaf, saya memang buta Mas….” Gadis manis itu meraba sekitarnya dengan gagap. Selintas terusik benakku ketika memandangnya. Tapi itu tak berlangsung lama, aku masih setengah sadar dari teler. Cara jalanku yang sempoyongan rupanya tak disadari gadis itu dan dikiranya dia yang menabrakku. Kupandangi wajahnya, ayu sekali, perlahan dahinya berkerut. Mungkin bau wine masih menguar dari mulut dan tubuhku. Sembari terpana aku beranjak, ah sudahlah, masa mesti malak orang buta, belum tentu dia punya duit. Aku melenggang santai ketika tanganku diraihnya. Hey….diraih?? bukannya dia buta??
“Maaf, apa Mas terluka??” Kukibas tangannya, “Aku tak apa” kulirik mata kosongnya, “cemaskan saja dirimu…” cengkeramannya tak mau lepas, “Maaf, saya rasa, Ibumu sedang sakit Mas…” Aku bingung, ‘ibu?’ gadis ini sinting apa aku yang tak waras? Kepalaku berdenyut-denyut, akh….wine semalam lebih keras dari biasanya. Kutoleh gadis buta yang melangkah pergi begitu kutinggalkan ia, aku tak punya niat buat bertanya apa maksud kata-katanya barusan, otakku sudah terlalu penat buat berpikir.
***
Geragapan aku bangun di sela bantal basah penuh keringat kamar apartemenku. Handphone yang tergeletak tak jauh dari ranjang bergetar tak henti, kuraih lalu kudekatkan ke telinga tanpa melihat siapa nama peneleponnya.
“Alo…?”
“Hallo Gi?? Kamu dimana? Gi, ibu kritis…mungkin akan segera dijemput, kau bisa kemari? Beliau pesan supaya…”
“Aku kesana…!” Serabutan kuraih kunci mobil dan bergegas keluar, tak peduli seperti apa penampilanku sekarang. Pulang!!

Read More...

31

Jakarta,Mei 2031
"Sang Hyang Keadilan...tunjukkan jalan....", Darsiman mengusap keningnya lalu melangkah keluar kantor.
---
"Pak Hakim, saya harap anda mau menerima oleh-oleh yang tak seberapa ini..." selembar amplop tebal disorongkan ke hadapan Darsiman.
"Kalau anda pikir saya sama seperti hakim lain, anda salah sangka..." Darsiman memejamkan mata, "saya sudah lama tak tergiur pada harta...."
Si tamu melirik, menebak-nebak benak Darsiman, menimbang-nimbang sesuatu, "Kalau begitu..."
"Saya juga tak tertarik pada perempuan, istri saya sudah lebih dari cukup buat saya...."
Darsiman memandang tamunya yang mulai gelisah.
"Sebenarnya saya masih punya satu kartu yang mungkin akan mengharuskan bapak untuk menuruti kemauan saya...tapi...." si tamu geligutan si kursinya.
Darsiman mendengus, "Katakan saja..."
"Sungguh pak, saya sendiri ragu akan mengatakannya, ini juga terlalu berisiko buat saya....saya rasa bapak sudah tau yang saya maksud, sungguh saya gamang jika harus mengatakannya pada bapak...." keringat mengaliri wajah si tamu.
"Katakan saja, jangan membuat saya jadi terlalu berminat untuk mengadili saudara juga...." Darsiman tersenyum tipis, bukannya sudah cukup atasan saudara saja yang diadili?"
Si tamu tertegun, memandangi Darsiman dengan bingung, "Anda pasti tahu kan yang saya maksud, jadi apa perlu saya katakan?"
"Saudara sepertinya yakin sekali bahwa saya tahu apa yang saudara maksud..." Darsiman memandang tamunya menyelidik, membuat si tamu gelisah.
"Katakan saja, saya tak terlalu suka dengan basa-basi..."
Si tamu menarik napas, "Baik saya katakan..."Si tamu mengusap keringat dinginnya, " Bapak..." satu tarikan napas, "Bapak hakim yang terhormat..." satu tarikan napas panjang, "Bapak adalah penganut agama terlarang ke 31." si tamu melirik pada Darsiman, memastikan reaksinya, tapi kemudian kecewa karena Darsiman memasang muka dingin, "saya punya bukti mengenai itu, saya bisa saja melaporkan bapak jika bapak tidak mengikuti anjuran saya untuk meringankan tuntutan pada atasan saya...." Darsiman merasakan getar suara tamunya, ah, sepertinya ini tak akan lama....
Darsiman tersenyum sejenak, "ya...saya memang penganutnya, dan saya akan dengan senang hati memberi tahu anda satu hal baik..." Darsiman menunggu reaksi tamunya, ketika tak ada sahutan apa pun, Darsiman melanjutkan, sebenarnya agama nomor 31 itu bukan agama, itu hanya ikatan persaudaraan....hanya beberapa bait kalimat yang diucapkan saat akan masuk ke ruang pengadilan." Darsiman mengusap tumpukan file di hadapannya, "Saya sendiri punya agama yang sah dan anda tak perlu tahu agama saya, yang perlu anda tahu, sebagian besar hakim yang menjunjung keadilan mengikuti ikatan ini." Memandang sekali lagi ke tamunya lalu melanjutkan, "Satu lagi, ikatan persaudaraan ini punya perjanjian dengan negara, bahwa satu sama lain tidak akan saling mengganggu selama interaksi kami menguntungkan. Jadi tidak ada gunanya anda menyogok maupun mengancam saya, karena bagi negara, tindakan mengadili atasan saudara yang menjadi penggelap pajak adalah sebuah keuntungan." Tamunya tertegun. Ini saatnya mengakhiri sebelum si tamu membantah kata-katanya.
"Nah...saya rasa cukup sekian penjelasan saya, saya harap saudara berkenan meninggalkan ruangan ini, saya masih punya cukup banyak pekerjaan yang lebih bisa saya pentingkan daripada harus melayani anda. Sampai jumpa di pengadilan." Darsiman menyalami tamunya sembari menuntun menuju pintu sementara si tamu masih dengan susah payah mempercayai apa yang didengarnya. Setengah jam...ah tidak, 31 menit, dan satu pembicaraan tak penting disudahi.

Read More...

You Know Poo??

Hari pertama ketika aku memutuskan menulis, hari itu juga aku dihadiahi seekor peliharaan. Tak tahu siapa yang mengirim, tiba-tiba saja benda berisik itu sudah bertengger di samping meja yang biasa kupakai menulis. Terbungkus kertas kado cokelat dan terdengar bunyi “duk…duk….kruduk…kruduk…” ketika diguncang dan didekatkan ke telinga. Seketika aku yang penasaran membuka bungkusannya dengan membabi buta. Sepersekian detik sejak kubuka kardus dalam bungkus kado itu…melompatlah mahluk yang sekelebat berwarna kuning ke wajahku…menghambur dan mematuk-matuk dengan riangnya…ya ampun…bocah…ribut amat… begitu pikirku… Masih terkejut dan gelagapan karena dapat serangan tiba-tiba, aku cuma bisa tertegun ‘burung?’. Makhluk itu diam seolah tau yang kupikirkan. Dia melayang ke pinggiran meja, berkedip lalu membuka mulutnya lebar-lebar dengan galaknya seolah memberi salam perkenalan. Seekor kenari rupanya, tapi anehnya selain kuning dan ribut, kuperhatikan ternyata bagian perutnya tak ditumbuhi bulu sedikitpun…botak… Hatiku mencelos…ou ou…
Tiga hari sejak itu aku mulai terbiasa dengan polahnya. Binatang kecil ini selalu buang air dengan tertib dan membuat sarang sendiri di atas lemari pakaianku, yang masih membuatku heran hingga sekarang, kotorannya tak pernah bau lho, malah bisa dibilang dia jarang sekali buang air di kamar. Kandang burung yang aku beli sehari setelah aku dikejutkan oleh kehadirannya tak jadi kugunakan buat mengurungnya. Si kenari selalu terlihat frustrasi tiap kali ku masukkan ke sarang, tak tega aku melihatnya. Akhirnya karena bingung kubiarkan dia membuat sarang seenaknya diatas lemariku dan kubuka jendela lebar-lebar biar dia bebas keluar masuk sesukanya. Oh iya, biar kuberi tahu pada kalian, burung kenari ini tak bisa dilihat orang lain, Cuma bisa dilihat olehku, hoho…ajaib ya… itu segera kusadari karena tiap kali aku beranjak keluar dari kamarku, dia langsung nongkrong dengan nikmatnya di bahuku, dan ternyata tak ada orang yang terusik dengan keberadaannya. Wow…
Kenari kecil bernama Poo ini punya kebiasaan super unik dan menyebalkan. Hmm…sebelumnya biar kuberi tahu satu hal, kalian pasti bertanya kenapa dia bisa kunamai Poo…padahal Poo itu kan…yap…Poo = ee, habis aku sudah tak ada ide buat menamainya, memang apa lagi nama yang cocok buat burung kuning...hmm....kuning lah pokoknya. Sekarang akan kuceritakan soal kebiasaan menyebalkan si Poo. Sebenarnya dia bisa dikatakan manis andai saja ia tak pernah menggangguku tiap kali ritual menulis hendak kulakukan. Tiap kali pena hendak kujangkau, atau folder kumpulan cerpenku kubuka, dengan lembutnya Poo menggesek-gesekkan bulu-bulu sayapnya di pipiku. Entah sihir apa yang ia hembuskan, saat itu juga ide yang sudah hampir tersalurkan di lembaran-lembaran kertas menguap tak tentu tujuan…duh…melongolah diriku memandangi embrio ceritaku yang beterbangan dengan bebasnya. Ideku hilang, lenyap, otakku hang. Kalian tau bagaimana sedihnya? Rasanya menangis saja tak cukup jadi obatnya. Waktu pertama Poo bertingkah begitu, kupikir itu bukanlah ulahnya…yah…paling emang lagi apes. Akhirnya sehari terlewati tanpa satu pun karya tercipta.
Hari berikutnya, aku yang sudah mantap dengan ide dalam kepalaku dengan hati-hati mulai menggores pena. Lega karena tak ada gangguan membuatku lengah dengan keberadaan Poo. Ternyata ia sudah bertengger di ujung kertas yang sedang kutulisi. Kalian tau? Tak cuma satu yang bertengger disana, ada lima Poo! Dari mana burung sebanyak itu? Aku pura-pura acuh akan hal itu dan kembali menulis. Baru selesai satu kata, tiba-tiba POP! Muncul seekor Poo lagi berbaris dengan Poo-Poo yang lain, masih heran, aku menulis satu kata lagi. POP! Lagi, lagi, lagi…arrgghhhh!!! Kosentrasiku buyar, pena pun tergelincir dari tangan dan Poo-Poo itu lenyap, tapi sebelum lenyap, mereka meninggalkan bulatan-bulatan kotoran burung di kertasku, tersisa satu Poo yang kukenal, ia mengedip-ngedip seolah menggodaku…ARRRRGHHHH…. MENYEBALKAAAAANNNN…!!! Sebenarnya setelah kupikir lagi di kemudian hari, aku jadi sedikit sangsi, mungkin Poo bukan muncul karena tiap kata yang kutulis dengan penaku tapi justru karena aku lah yang sejak awal tak konsentrasi, baru menulis satu kata langsung teringat satu urusan, satu kata lagi ingat urusan yang lain, begitu seterusnya. Mungkin Poo itu cuma kambing hitam ya..
Euhm…tapi tidak juga, setelah kupikir lagi, Poo memang makhluk usil, buktinya ketika aku mulai jenuh di tengah proses menulis, dialah yang jadi sensor paling sensitif, dia dengan sengaja buang air atau bertingkah lucu hingga perhatianku teralih dan tulisanku terhenti di tengah jalan. Ketika ingin melanjutkan ternyata kucuran ide sudah berhenti, ah payah… Tidak, Poo sebenarnya tak bersalah, aku memang orang yang mudah tergoda, dan godaan terbesarku ya…Poo…hehe. Kukatakan satu hal. Aku sudah tau bahwa Poo bukanlah binatang biasa, dia adalah sisi lain dariku, yang ‘buruk’ mungkin…tapi yang jelas dia ‘mengganggu’ ketika aku tak menginginkannya.
Poo bisa jadi adalah godaan, tapi apa mau dikata, dia juga bagian jiwaku dan aku tergantung padanya, paling tidak aku jadi tak begitu merasa bersalah karena ada Poo yang menyelamatkanku dari rasa berdosa akibat tulisan yang tak kunjung selesai. Euhm…aku jadi terpikir untuk mendapat peliharaan baru yang bisa jadi lawan Po…peliharaan yang isinya semangat, kreatifitas, juga ide-ide yang mengalir lancar. Mungkin kalau aku punya satu peliharaan lagi, Poo tak akan kesepian dan akan berhenti menggangguku. ^_^

Read More...

Penari Pena, Dari dalamnya hati sampai ke tingginya puncak merapid

jum'at 2 april 2010 (kudedikasikan untuk adik2ku di Komunitas Penari Pena), kami ber 15 naik gunung merapi di Yogyakarta, banyak hal luar biasa yang didapat di ketinggian 2980 meter diatas permukaan laut itu, terutama kami bertemu dengan 4 amazing child (usianya rata2 9 tahun), mereka bisa mendaki sampai ke puncak bersama ayah2nya, kami bisa, mereka bisa, kenapa anda tidak mencobanya?











Read More...